Adhi Karya Jajaki Dua Lini Bisnis Baru | Investor


JAKARTA – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berencana ekspansi dua lini bisnis baru, yaitu penyewaan pipa untuk industri minyak dan gas (migas) serta bisnis pengolahan air bersih. Ekspansi tersebut akan direalisasikan mulai akhir tahun ini.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengatakan, binsis penyewaan pipa untuk industri migas tergolong menguntungkan (profitable). Model bisnsi tersebut sudah berjalan lama di Kalimantan maupun Jawa. “Nanti kami membangun pipanya dan pengguna akan menyewa, seperti rental,” jelasnya di Jakarta, Rabu (24/5).

Bisnis penyewaan pipa kemungkinan direalisasikan awal tahun depan. Perseroan juga belum menentukan mitra strategis untuk menjalankan bisnis tersebut. Setelah ada deal dengan sejumlah pihak, barulah perseroan mendirikan anak usaha baru khsusus menggarap bisnis pipa.

Sementara, bisnis pengolahan air bersih masih memasuki tahap kajian. Rencananya Adhi Karya menggandeng investor asal Korea Selatan, K-Water, akan mendirikan usaha patungan (joint venture/ JV) tahun ini, sehingga pengerjaan proyek pertama pengolahan air dapat dilakukan akhir 2017.

Menurut Budi, proyek pertama yang digarap adalah pengolahan air bersih di Banten untuk menyuplai kebutuhan air di Jakarta. Nilai investasinyabisa mencapai Rp 4 triliun. Sedangkan sumber investasi akan berasal dari penyertaan ekuitas sebesar 35% atau sebesar Rp 1,4 dan sisanya berasal dari dana pinjaman. “Kami ingin menjadi mayoritas di JV,” tutur Budi.

Masuknya Adhi Karya ke bisnis pengolahan air bersih sejalan dengan pengembangan proyek infrastruktur pemerintah yang gencar membangun bendungan.

Selain masuk ke lini bisnis baru, Adhi Karya berencana memisahkan (spin off) dua divisi bisnisnya menjadi anak usaha baru. Keduanya adalah divisi yang menjalankan bisnis transit oriented development (TOD) dan hotel. Keputusan spin off bertujuan untuk menciptakan bisnis Adhi Karya bisa lebih fleksibel mencari sumber pendanaan dan mandiri. Aksi ini akan direalisasikan tahun ini.

Obligasi Berkelanjutan
Sementara itu, perseroan secara resmi meluncurkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) Adhi Karya II senilai Rp 5 triliun. Untuk tahap pertama, emiten ini bakal menerbitkan obligasi sebesar Rp 3,5 triliun.

Perseroan telah menunjuk Bahana sekuritas, BCA Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas, sebagai penjamin pelaksana emisi (underwriter) emisi obligasi. Adapun, kupon obligasi yang ditawarkan tersebut berada pada rentang 8,75-9,5% dengan bertenor selama lima tahun.

Perseroan menetapkan masa penawaran awal (book building) obligasi tersebut berlangsung pada 24 Mei – 8 Juni 2017. Selanjutnya tanggal efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan diperoleh 16 Juni 2017. Perseroan menargetkan obligasi dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 23 Juni 2017.

Dana hasil obligasi ini akan dimanfaatkan untuk melunasi oblgasi sebelumnya sebesar Rp 375 miliar, melunasi sukuk yang jatuh tempo sebesar Rp 125 miliar, dan sisanya Rp 800 miliar akan digunakan untuk penyertaan modal pada anak usaha.

Suntikan modal anak usaha diberikan kepada PT Adhi Persada Gedung (APG) sebesar Rp 500 miliar dan PT Agung Persada Beton (APB) sebesar Rp 300 miliar. Penyertaan modal teresbut dilakukan dalam rangka menunjang proyek-proyek kereta api ringan (light rail transit/ LRT). Kemudian sisanya akan digunakan untuk modal kerja.

Menurut Direktur Keuangan Adhi Karya Haris Gunawan, alasan perseroan mengalokasikan modla kerja dan penyertaan modal anak usaha adalah untuk meningkatkan nilai aset perseroan melalui utilitas aset berupa tanah yang dimiliki perseroan. “Juga untuk meningkatkan marjin keuntungan serta diversifikasi usaha,” kata dia.


Investor Daily

Muhammad Rausyan Fikry/GOR

Investor Daily

http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/725×460-2/1491305338.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments