Bisnis Keripik Buah Dua Sahabat


Berangkat dari keinginan membesut bisnis sendiri, Chandra Suhandi dan Lius Kasdianto mendirikan bisnis keripik buah. Usaha yang mereka rintis belakangan membesar, bahkan diakuisisi salah satu grup perusahaan di Indonesia dan sukses menembus pasar ekspor.

Mereka berdua lulusan Teknik Sipil Universitas Tarumanagara. Waktu kuliah, mereka nyambi kerja di kontraktor, seperti halnya teman-teman mereka. “Gajinya rata-rata kecil padahal kerjaannya cukup berat. Dari situ kami terpikir membuka usaha,” ungkap Lius kepada SWA di kantornya, Jalan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Suatu hari di tahun 2011, Lius mendapat kiriman oleh-oleh keripik buah dari Thailand. Saat itulah Lius dan Chandra merasa mendapat panggilan bisnis yang tepat. “Di Indonesia waktu itu belum ada keripik buah yang sehat. Waktu itu musimnya makanan yang banyak vetsinnya seperti keripik. Nah, kami melihat healthy snack seperti keripik buah pasti berkembang,” ujar Lius, kelahiran Jambi tahun 1989.

Lius dan Chandra pun meriset pembuatannya. Lalu, membeli mesin pengolahnya seharga Rp 11 juta di Surabaya, lalu diboyong ke dapur mereka di Bogor. “Kami menyebut proses pengolahannya divakum, jadi kadar minyak dan airnya disedot. Teknologinya kami namai slow cook dengan panas 70 derajat Celcius. Jadi, kadar airnya tidak berkurang. Gampangnya, masak sup itu kan makin asin karena airnya menguap. Nah, contohnya seperti itu, hanya bedanya kami divakum,” kata Chandra, kelahiran Bogor tahun 1988.

Banyak uji coba untuk menemukan resep awal yang tepat. Pelajaran yang didapat saat pelatihan menggunakan mesin itu ternyata tak banyak bermanfaat di lapangan. Pasalnya, beda buah, beda perlakuan. “Waktu itu kami diajari menggunakan mesin dengan mengolah buah pisang dan terlihat mudah. Ternyata memang buah pisang prosesnya paling mudah. Ketika dibawa ke Bogor dan pakai buah lain, prosesnya sulit setengah mati,” ungkap Lius yang menangani bagian distribusi dan penjualan, sementara rekannya menangani produksi.

Setelah uji coba berkali-kali, setahun kemudian atau akhir 2012 ditemukan berbagai resep pengolahan buah menjadi keripik seperti pisang, nangka dan salak. Adapun keripik apel dan nanas yang pengolahannya dianggap paling sulit baru dirilis tahun ini.

Produk keripik buah yang diberi merek Fruchips itu sejak awal memang disasarkan untuk pasar menengah. Sekantong Fruchips kemasan 40 gram dibanderol Rp10 ribu-15 ribu, tergantung pada jenis buahnya. Chandra dan Lius mengaku tidak menggunakan bahan campuran apa pun ke dalam produknya, sehingga biaya harga pokok produksinya cukup tinggi dibanding camilan ringan lainnya yang berukuran sejenis.

Lantaran modal mereka sangat minim, Lius dan Chandra sangat hati-hati memilih pemasok buah. Demi menekan biaya, mereka sampai nongkrong di depan Pasar Induk Kramat Jati, Jl. Raya Bogor, Jakarta Timur, untuk mencari pemasok berharga miring. “Kalau beli di dalam pasar, harganya sudah mahal. Di depan pasar kan banyak sopir truk dari luar kota. Mereka kami tanya, bawa buah apa? Dari mana? Misalnya salak banyak dari Jawa Tengah, nanti kami minta kontaknya, dan mereka akhirnya jadi pemasok kami,” tutur Chandra.

Anggaran pemasaran juga ditekan sehemat mungkin. Mereka menggunakan jalur daring dan media sosial untuk mempromosikan produknya. Bazar-bazar di Jakarta pun gencar mereka sambangi demi memperkenalkan Fruchips.

Tak disangka, melalui bazar itu, jalan mereka ke pasar modern terbentang. Ceritanya, dalam satu kesempatan bazar di Grand Indonesia, ada seorang Manajer Promosi Indomaret yang menyambangi gerai Fruchips. Setelah mencicipi keripiknya, beberapa hari kemudian manajer tersebut menghubungi kembali dan kemudian memperkenalkan Lius dan Chandra ke bagian pengadaan produk Indomaret. “Mereka rupanya tertarik pada produk kami. Produk kami kan berkerja sama dengan petani lokal,” Lius mengenang.

Chandra menambahkan, salah satu faktor pemikat Fruchips adalah kemasannya yang atraktif dengan desain yang terkesan premium. “Teman kami dari jurusan desain yang merancangnya. Jadi, dapat desain bagus dengan harga teman,” ungkap Chandra.

Dari situ, jalur sukses terbuka lebar. Terlebih, pada akhir 2014 Fruchips diakuisisi Grup Kimas Sentosa, kelompok usaha yang bergerak di berbagai bidang seperti telekomunikasi dan laundry. Dengan menjadi bagian dari korporasi besar, langkah penjualan Fruchips pun makin gencar dan masuk ke toko modern lainnya seperti Hero, Loka, Total, All Fresh, Alfamidi, toko-toko buah, dan minimarket di berbagai apartemen.

Selain jangkauan kian meluas, pabrik Fruchips yang bernaung di bawah bendera PT Atala Inti Mandiri turut membesar. Demi mendekatkan dengan pusat bahan baku, pusat produksi dipindah ke Jawa Timur di pabrik seluas 3.000 m2 didukung empat mesin. “Untuk satu bungkus Fruchips, bahan bakunya bisa dari 1-5 buah segar. Kalau kirim ke Jakarta nanti berat di ongkos. Jadi, biar efisien, dibangun pabrik di sana, dekat bahan baku,” ujar Chandra.

Total produksi Fruchips per bulan mencapai 40 ribu kantong dan tahun ini ditargetkan dua kali lipat. Selain itu, pasar ekspor baru siap digarap. “Kemarin baru kirim ke Korea Selatan. Tahun ini, targetnya ada lima negara, di antaranya kami fokus ke Amerika Serikat dan Australia,” kata Chandra. Memanfaatkan MEA, negara-negara di kawasan ASEAN juga akan dibidik seperti Thailand, Malaysia dan Singapura. Juga, China yang pasarnya besar.

Hutama Putra Kimas, Direktur Strategi Merek Grup Kimas Sentosa, menyebutkan, perusahaannya tertarik mengakuisisi Fruchips lantaran kualitasnya yang mumpuni. “Produk mereka bagus dan mereka juga bercita-cita untuk tetap terlihat lokal. Akhirnya, kami bantu supaya bisa lebih masif dengan memindahkan pabrik dan masuk ke ritel,” ujar Putra. Dengan dukungan Kimas Sentosa, kini Fruchips menyebar di 2.000 gerai di Pulau Jawa, Sumatera Selatan dan Bali.

Alan Karyono, direktur PT Borwita Citra Prima yang mendistribusikan Fruchips di Ja-Tim, menyebutkan pihaknya berhasil memasukkan keripik buah tersebut ke berbagai minimarket dan supermarket lokal di daerahnya seperti Bonnet, Pelangi, Ria, Talia, Rungkut Jaya, dan Master. “Setiap bulan terjual 200 bungkus dan terus bertambah,” ujarnya.

Alan berharap Fruchips lebih meningkatkan promosinya sehingga lebih mudah dikenali masyarakat. “Brand awareness-nya harus lebih dibangun lagi, terutama di Surabaya karena masih kurang dikenal,” katanya memberi saran. (*)

Aulia Dhetira dan Eddy Dwinanto Iskandar

https://gimg.kumpar.com/kumpar/image/upload/w_1200,c_fill,ar_40:21,g_face,f_jpg,q_auto/Keripik_Buah_Fruchips_mri3be.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments