Bisnis Rongsokan, Bisnis Dengan Keuntungan Besar dan Dapat Membantu Sesama


Bagi sebagian besar, rongsokan merupakan yang layak dibuang, tidak dapat dipakai lagi, tidak ada manfaatnya. Tetapi, siapa yang dapat menyangka dari -barang tersebut tersimpan yang besar? Di tangan para pelaku di bidang ini, rongsokan seperti kaleng, , plastik, kaca hingga kardus justru menjadi sumber kehidupan utama.

Sejak matahari terbit, satu per satu mendatangi gudang barang rongsokan yang berjejer di sepanjang jalan di Desa Pangurangan. Di sini, hampir tidak ada lagi udara segar, karena sudah tercampur dengan aroma barang rongsokan yang bercecer di jalanan. Barang-barang tersebut sudah tidak dapat dimuat di dalam gudang.

Setelah terkumpul, barang rongsokan tersebut akan dimasukkan ke dalam kontainer hingga penuh. Barang tersebut biasanya dikirim ke besar di Jakarta, Tangerang, Surabaya dan sejumlah daerah lainnya.

Haji Kusyono, pemilik bisnis rongsokan dulunya merupakan seorang polisi. Ia mulai meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2000, dan mulai menggeluti bisnis tersebut. “Saya mencoba membeli dan mengumpulkan barang rongsokan hanya sedikit pada 1990. Tetapi, hampir setiap mendapatkan gaji bulanan (sebagai polisi), sekitar tiga juta , pembelian barang rongsok terus saya tambahkan. Sampai akhirnya, saya beranikan diri pensiun dini pada usia ke 49 pada tahun 2000.” ujarnya.

Sekitar tahun 2000, ia mampu mengeluarkan modal sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta untuk membeli 20 hingga 50 ton barang rongsokan dalam satu hari. “Kalau lagi ramai dan dibutuhkan pabrik, saya bisa kirim sampai 50 ton lebih dalam satu hari. Untungnya cukup besar, sampai Rp 120 juta. Kalau waktunya pulang, saya langsung bayar gaji karyawan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, bergantung pekerjaannya.” tambah Kusyono.

Keberhasilannya mengelola bisnis rongsok, dapat dilihat dari jumlah luas gudang yang ia miliki. Kini, Kusyono memiliki sekitar 7 gudang barang rongsokan, 10 rumah, 6 hektar sawah dan beberapa kendaraan. Ia juga sudah beberapa kali menunaikan ibadah haji beserta keluarganya.

Barang rongsokan tidak hanya dapat membawa keuntungan materi untuk pemilik atau karyawannya, tetapi juga bagi anak-anak yang putus sekolah. Baru-baru ini, Forum Beasiswa Rumah Rongsok Cegah Anak Putus Sekolah mencetuskan ide mengumpulkan barang bekas untuk selanjutnya dan dijadikan beasiswa bagi mereka yang membutuhkan. Ide ini dipelopori oleh Ahmad Chusaini. Ia merupakan seorang guru di SMK Lembaga Pendidikan Islam (LPI) di Kawasan Menoreh Utara 11 Kota Semarang.

“Anak-anak ini saya ajak mencari benda bekas untuk kemudian dibawa pulang kembali ke sekolah. Hasil pengumpulan barang-barang rongsok nantinya dijual dan uangnya dipakai beasiswa,” terangnya.

Diakuinya, pemerintah telah menyediakan operasional sekolah (BOS). Namun, beasiswa ini diperuntukkan terutama bagi siswa di sekolah swasta. Kegiatan yang dilakukan mirip dengan bank sampah, siswa-siswi SMK LPI mengumpulkan sampah dari donatur barang bekas dan lain-lain.

http://kursrupiah.net/wp-content/uploads/Bisnis-Rongsokan.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments