Bisnis MLM Kerap Dicap Negatif, Apa Penyebabnya?


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bisnis multi level marketing (MLM) pada dasarnya cocok untuk berkembang di Indonesia. Hanya pada praktiknya, bisnis model ini banyak mendapat imej negatif dari masyarakat.

Presiden Direktur K-Link Indonesia MD Radzi Saleh mengatakan, sejak pertama kali membawa K-Link ke Indonesia ia optimistis bisnis model ini dapat berkembang.

“Karena sesuai dengan populasi masyarakat Indonesia yang besar, sehingga dapat menciptakan banyak lapangan kerja untuk masyarakat,” kata dia dalam seminar tentang MLM Syariah beberapa waktu lalu.

Namun kenyataanya tidak sedikit masyarakat justru yang memandang negatif bisnis model ini. Hal ini menurut Radzi tidak lepas dari para pemain MLM itu sendiri.

Menurut Radzi, imej negatif ini tidak hanya karena manajemen perusahaan MLM yang tidak baik, tapi juga individu pelaku bisnis ini. Umumnya, termasuk para leader di MLM, memiliki kelebihan dalam berkomunikasi. Mereka pandai dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.

Nah banyak yang berlebihan menggunakan ‘senjata’ itu. Mereka menyampaikan yang berlebihan pada konsumen sehingga pada akhirnya masyarakat kecewa,” kata dia.

Praktik seperti ini semakin lama semakin besar karena tidak adanya pengawasan atau sanksi tegas dari manajemen.

Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Sofwan Jauhari mengatakan, hal tersebut juga semakin diperparah karena hingga kini belum adanya regulator yang mengawasi praktik MLM, khususnya Syariah.

MUI, kata dia, hanya dapat menempatkan Dewan Pengawas Syariah untuk memantau praktiknya berjalan sesuai syariah atau tidak. Bukan untuk menindak atau memberi sanksi bagi yang melanggar praktik MLM.

“MLM di Indonesia ada 400, yang memiliki izin hanya 80, dan yang lulus sertifikasi syariah hanya lima. Tapi sering kali lima MLM ini tidak dapat mempertahankan, hanya K-Link yang terbukti mempertahankan selama tiga kali periode,” kata dia.

“Kalau ditangani serius pemerintah, market share dan prospek MLM syariah mungkin lebih besar dari perbangkan syariah,” jata dia.

Lebih lanjut Radzi mengatakan, K-Link selalu berusaha mempertahankan sertifikasi syariah yang didapat sejak tahun 2009 lalu. Sedangkan untuk para member ia menekankan bahwa MLM bukan sekadar bisnis, tapi membangun sebuah karier.

“Saya selalu bilang setidaknya sediakan waktu selama 12 bulan untuk belajar membangun karier. Dan selalu ikuti apa yang boleh dan tidak dilakukan. Insya allah bisa berkembang bersama,” ujar dia. 

http://static.republika.co.id/uploads/images/headline_slide/seminar-tentang-mlm-syariah-_170610075408-318.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments