Bos Martha Tilaar dan Kamadjaja Group Berbagi Tips Bisnis


TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Setiap orangtua pasti menginginkan bisnis yang sekarang digeluti bakal diteruskan oleh keturunannya. Tetapi, tidak jarang si putra mahkota kurang percaya diri karena tak memiliki passion. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Penerus megabisnis Martha Tilaar, Bryan David Emil Tilaar, mengakui persoalan itu kerap dialami perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Ia pun berbagi pengalaman ketika mulai merintis karir di perusahaan keluarga.

“Terpenting, passion harus ada dan dikerjakan dengan rasa senang. Sukanya apa, dijalankan dulu,” ujarnya pada seminar bertajuk “Bongkar Rahasia Bisnis Keluarga” di Ballroom Wimarion Hotel, Semarang, Sabtu (10/6).

Ia mengaku, sejak kecil sudah dididik orangtuanya untuk ikut menggeluti bisnis keluarga. Hal itu membuat dirinya memiliki semangat, sejak masih duduk di bangku kuliah, untuk mengembangkan usaha orangtuanya.

“Dulu waktu kecil, tahun 1980an, ibu saya masih mengelola home industry. Setiap malam Minggu saya diajak jalan-jalan ke hotel bintang lima. Di situ ada fashion show. Bisnis orangtua saya kan berkaitan erat dengan kecantikan. Di situlah saya mulai dididik,” ujarnya.

Menurutnya, penerus bisnis yang bakal memegang tongkat estafet jangan dipaksa-paksa. Karena, kata dia, itu bisa menghambat jalannya bisnis ke depan. “Syukur bisa dua-duanya. Passion dan family bisnis berjalan bersamaan,” katanya.

Sebaliknya, Ivan Kamadjaja, generasi kedua dari Kamadjaja Group berkata, menggeluti bisnis keluarga sebaiknya dicoba dulu, meski awalnya tak sesuai dengan passion. Menurutnya, sebelum ia meneruskan bisnis orangtua di bidang logistik, dirinya sempat bekerja di perusahaan lain selama tujuh tahun.

“Waktu saya hampir lulus studi di Sydney (Australia), orangtua saya datang, menanyakan apa yang akan saya lakukan setelah selesai kuliah. Saya jawab kerja. Sebenarnya, itu bukan pertanyaan, tapi intervensi orangtua agar saya mau meneruskan bisnisnya,” kata dia, kemudian tertawa.

Dirinya menuturkan, saat pertama kali memutuskan nimbrung pada bisnis orangtua, ia merasa ada yang aneh. Karena bisnis orangtua sama sekali tak menarik baginya. “Namun, kemauan saya untuk mencoba dan belajar, lambat laun membuat saya nyaman,” kata Ivan.

Dirinya menuturkan, meski menjadi penerus bisnis orangtua, ia harus meniti karir dari bawah. Ivan menceritakan, dirinya juga harus berpanas-panas. “Saya juga ikut kirim barang. Ikut di truk, panas-panasan,” cetusnya.

Ivan pun berpesan, putra mahkota bisnis keluarga alangkah baiknya selalu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan. Baginya, itu menjadi lahan pembelajaran.

“Jadi, keputusan yang baik di perusahaan itu biasanya keluar dari perdebatan yang sengit. Namun, perdebatan pun harus argumentatif, jangan asal debat kusir. Si putra mahkota harus merasakan situasi seperti itu,” ujarnya. (Tribunjateng/Rifqi Gozali)

http://cdn2.tstatic.net/jateng/foto/bank/images/bongkar-rahasia-bisnis-keluarga_20170611_091050.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments