Bisnis Ritel Melambat, Bangun Stimulus Pendorong Daya Beli


Ilustrasi – Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha meminta pemerintah membuat stimulus yang  mendorong daya beli masyarakat. Penurunan daya beli konsumen pada momentum Lebaran memukul kinerja penjualan.

Pertumbuhan sektor ritel biasanya berada di atas pertumbuhan ekonomi yaitu mencapai 7%—8%. Sementara kinerja petumbuhan ritel di semester pertama diperkirakan hanya separuhnya, yakni di kisaran 3,5%—4%.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman menyatakan pemerintah perlu segera mengantisipasi perlambatan bisnis ritel dengan memberikan stimulus pendorong daya beli.

Sebab, penguatan indikator ekonomi secara makro nyatanya berbanding terbalik dengan kinerja penjualan sektor riil.

“Saya sudah sampaikan ke Pak Darmin Menko Perekonomian, mengapa kok indikator makro dan sektor riil seperti tidak nyambung. Padahal Indonesia sudah masuk investment grade, cadangan devisa dan pertumbuhan ekonomi bagus, tapi penjualan ritelnya malah jatuh,” ujar Adhi di Kementerian Perindustrian, Senin (10/7).

Menurutnya, pemerintah mesti mewaspadai situasi itu mengingat pertumbuhan sektor ritel jarang bergerak di bawah pertumbuhan ekonomi. “Pemerintah harus sadar kondisi ini agak rawan. Perlu segera diantisipasi, kalau sudah terlanjur jatuh terlalu dalam mungkin agak berat untuk mengangkatnya lagi,” kata dia.

Di samping itu, pemerintah jangan menerapkan kebijakan yang membuat konsumen menahan belanja. ”Sekarang itu banyak konsumen dan distributor yang ketakutan, terutama terkait perpajakan, kalau belanja merasa dimonitor pemerintah. Itu yang harusnya dihindari,” ujar dia.

Adhi menyatakan situasi yang memperlihatkan pelemahan daya beli tak bisa direspons dengan berbagai regulasi yang menghambat industri. Terutama terkait regulasi yang mempersulit pabrikan domestik memperoleh bahan baku, seperti rencana implementasi lelang gula rafinasi. “Bagi industri pada saat ini yang penting pemerintah menjamin kepastian usaha.”

Investor di sektor makanan minuman juga terganggu dengan pembahasan sejumlah beleid menyangkut sumber daya air. Pembahasan rancangan aturan itu turut menggangu keberlanjutan bisnis pengusaha air minum dalam kemasan. “Otomatis dampaknya mengganggu investasi baru karena menyangkut kepastian usaha,” ujar dia.

Adhi tak ingin pelemahan sektor ritel tak menjatuhkan kinerja penjualan sektor industri makanan minuman. Adhi berharap sektor industri makanan minuman tetap dapat tumbuh di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi, yakni 7%—8% di akhir tahun.



Sumber Artikel

Komentar

comments