Dilema Bisnis Ritel | Investor Daily

[ad_1]

Dilema Bisnis Ritel
Oleh Delly Ferdian | Kamis, 9 Maret 2017 | 14:11

Delly Ferdian, Analis Ekonomi Politik Universitas AndalasDelly Ferdian, Analis Ekonomi Politik Universitas Andalas

Setiap
harinya, masyarakat akan selalu berbelanja, baik berbelanja barang
maupun jasa. Artinya, setiap harinya uang akan selalu berpindah
tangan dari satu tempat ke tempat lain, dan begitulah seterusnya.

Sederhananya,
masyarakat akan selalu berbelanja kebutuhan sehari-harinya kepada
para pengusaha barang maupun jasa. Khususnya barang, setelah terjadi
transaksi jual beli, maka pengusaha akan kembali memutar uangnya
untuk berbelanja modal. Begitulah sederhanya perekonomian itu
berputar.

Dalam
hal ini, wajar jika pasar konsumsi menjadi ladang yang cukup menarik
untuk digeluti. Oleh karena itu, sesuai dengan perkembangan zaman,
bisnis ritel modern telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat kekinian.
Bisnis ini pun menjadi salah satu alternatif terbaik untuk memungut
pundipundi rupiah dari masyarakat yang sibuk berbelanja.

Bayangkan
saja, jika setiap harinya masyarakat harus belanja, khususnya belanja
barang kebutuhan pokok sehari-hari, maka sektor bisnis ritel tidak
akan sepi dari transaksi jual beli. Hanya tinggal tergantung
bagaimana seorang pengusaha bisnis ritel tersebut berinovasi agar
tidak kalah dalam persaingan agar bisnisnya tetap menarik banyak
konsumen.

Namun,
perkembangan bisnis ritel di Indonesia yang begitu pesat beberapa
tahun belakangan ini juga menyimpan polemik. Sempat mengemuka wacana
untuk mendorong pemerintah agar melakukan moratorium bisnis ritel
jenis minimarket.

Pasalnya,
menjamurnya minimarket membuat ketimpangan semakin curam. Banyak yang
mengatakan bahwa, minimarket telah menggusur pasar “klontong”
bagi masyarakat kecil. Apalagi kenyataannya, banyak minimarket yang
telah mendominasi pasar, hanya milik segelintir orang saja.
Ujung-ujungnya, anggapan bahwa yang kaya akan semakin kaya, yang
miskin semakin merana tidak terelakkan lagi.

Ada
benarnya bahwa menjamurnya bisnis ritel semacam ini juga akan semakin
mendongkrak daya beli masyarakat, karena dengan otomatis akan
menumbuhkan lapangan pekerjaan baru. Namun yang banyak menjadi
pertanyaan, apakah masyarakat harus pasrah hanya menjadi pelaku
konsumsi saja tanpa mendapatkan keuntungan dari pesatnya pertumbuhan
bisnis ritel? Tentu saja tidak.

Akhir
tahun 2016 yang lalu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
bersepakat untuk terus menggenjot pertumbuhan bisnis ritel. Salah
satunya dengan cara ekspansi ke daerah Indonesia bagian timur.
Pasalnya, daerah Indonesia bagian timur dianggap masih sangat
prospektif untuk dikembangkan.

Selama
ini, masyarakat Indonesia bagian timur memiliki perilaku berbelanja
dalam jumlah besar pada hari-hari tertentu saja. Hal tersebut
salah
satunya disebabkan akses distribusi barang konsumsi yang masih sulit
sehingga biaya akomodasi menjadi mahal dan memengaruhi harga barang.

Oleh
karena itu, Aprindo sangat menunggu realisasi rencana pemerintah
melalui Kementerian Perdagangan untuk membangun gerai tol laut ke
daerah Indonesia bagian timur sehingga dapat memangkas biaya-biaya
dan ekspansi pasar ritel dapat segera diwujudkan. Pemerintah, bahkan
banyak pengamat ekonomi di Indonesia sangat sadar bahwasannya sektor
konsumsi masih menjadi primadona di negeri ini.

Konsumsi
masyarakat khususnya, telah menjadi penopang utama pertumbuhan. Maka
wajar apabila banyak yang berkicau dengan cibiran bahwa, “Pemerintah
tak perlu bekerja keras untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, hanya
dengan membiarkan masyarakat terus berbelanja, pertumbuhan ekonomi
Indonesia akan tetap menarik”.

Hal
tersebut cukup rasional, karena jumlah penduduk Indonesia sangat
besar dengan posisi ke-4 terbesar di dunia, membuat pasar konsumsi
sangat bergairah. Sederhananya, Indonesia adalah pasar konsumsi yang
sangat menggiurkan. Namun dalam hal ini, meskipun konsumsi berada
pada titik terbaiknya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih tidak
diiringi dengan kualitas yang baik.

Selain
faktor investasi padat modal yang terlalu gendut, pemerintah juga
tidak berbelanja secara berkualitas, artinya belanja tersebut tidak
efektif dan efesien, oleh karena itu tidak produktif untuk menambah
daya gedor pertumbuhan.

Walhasil,
ketimpangan masih menjadi permasalahan yang tidak mampu dipecahkan
sampai saat ini. Faktanya, berdasarkan data Global Wealth Report,
Indonesia menempati urutan ke-empat tertinggi dalam hal ketimpangan
setelah Rusia (74,5 %), India (58,4 %), Thailand, (58 %), dan
Indonesia (49,3 %).

Di
satu sisi, bisnis ritel memang sangat baik untuk dikembangkan. Dengan
omzet yang terbilang cukup besar pertahunnya, di mana pada 2015
mencapai Rp 181 triliun, Rp 191 triliun pada 2016, kemudian pada 2017
ini proyeksinya akan tumbuh lagi 10% yakni berkisar Rp 219 triliun.
Artinya, bisnis ritel dengan otomatis memberikan gairah terhadap
pertumbuhan. Namun, yang menjadi permasalahan adalah monopoli yang
terjadi dalam pasar bisnis ritel.

Lihat
saja, hampir di setiap kota di Indonesia telah dijajah oleh bisnis
ritel dengan beragam merek. Ekspansi brand
ritel
tertentu bahkan akhirnya menciptakan dugaan monopoli sehingga membuat
banyak pengusaha lokal menjadi sulit untuk berkembang. Selain karena
faktor modal, pengalaman dalam melakukan branding
menjadi
kendala utama para pebisnis lokal.

Dalam
konteks pasar, apabila terjadi monopoli, artinya masyarakat tidak
mampu untuk bersaing. Lemahnya daya saing inilah yang harus menjadi
prioritas pemerintah ke depan, tentu dengan harapan akan terjadi
pemerataan ekonomi pada kemudian hari.

Mendorong
Konsumsi

Transformasi
pasar tradisional menjadi pasar ritel modern memang sudah tidak
terelakkan lagi, namun kedua sisi ini baik pasar tradisional maupun
ritel modern memiliki keunggulan komparatif tersendiri. Dalam hal
ini, wacana melakukan moratorium bisnis ritel jenis minimarket saya
rasa penuh dengan dilema. Pemerintah memang wajib terus menggenjot
konsumsi masyarakat dengan terus membuka keterlibatan pihak swasta
untuk mendominasi pasar. Namun, menjamurnya bisnis
minimarket
juga berakibat banyak pengusaha kecil gulung tikar.

Bercontohlah
pada kasus di Sumatera Barat. Saya rasa, hanya Sumatera Barat,
provinsi di Indonesia yang melakukan proteksi ekonomi lokalnya dari
serangan pasar ritel jenis minimarket yang kian menjamur. Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat melarang beberapa merek minimarket ternama
untuk menggelar lapaknya.

Dalam
hal ini, awalnya saya meyakini bahwa upaya pemerintah melakukan
proteksi atau sama halnya seperti melakukan moratorium, ada baiknya.
Pasalnya, Sumatera Barat sangat potensial untuk perkembangan pasar
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tentu jika dihantam oleh
dominasi ritel modern ini, maka cukup rasional apabila nantinya UMKM
sulit untuk berkembang. Namun, bukan malah menyuburkan UMKM lokal.

Pemerintah
malah mendukung berdirinya bisnis ritel jenis minimarket dengan merek
“Minang Mart”. Minang Mart dirancang dengan skema dukungan dari
tiga BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yakni Jamkrida sebagai penjamin
kredit keuangan, PT Grafika sebagai supplier barang ke Minang Mart,
lalu Bank Nagari sebagai penyalur kredit bagi para pengusaha yang
ingin mendirikan Minang Mart.

Menurut
hemat saya, pendirian Minang Mart tersebut sangat tidak baik.
Pasalnya, selain membangun monopoli, Minang Mart nantinya akan
menjadi pesaing andal bagi para pengusaha ritel lokal. Karena selama
ini upaya memproteksi dari minimarket ternama telah berhasil
memberikan ladang bagi pengusaha ritel lokal untuk berkembang.
Kedatangan Minang Mart otomatis dapat memberikan ketegangan baru di
antara para pebisnis ritel lokal lainnya.

Bayangkan
saja, selain berani memasang harga miring, Minang Mart juga akan
dibangun sebanyak seribu gerai di Sumatera Barat. Ekspansi
besar-besaran ini akan mematikan bisnis klontong masyarakat. Alihalih
melindungi pengusaha kecil, dengan mendukung Minang Mart, artinya
pemerintah tidak konsisten dengan komitmennya, lalu dengan perlahan
membunuh perekonomian masyarakat dari dalam. Persaingan menjadi tidak
sehat, karena Minang Mart didukung pemerintah melalui BUMD.

Walaupun,
kabarnya kini Minang Mart yang telah berdiri murni milik swasta tanpa
campur tangan BUMD. Namun, kehadiran Minang Mart yang semakin
menjamur adalah kejahatan ekonomi yang nyata. Memproteksi dari
pesaing lain, lalu membuka besar-besaran bisnis serupa dari dalam,
sama artinya pemerintah telah mengganggu mekanisme pasar itu sendiri.

Sebenarnya
pemerintah tidak perlu melakukan hal demikian, membiarkan saja bisnis
ritel untuk tetap tumbuh sebagaimana mestinya adalah langkah yang
tepat untuk mendongkrak pertumbuhan yang nantinya akan berimbas
kepada pembangunan daerah maupun nasional.

Dalam
hal ini, jika banyak masyarakat yang takut tergusur oleh
klontong-klontong modern ini, pemerintah dapat memberikan arahan agar
pengusaha ritel mau membantu pemasaran produkproduk lokal. Saya yakin
langkah demikian cukup ampuh, tidak akan ada pebisnis yang menolak,
apalagi jika sama-sama mendapatkan keuntungan.

Yang
harus menjadi perhatian untuk mengatasi kesenjangan saat ini adalah
menemukan cara agar terjadi pertumbuhan bersama. Bukan pertumbuhan
yang bertumpu kepada keuntungan segelintir orang saja.

Pertumbuhan
bisnis ritel sesungguhnya sangat membantu pembangunan, selain
nantinya pemerintah akan terpacu membangun infrastruktur. Pertumbuhan
pasar ritel juga akan membantu penciptaan harga yang murah,
menumbuhkan lapangan pekerjaan dan tentunya terus menggenjot konsumsi
masyarakat yang sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Kini
ekonomi Indonesia harus didorong dari dalam, karena faktor eksternal
atau tekanan ekonomi global sangat tidak memungkinkan. Oleh karena
itu, konsumsi adalah jalan utama menggejot pertumbuhan ekonomi untuk
saat ini.

Delly
Ferdian,
Analis
Economic Action (EconAct) Indonesia


Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!

[ad_2]

Sumber Artikel

Bisnis
Agen Jual Genteng Murah Terlengkap 2017

jual genteng murah terlengkap 2017 merek terunggul. genteng alami ataupun lazim materi bakunya dibuat dari tanah alot yang berisi kaolin yang dikenal adalah salah 1 materi pabrikasi genteng ataupun bata. genteng tanah alot ialah genteng yang dibuat dari tanah alot yang ditekan ataupun di-press. selaku baluarti kontrol kepercayaan keluarga serta …

Bisnis
Daftar Harga Jasa Cuci Sofa Jakarta Murah Terpercaya

daftar harga pelayanan Jasa Cuci Sofa Jakarta Murah. menjemur jok springbed benar menginginkan durasi yang cukup lama tercantel dari seberapa besar kawasan yang kamu basuh. tidak tahu itu karna capek ataupun mau menikmati durasi senggang ketika lagi hari prei.menjamu basuh kursi cikarang & springbed di cikarang, bekasi, gunduk, karawang jakarta …

Bisnis
Pelayanan Jasa Fumigasi Murah Terpercaya 2017

pelayanan jasa fumigasi murah. lagi pula bila pada malam hari dapat didengar suara kretek-kretek” kala di dalam keadaan diam, serta pula kita semua mencium terdapat jejak ataupun kolom tanah di gedung/rumah kamu. memakai teknik yang efektif buat membasmi persoalan anai-anai pada rumah/bangunan kamu. jadi penyedia pelayanan Ꭻasa kontra rayap-jasa pest …