Bisnis Startup yang Merakyat akan Melesat


Ilustrasi Startup

Ilustrasi startup. (Foto: Pixabay)

Industri perusahaan rintisan atau startup di Indonesia terus menggeliat, seiring maraknya pengguna internet di Tanah Air. Namun, pemanfaatan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat dan bisa jadi peluang bisnis untuk startup?

Founder dan CEO DailySocial, Rama Mamuaya mengatakan, pada intinya startup merakyat atau yang bisa memnuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari akan lebih disukai oleh konsumen. Misalnya jasa pelayanan antar-jemput, bersih-bersih, reparasi ac.

“Yang bakal diterima di pasaran bukan yang menawarkan business line digital yang ribet, tapi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti layanan on-demand (jasa melalui aplikasi online). Sekarang kita butuh aplikasi-aplikasi mobile untuk mencari dokter, tukang bersih-bersih, makanan dan lain sebagainya,” jelas Rama kepada kumparan.

Jenis-jenis startup yang disebutkan Rama memang sudah banyak muncul sejak tahun lalu. Bahkan beberapa di antaranya langsung mendapatkan suntikan modal yang cukup besar.

HaloDoc, startup yang menawarkan jasa kesehatan, tahun lalu mendapat pendanaan senilai 13 juta dolar AS atau Rp 173 miliar (kurs Rp 13.308/dolar AS) dari sejumlah investor, salah satunya Gojek. Rencananya, Gojek memang kan mengintergrasikan layanan dokter mobile tersebut dengan layanan Gojek lainnya.

Untuk diketahui, HaloDoc mengklaim sebagai startup Indonesia yang merupakan aplikasi kesehatan seperti kotak P3K berjalan yang selalu di genggaman dengan memberikan kemudahan dalam menjaga dan memeriksa kesehatan pengguna.

Sementara itu, aplikasi penyedia jasa seperti perbaikan rumah atau servis AC, Sejasa.com juga tak luput dari lirikan investor. Sejasa tahun lalu mengantongi pendanaan sebesar 1 juta dolar AS dari Gobi Partners.

Sebagai informasi, Gojek tahun lalu mencatatkan raihan dana terbesar yang mencapai 550 juta dolar AS dari dari beberapa investor besar seperti KKR, Warburg Pincus, dan Sequoia. Pendanaan jumbo juga diraih oleh Tokopedia yang berhasil mendapatkan 147 juta dolar AS, dan MatahariMall yang meraih tambahan investasi 100 juta dolar AS.

Sementara itu, menurut survei DailySocial terhadap investor baru-baru ini, 60 persen mengatakan sektor fintech akan menjadi tren di 2017. Disusul sektor Software-as-a-Service (SaaS) yaitu adopsi perangkat lunak sebagai service atau layanan sebesar 20 persen, lalu e-commerce 10 persen, dan lainnya (revenue generating business) sebesar 10 persen.

Terkait tantangan yang akan dihadapi startup tahun ini, menurut Rama ada dua tantangan besar, yaitu talent (sumber daya manusia) dan infrastruktur.

“Pertama, kita kekurangan talent di bidang IT dan yang keahliannya fokus di startup. Lawyer atau notaris yang mengerti soal teknologi dan startup juga masih jarang, jadi musti ada peningkatan untuk itu,” imbuhnya.

Kedua, lanjutnya, penertrasi internet masih 30-35 persen dari populasi, padahal di luar Jawa banyak yang butuh informasi, dan akses ke fintech dan e-commerce. Namun ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam hal ini, terutama dengan proyek pembangunan Palapa Ring. Proyek ini adalah pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia, yang ditargetkan rampung pada 2019.

“Ini bagus ya menunjukkan dukungan pemerintah. Nanti kita liat eksekusinya seperti apa,” tuturnya.

https://res.cloudinary.com/kumpar/image/upload/w_1200,c_fill,ar_40:21,g_auto/atj71gs53aumwzjtpca0.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments