Belajar dari Kegagalan Bisnis Pertama Ala Calista Salim


SURYA.co.id | SURABAYA – Melakoni bisnis online bukan perkara yang gampang. Meski didukung fasilitas dan internet berkecepatan tinggi, namun apabila nilai-nilai kewirausahaan tak terjaga, maka bakal sia-sia pula hasilnya. 

Hal itu dibagikan oleh Calista Salim. Perempuan yang lahir di Surabaya pada 25 Februari 1996 ini ingin menjadi enterpreneurship dengan menjalankan bisnis online baju perempuan. Namun kurangnya pengalaman menjaga perjanjian dengan suplier, membuat bisnis ini gagal dan berganti bisnis lain.

Calista menjelaskan, sejak awal kuliah atau pada 2015 lalu, dia memang berniat untuk bisnis online. Selain menambah pengalaman, gadis yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra ini ingin menjadikan bisnis ini sebagai langkah mendapat nafkah ketika lulus nanti.

“Saya memilih bisnis baju perempuan, karena untungnya cukup bagus. Saya juga bisa berlatih berbisnis dan bakal dikembangkan kalau sukses,” papar pehobi main piano ini.

Calista kemudian bertemu dengan suplier pakaian dari Jakarta dan mengikat perjanjian dan distribusi pakaian ke Surabaya. Dari situ, dia mulai berjualan secara online. Tak kurang dari teman-teman kuliahnya tertarik membeli jualannya.

Namun, baru tiga bulan berjalan, bisnis ini tersendat karena Calista memutus kerjasama dengan suplier itu. Dia menilai, ada beberapa perjanjian yang diingkari suplier, sehingga dia memutus distribusi baju cewek itu.

“Ada yang tak sesuai, seperti pengiriman baju yang pakai kotak kardus, ini malah pakai kertas coklat. Lagipula, suplier itu juga menyertakan barcode logo mereknya. Padahal ini tak ada dalam perjanjian, sehingga saya putus,” ujar perempuan yang kuliah di jurusan marketing.

Karena belum berpengalaman, dia cukup hati-hati bekerjasama dengan suplier baju cewek. Dia pernah mencari suplier di Bandung dan Jakarta, namun gagal karena model bajunya tak cocok dengan selera pasar. Akhirnya dia berhenti pada bisnis online baju cewek.

“Rupanya saya tak cocok untuk bisnis baju perempuan,” katanya.

Baca: Gagal Jualan Baju, Moncer di Bisnis Jilbab

Meski gagal, namun dia tak jera mencoba bisnis lain. Dia lalu diminta ibunya untuk ikut pelatihan membuat kue kering.

Tak disangka, kue kering menjadi jalannya untuk kembali berbisnis. Begitu mahir membuat kue kering, dia mencoba berjualan lewat online. Tak dinyana, banyak konsumen yang membeli kue buatannya itu.

Dia menjual kue seperti nastar, castangel dan mini cookies dengan harga antara Rp 30-70 ribu.

Banyaknya pesanan membuatnya bakal mengembangkan bisnis ini setelah lulus kuliah nanti. “Berbisnis memang tak bisa langsung sukses. Terkadang gagal, tapi harus tetap coba lagi. Yang penting harus kreatif dan belajar dari kesalahan,” katanya. 

http://cdn2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/calista-salim_20170709_215254.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments