Bisnis Uang di Pinggir Jalan


JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang perempuan berkulit sawo matang dan bertopi bundar berjalan mondar-mandir di Jalan Lapangan Stasiun, Pinangsia, Jakarta Barat. Tangannya memegang bergepok-gepok uang rupiah keluaran terbaru. Di dalam tas ranselnya yang digendong menghadap ke depan, tersimpan lebih banyak lagi uang baru.

Pasaribu, namanya. Ia menjajakan uang rupiah cetakan terbaru. Dia bekerja persis di depan underpass penghubung Stasiun Jakarta Kota dengan Museum Bank Mandiri. Perempuan itu ternyata tidak sendirian.

Beberapa orang perempuan dan lelaki juga menawarkan jasa penukaran uang. Mereka beroperasi di sekitar Museum Bank Mandiri di kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Ada yang berdiri menunggu, ada pula yang berjalan ke sana ke mari menawarkan uang baru.

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, para penjaja uang baru di sekitar kota tua bertambah jumlahnya. Umumnya, mereka bekerja berkelompok. Berlembar-lembar uang rupiah yang totalnya mencapai jutaan rupiah itu akan ‘dibeli’ oleh orang yang ingin menukarkan uangnya menjadi pecahan seperti Rp 1.000,00, Rp. 2000,00, Rp5.000,00, Rp 10.000, dan Rp 20.000,00.

Cukup banyak orang yang berminat menukar uang. Pada hari lebaran, uang keluaran terbaru dibagikan pada sanak saudara, terutama anak-anak. Membagikan uang pada anak-anak atau kerabat yang lebih muda di hari raya sudah menjadi tradisi di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, menukar uang baru pada penjaja di sini tentu tidak bisa dengan jumlah yang sama. Anda harus membayar lebih mahal.

Pasaribu menegaskan bahwa uang yang ditawarkannya bukan uang palsu. “Uang asli lah ini. Nggak mungkin saya jual palsu, mana mau saya cari masalah,” katanya meyakinkan calon pembeli, Selasa siang (20/06/2017).

Perempuan yang berasal dari Medan ini mengatakan sudah melakoni profesi ini sejak 40 tahun yang lalu. Ia mengaku pekerjaan ini bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan, dia mampu membiayai pendidikan keempat anaknya hingga tingkat perguruan tinggi.

Dua tahun belakangan, ia bekerja di sekitar Museum Bank Mandiri. Sebelumnya, Pasaribu menjajakan uang di sekitar Terminal Pulo Gadung. Dengan alasan lebih dekat dengan tempat tinggalnya di Grogol, ia pun pindah ke kawasan Kota Tua Jakarta.

Keuntungan yang bisa dikantongi perempuan ini tidak sama setiap harinya. Besarnya keuntungan tergantung pada negosiasi dengan orang yang ingin menukar uang. Selain itu, jumlah orang yang berminat menukar uang juga menentukan keuntungan yang bisa diraupnya.

Rata-rata, Pasaribu dan para penjaja uang baru mengambil untung sekitar 10 hingga 35 persen dari nilai uang yang ditukar. Dia tidak bisa mengambil keuntungan terlalu tinggi karena calon penukar uang bisa pindah ke orang lain yang menawarkan harga lebih murah.

Jika ingin mendapat uang keluaran terbaru senilai Rp 500.000, maka Anda harus menyiapkan uang minimal Rp 550.000. Harga jual uang keluaran terbaru berbeda-beda, tergantung pada jenis pecahan yang dibutuhkan.

AUZI AMAZIA/KOMPAS.com Banyak calo yang melakukan transaksi penukaran uang rupiah keluaran tahun emisi 2016

“Iya mau bagaimana lagi? Saya beli paling mahal dari yang lainnya, jadi memang harus segitu harganya,” kilahnya.

Penjaja uang lain pun mengatakan uang pecahan RP 1.000 dan Rp 5.000,00 termasuk paling mahal. Karena, banyak orang membutuhkan uang pecahan tersebut. Ada yang menjual dengan mengambil keuntungan sebesar Rp 35.000,00 untuk penukaran uang senilai Rp 100.000. Dan berlaku pula untuk kelipatan selanjutnya.

Meski mahal, tetap saja ada orang yang mau membeli. Yuniawati (22), seorang mahasiswa arsitektur mengaku sempat ragu uang tersebut palsu. Namun, setelah meraba dan menerawang, ia yakin uang itu asli.

Dia merogoh Rp 1.000.000,00 dari kantongnya untuk mendapat uang baru senilai Rp 900.000,00 dengan pecahan Rp 2.000,00, Rp 5.000,00, Rp 10.000,00 dan Rp 20.000,00.

“Beli di sini karena titipan saudara. Tadi sempat ke bank (Mandiri), tapi sudah nggak ada uang baru. Adanya tinggal Rp 20.000,00, itu juga yang (cetakan) lama,” kata Yuni.

Dia rela membayar lebih demi mendapatkan luang cetakan terbaru. Segepok uang itu siap dibagikan saat lebaran nanti.

Kalau berminat, Anda bisa datang ke sekitar Kota Tua untuk menukar uang lama dengan uang cetakan teranyar.

http://assets.kompas.com/crop/0x17:1000×517/780×390/filters:watermark(data/photo/2017/05/29/20518069242.png,0,-0,1)/data/photo/2017/06/20/3020558719.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments