Bisnis Jamu Herbal Nguter Kian Lesu -Soloraya » Harian Jogja


Pemilik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) jamu Suti Sehati, Sutiyem, 49, menata produk jamu buatannya di Pengkol RT 001/RW 002, Nguter, Sukoharjo. (JIBI/SOLOPOS/Dian Dewi Purnamasari)Pemilik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) jamu Suti Sehati, Sutiyem, 49, menata produk jamu buatannya di Pengkol RT 001/RW 002, Nguter, Sukoharjo. (JIBI/SOLOPOS/Dian Dewi Purnamasari)

Industri Sukoharjo, bisnis jamu di wilayah Kecamatan Nguter tahun ini makin lesu.

Harianjogja.com, SUKOHARJO — Bisnis jamu herbal di wilayah Kecamatan Nguter kian lesu pada Lebaran tahun ini dibanding 2016 lalu. Permintaan jamu herbal turun dan berimplikasi pada anjloknya omzet pengusaha.

Pengurus Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo, Mulyadi, mengatakan permintaan jamu herbal tak seramai Lebaran 2016. Kala itu, Mulyadi melayani order jamu herbal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, hingga luar Jawa.

Kini, hanya beberapa pelanggan setia yang memesan jamu herbal dalam jumlah besar. “Mungkin berbarengan dengan masa pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru [PPDB]. Masyarakat butuh uang untuk membayar registrasi dan uang gedung sekolah,” kata dia kepada Solopos.com, Senin (3/7/2017).

Kondisi ini otomatis memengaruhi omzet penjualan jamu herbal setiap bulannya. Misalnya, omzet penjualan jamu mencapai Rp100 juta setiap bulan. Kini, omzet penjualan jamu maksimal mencapai Rp90 juta/bulan.

Kondisi berbeda terjadi saat Lebaran 2016 lalu. Saat itu, Mulyadi dan para pengrajin jamu herbal lainnya kebanjiran order dari para pelanggan setelah Lebaran. Mereka kewalahan menerima order dari pelanggan.

“Saat Lebaran tahun lalu, order dari pelanggan cukup banyak. Kami harus lembur kerja setiap hari lantaran saking banyaknya pesanan dari konsumen,” ujar dia.

Pemilik Jamu Bisma Sehat ini mengungkapkan masyarakat merespons positif terhadap jamu herbal yang diproduksi di wilayah Nguter. Para calon konsumen kerap menyambangi Pasar Jamu Nguter untuk melihat produk-produk jamu herbal.

Apalagi terdapat beragam jenis produk jamu yang ditawarkan kepada konsumen. Misalnya, jamu beras kencur, kunyit asam, paitan, dan gepyokan. Konsumen bisa memilih jenis produk jamu sesuai selera dan khasiat.

“Kami memproduksi sekitar 60 item jenis jamu. Rata-rata setiap produsen jamu memproduksi lebih dari 50 item jamu,” terang Mulyadi.

Hal senada diungkapkan pengrajin jamu herbal lainnya, Slamet. Kebutuhan masyarakat membengkak saat Lebaran. Harga kebutuhan pokok membubung tinggi di pasaran.

Apalagi, masa libur Lebaran berbarengan dengan pendaftaran PPDB di semua jenjang sekolah. Sebagian pelanggan mengalokasikan dana untuk membayar registrasi sekolah.

Biasanya, mereka memesan jamu herbal dalam jumlah besar untuk stok persediaan selama beberapa bulan. “Saya bisa memaklumi kondisi ini. Mau bagaimana lagi karena saat ini masyarakat butuh dana segar untuk membayar biaya sekolah siswa baru,” tutur dia.

Slamet memproduksi sekitar 50 item jamu herbal herbal yang dapat diklasifikasikan untuk anak-anak, dewasa pria, dewasa wanita, dan lanjut usia. Kini, para pengrajin jamu juga melayani pembelian jamu lewat online untuk memudahkan para pelanggan. Hal ini dilakukan para pengrajin jamu selama dua tahun ini.

http://images.harianjogja.com/2013/05/2005deaSutiSehati.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments