Eksis berbisnis properti, Rimo bersiap masuk ritel


JAKARTA.  PT Rimo Catur Lestari Tbk  (RIMO) mulai ekspansif di bisnis properti. Setelah mengakuisisi PT Hokindo Investama Maret 2017 lalu, perusahaan yang dulu berkecimpung di bisnis ritel ini mulai menggarap sejumlah proyek properti.

Menurut Teddy Tjokosaputro, Direktur Utama Rimo Catur Lestari, setelah mengakuisisi Hokindo, pihaknya secara otomatis memiliki 10 perusahaan Hokindo. Sembilan diantaranya bergerak di bidang properti.

Salah satunya yakni PT Duta Regency Karunia yang saat ini tengah menyelesaikan konstruksi proyek apartemen Shout Hills di Kuningan di lahan seluas 1,2 hektare (ha). Tedy menargetkan proyek ini bisa tuntas di kuartal II tahun 2019 mendatang.

Total unit apartemen tersebut ada 597 unit dan sudah terjual 353 unit dengan total nilai pra penjualan Rp 1,2 triliun. Maklum, harga satu unit apartemen tersebut berkisar Rp 4 miliar per unit. “Kami targetkan yang terjual sampai akhir tahun ini ada 400 unit (setara Rp 1,5 triliun),” katanya dalam paparan publik, Senin (29/5).

Ada lagi anak usaha PT Tri Kartika yang tengah menggarap hunian tapak tahap I di Pontianak sebanyak 1.800 unit di atas lahan 24 ha. Sejatinya, perusahaan itu sudah punya lahan hingga 500 hektare yang akan dibangun hunian tapak sebanyak 20.000 unit.

Sedangkan anak usaha PT Banua Land Sejahtera tengah menggarap proyek rumah toko di Banjarmasin. Rencananya, pengembang ini lagi membangun 44 unit ruko yang bisa kelar dalam waktu tiga bulan lagi.

Adapun enam anak usaha Rimo yang lainnya saat ini masih dalam tahap menambah lahan dan mengurus perizinan. Ambil contoh PT  Bravo Target Selaras yang akan membangun apartemen dan townhouse. Lantas ada PT Batu Kuda Propertindo yang berencana membangun hunian di Serang di atas lahan 23 hektare. Kemudian ada PT Gema Inti Perkasa yang mengerjakan resor di puncak dengan luas 200 hektare.

Melihat dari aksi anak usaha tersebut, tak heran bila Rimo kini beralih menjadi pengembang. Menurut Teddy pihaknya saat ini sudah membagi tiga bidang bisnis Rimo.

Pertama, Rimo Land yang bergerak di bidang penjualan properti yang saat ini punya lahan seluas 1.300 hektare. Kedua, Rimo Properti, yang berbeda dengan Rimo Land adalah bidang bisnis ini khusus bergerak di bidang investasi properti dan mal.

Ketiga, ritel. Nah, bedanya, kali ini Rimo bukan lagi bergerak di ritel mode seperti dulu, tapi ke ritel bahan bangunan laiknya Mitra 10 atau Depo Bangunan.

Menurut Teddy, pihaknya kesulitan bersaing dengan situs belanja bila tetap berkecimpung di bisnis ritel pakaian atau mode. Pilihan jatuh ke bisnis ritel bahan bangunan juga terkait dengan dua bisnis perusahaan ini yang bergerak di bidang properti.

Pihaknya berencana  membangun gerai bahan bangunan ini pada tahun ini juga dan bisa beroperasi di awal tahun depan. “Bisnis retail bangunan ini sebagai support bisnis utama kami yaitu properti. Selain itu, ini merupakan permintaan pemilik saham lama dan OJK untuk sebisa mungkin ritel dipertahankan,” jelasnya.

Untuk bisa merealisasikan ekspansi tersebut, Rimo sudah anggarkan belanja modal Rp 1 triliun. Sekitar Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar diperuntukkan pembebasan lahan. Rupanya Rimo punya rencana akuisisi lahan seluas 400 hektare sampai 500 hektare pada tahun ini. Lokasinya di Pontianak seluas 300 ha, Puncak Bogor 100 ha, sisanya di lokasi yang lain.

http://photo.kontan.co.id/photo/2016/02/12/185142829p.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments