Bisnis Siap Ekspansi | Investor Daily


Bisnis Siap Ekspansi
Selasa, 8 Agustus 2017 | 11:06

Pembangunan infrastruktur yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto ilustrasi: AFP
Pembangunan infrastruktur yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto ilustrasi: AFP

Pertumbuhan ekonomi paruh pertama
tahun ini memang sedikit menurun dibanding periode sama tahun lalu. namun, pada
semester kedua dipastikan melaju, didorong berbagai faktor positif global
maupun dalam negeri. Para pelaku usaha di Tanah air pun tetap ekspansif,
seiring perkiraan kondisi bisnis yang membaik hingga akhir tahun.

 

Badan Pusat statistik
mencatat, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada semester I-2016 mencapai
5,05%, setelah pada kuartal I dan II masing-masing tumbuh 4,91% dan 5,19%. Untuk
kuartal III dan IV masing-masing 5,02%, dan kuartal IV 4,94%, sehingga pertumbuhan
sepanjang tahun lalu sebesar 5,02%.

 

Sedangkan pada semester I
tahun ini, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01%, setelah pada kuartal I maupun II masing-masing
mencatatkan pertumbuhan 5,01%.  Namun
demikian, pada kuartal III dan IV mendatang, ekonomi diperkirakan tumbuh lebih
baik.

 

Membaiknya ekonomi itu
diindikasikan dengan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan III-2017 yang diperkirakan
mencapai 108,82. Ini berarti, secara umum, kondisi bisnis pada triwulan
III-2017 bakal meningkat dibanding triwulan sebelumnya, meski tingkat optimisme
pelaku bisnis diperkirakan sedikit menurun dibanding triwulan II. Indeks ini
diperoleh dari survei Tendensi Bisnis (sTB) yang dilakukan oleh BPs bekerja
sama dengan Bank Indonesia, dengan melibatkan responden para pimpinan dari ribuan
perusahaan besar dan sedang di seluruh provinsi di Indonesia.

 

Pada triwulan III-2017,
kondisi bisnis seluruh kategori lapangan usaha diperkirakan meningkat.
Peningkatan bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha
administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib dengan
perkiraan nilai ITB sebesar 130,88. sementara itu, peningkatan bisnis yang
terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha jasa perusahaan dengan
perkiraan ITB 101,03.Meski harus ada extra effort, pertumbuhan ekonomi kita
masih bisa dikejar sesuai target 5,2% dalam aPBn-P 2017.

 

Untuk mencapai target itu,
pada semester ini, pertumbuhan harus digenjot minimal 5,39%. Untuk memperbaiki
kondisi ekonomi, pertama-tama secara psikologis pemerintah harus mampu
memompakan optimisme. Ini terutama dengan serius menggenjot realisasi government’s
spending  untuk mendongkrak pertumbuhan
ekonomi pada semester ini.

 

Pemerintah harus mau
memperbaiki diri, mengingat buruknya realisasi belanja pemerintah telah
terkonfirmasi pada pengeluaran konsumsi pemerintah yang hanya tumbuh 0,03% pada
semester pertama 2017, jauh di bawah pertumbuhan PDB nasional 5,01%. Untungnya,
pengeluaran konsumsi rumah tangga yang menyumbang separuh lebih PdB rI masih
bisa tumbuh 4,94% dan investasi (pembentukan modal tetap bruto) 5,07%.

 

Di tengah masih belum
pulihnya ekonomi global maupun domestik, belanja pemerintah wajib diperbesar untuk
lebih menggerakkan ekonomi. Meski bukan penyumbang PdB yang terbesar, kenaikan
realisasi belanja pemerintah untuk sektor produktif – terutama infrastruktur
penting – akan memunculkan gairah baru swasta untuk lebih banyak berinvestasi.

 

Sebagian pengusaha yang kini
masih menahan investasi juga akan terdorong ekspansi dan menyerap banyak tenaga
kerja, sehingga daya beli dan belanja masyarakat pun menguat. Oleh karena itu,
ke depan, kementerian/lembaga perlu mendapatkan insentif dan disinsentif
berdasarkan besaran realisasi penyerapan anggaran dan percepatan pencairan pada
semester akhir ini.

 

Jika realisasinya jauh di bawah
target dan pencairannya hanya menumpuk di akhir tahun, maka anggaran tahun
depan harus dipangkas dan sebaliknya. Demikian pula harus ada insentif dan
disinsentif untuk mengefektifkan pengelolaan dana transfer daerah dan dana desa
yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, yang belum signifikan
menggerakkan ekonomi daerah. dari dana transfer ke daerah dan dana desa yang
anggarannya naik menjadi rp 766,3 triliun pada APBNP 2017, sebanyak Rp 222,59
triliun dana pemda masih disimpan di perbankan.

 

Hal ini sangat ironis di
tengah kebijakan kementerian keuangan dan ditjen Pajak yang terus mengejar
pajak para pengusaha yang telah membayar kewajibannya. Bahkan, masyarakat yang daya
belinya tertekan kenaikan tarif listrik dan gas pun masih akan dinaik-kan
pajaknyakedua, pemerintah bersama otoritas yang lain juga harus bersinergi untuk
meningkatkan market confidence.

 

Kebijakan pemerintah harus
ditingkatkan kualitasnya, misalnya melalui paket-paket ekonomi yang secara
teori memang bisa membangun keyakinan pasar. namun, di sisi lain, kebijakan yang
tidak konsisten dalam pelaksanaannya – seperti yang tercermin dalam 15 paket
sebelumnya – justru menjadi bumerang, karena malah bisa menim-bulkan
ketidakpercayaan (distrust) para pelaku pasar.

 

Oleh karena itu, pemerintah
harus lebih serius dengan mulai mengeluarkan kebijakan yang betul-betul efektif
dan bisa diimplementasikan di lapangan. Paket kebijakan ekonomi ke-16 yang akan
dikeluarkan misalnya, harus sudah lebih dulu digodok antarkementerian, antarinstansi,
sekaligus melibatkan para pelaku bisnis, sehingga tidak ada yang bertentangan
dengan undang-udang ataupun menimbulkan benturan di lapangan.

 

Paket ini juga wajib dikeluarkan
setelah betul-betul siap saji alias langsung dilengkapi peraturan menteri,
surat edaran dirjen, hingga kesiapan petugas di lapangan dan sosialisasi kepada
masyarakat sebelumnya. kebijakan baru yang seketika dapat diimplementasikan, seperti
saat puncak kejayaan Orde Baru, akan menumbuhkan kepercayaan bahwa pemerintah
benar-benar mampu melakukan perbaikan iklim bisnis dan birokrasi, bukan sekadar
wacana

kepercayaan pasar ini
penting, karena menjadi salah satu dasar bagi pelaku bisnis untuk mengambil
keputusan.

 

Ini termasuk keputusan untuk membeli
atau menjual mata uang asing, yang pada akhirnya akan memengaruhi nilai tukar
rupiah yang berperan penting dalam pembentukan indikator ekonomi makro maupun
jalannya bisnis. demikian pula keputusan konsumen untuk membeli atau menunda
pembelian, yang selanjutnya memengaruhi permintaan terhadap produk atau tingkat
penjualan.

 

Yang tak kalah penting,
kepercayaan terhadap pemerintah ini juga harus ditingkatkan dengan menjaga optimisme
para pengusaha yang masih mau berinvestasi besar-besaran. Misalnya membantu
kemudahan perizinan, seperti dalam proyek Meikarta yang total nilai investasinya
mencapai Rp 278 triliun, yang sebagian besar dananya akan dibelanjakan untuk membeli
barang-barang produksi dalam negeri.

 

Gambaran tingkat kepercayaan
pasar terhadap ekonomi maupun iklim bisnis ini nantinya juga terlihat dari
pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia. Meningkatnya keyakinan para
investor dan membaiknya prospek ekonomi dipastikan kembali menarik pemodal
untuk masuk pasar saham, selain investasi langsung yang memberi-kan untung
lebih besar dalam jangka panjang.  (*)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Sumber Artikel

Komentar

comments