BIsnis Koperasi di Indonesia Belum Tergali Maksimal


BANDUNG, (PR).- Kementerian Koperasi dan UKM dan Dewan Koperasi Indonesia beserta berbagai pemangku kepentingan tengah merumuskan apa yang akan diusung pada Kongres Koperasi ke-3 tahun ini. Dengan demikian, Indonesia dapat mengambil peran dalam bisnis koperasi di dunia yang selama ini belum tergali optimal.

Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia Agung Sudjatmoko mengatakan, semua pemangku kepentingan terkait perlu membahas potret pembangunan koperasi Indonesia dalam 30 tahun ke depan. Dalam Kongres Koperasi ke-3 nanti, dia meminta adanya diskusi dan evaluasi secara total bagaimana tahapan pembangunan koperasi Indonesia.

“Kongres ini adalah reafirmasi atau menegaskan kembali dan rekomitmen yaitu membangun kembali komitmen sistem perekonomian Indonesia dan peran koperasi,” kata Agung pada Focus Group Discussion bertema “Roadmap Pembangunan Koperasi Indonesia 2017-2045” di Hotel Ibis, Bandung, Senin 6 Maret 2017..

Dalam kongres koperasi nanti, Agung meminta adanya penekanan pada peran koperasi. Setelah melihat pertumbuhan dan bisnis koperasi di dunia, ternyata koperasi punyai kap bisnis yang tidak bisa diremehkan.

Dia mengungkapkan, bisnis koperasi terbesar di dunia berada di Amerika Serikat yang menghasilkan 736 triliun dolar AS. Selanjutnya, Jerman dengan 400 triliun dolar AS, Prancis 300 triliun dolar AS, dan baru masuk negara Asia Jepang sekitar 240 triliun dolar AS.

“Kalau kita cari dalam 30 besar negara, ga ketemu Indonesia. Dari negara Asia yang masuk hanya enam, yaitu Jepang, Korea Selatan, India, Arab Saudi, yang terakhir Malaysia dengan 3 triliun dolar AS,” tuturnya.

Padahal, ungkap Agung, jumlah populasi Malaysia hanya 28 juta jiwa, sedangkan Indonesia sekitar 255 juta jiwa. Sayangnya, Indonesia masih kalah dalam bisnis koperasi secara internasional.

Dia pun mempertanyakan apakah bisnis koperasi Indonesia memang kecil atau tidak ada data yang konkret dibandingkan negara lain. Dengan demikian, Indonesia belum bisa meyakinkan atau belum ada bisnis koperasi dalam negeri yang bisa bekerja sama dengan bisnis global.

Untuk itu, dia mengaku sepakat dengan pendapat Rektor Ikopin Burhanuddin Abdullah bahwa semua pihak perlu merumuskan dan meminta masukan dari pemangku kepentingan terkait yang untuk dirangkum oleh Steering Committee Kongres Koperasi.

“Nanti akan kita roadshow kan ke lima provinsi untuk mendengar aspirasi dan menambah bahan apa yang akan kita putuskan dalam kongres nanti,” ucapnya.

Selain akan roadshow, pihaknya akan merumuskan deklarasi kongres koperasi seperti halnya deklarasi pada kongres pertama dan kedua. Kongres pertama menghasikan 12 keputusan, tetapi yang sudah konsisten dilaksanakan baru pelaksanaan Hari Koperasi tanggal 12 Juni.

“Kongres kedua lebih banyak lagi hasilnya. Saya ga hapal karena ada a, b, c. Yang konsisten kita laksanakan adalah mengangkat Bung Hatta sebaai Bapak Koperasi,” ujarnya.

Hadir dalam FGD tersebut, yakni Sekretaris Kemenkop dan UKM Agus Muharram, Rektor Institut Koperasi Indonesia Burhanuddin Abdullah, Asdep Tata Laksana Koperasi Kemenkop dan UKM Sugiyono, Sekjen Dekopin Hanafiah Sulaiman, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Dudi Sudrajat, serta tamu undangan dari birokrat dan akademisi.***

http://www.pikiran-rakyat.com/sites/files/public/styles/medium/public/image/2017/03/koperasi.JPG?itok=VdJq1jiO



Sumber Artikel

Komentar

comments