Gagal Jualan Baju, Moncer di Bisnis Jilbab


SURYA.co.id | SURABAYA – Demi meraih kesuksesan, setiap orang perlu berusaha lewat rintisan bisnis. Keinginan untuk menjadi entrepreneurship rupanya menjadi pemicu untuk merintis usaha. Itu yang saat ini mulai banyak dilakukan generasi muda, termasuk yang masih kuliah, dengan mencoba bisnis lewat online. Bisnis online memang mulai menjamur seiring dengan makin majunya teknologi internet. Apalagi, modal yang diperlukan untuk bisnis online tak sebesar pada bisnis offline.

Hanya saja, meski menggunakan media online, namun berbisnis tak semudah membalik telapak tangan. Kegagalan berbisnis adalah hal yang wajar pada pelaku bisnis, termasuk para mahasiswi ini. Passion pada jenis usaha, pengalaman dan keseriusan berbisnis menjadi kunci penting untuk meraih kesuksesan dan mendapat untung besar.

Kegagalan berbisnis online ini pernah dirasakan Agnes Iftitah Permata. Gadis yang akrab disapa Agnes ini mengaku pernah lebih dari setahun berbisnis online dengan berjualan baju perempuan. Namun, bisnis itu gagal karena besar pasak daripada tiang alias pengeluaran lebih besar dari keuntungan yang didapat.

Perempuan yang lahir di Lamongan pada 7 Mei 1995 lalu ini bercerita, sejak kuliah di Universitas dr Soetomo (Unitomo) pada 2014, Agnes mengetahui bahwa bisnis secara online mulai booming. Pasar online masih terbuka lebar untuk dikembangkan.

“Ketika masih SMP dan SMA, saya memang belum pernah berbisnis. Barulah ketika kuliah, saya mencoba bisnis secara online,” ujar perempuan yang kuliah di Fakultas Ekonomi Bisnis ini.

Baca: Tak Bisa Atur Waktu Bikin Bisnis Jadi Tersendat

Lalu, setelah cari jenis usaha yang potensial, Agnes bersama teman kuliahnya membuat bisnis online bernama yumnaahijab. Dia menjual segala jenis baju perempuan, mulai baju kemejja jenis flanel, baju muslim, celana jeans hingga celana dari kain kulot. Dia menjual segala jenis baju perempuan itu dengan harga Rp 90 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Konsumen bisa pesan baju yang diinginkan lewat online. Begitu pesan dan uang ditransfer, saya lalu mengirim baju atau celana itu ke alamat konsumen,” terang pehobi nyanyi dan jalan-jalan ini.

Hasil penjualan baju secara online ini belum begitu memuaskan, karena konsumen yang membeli hanya di seputar Surabaya dan Gresik saja. Itu pun hanya sebatas teman kuliah saja. Selain itu, dia hanya mengambil untung antara Rp 10-15 ribu per item. Begitu dihitung total keuntungannya hanya Rp 500 ribu selama setahun. Padahal, sebelumnya dia dan temannya menargetkan keuntungan Rp 1-1,2 juta selama setahun.

“Untungnya tak besar karena persaingan bisnis untuk baju perempuan memang ketat. Namun karena untung sedikit, bisnis ini sulit berkembang karena pengeluaran lebih tinggi. Keuntungannya habis untuk biaya transportasi karena harus order baju di distributor di Surabaya dua kali seminggu,” papar gadis berjilbab yang sudah kuliah semester 8 ini.

Maka, praktis setelah bisnis ini berjalan setahun, dia terpaksa tak melanjutkannya. Dia menilai, pengalaman dan kecocokan menjadi faktor utama sukses tidaknya bisnis ini. “Saya kurang berhasil pada bisnis ini. Keuntungan saya dan teman sangat minim,” katanya.

Namun setelah tak melanjutkan bisnis ini, dia hanya murni kuliah saja. Sejak 2016, dia kembali mencoba bisnis online, yakni menjual jilbab. Rupanya, bisnis kali ini cocok baginya, karena mulai banyak pemesan dari luar Surabaya. Dengan harga antara Rp 30-125 ribu, dia bisa mendapat keuntungan Rp 30-35 ribu per item.

Tak dinyana, selama setahun bisnis ini berjalan, dia sudah mendapatkan keuntungan Rp 3,4 juta.

“Dari bisnis pertama, saya bisa belajar dan mendapat pengalaman berharga. Sedangkan pada bisnis kedua, saya bisa belajar mengembangkannya. Meski begitu, saya tetap kuliah seperti biasa,” pungkasnya. 

Baca: Belajar dari Kegagalan Bisnis Pertama Ala Calista Salim

http://cdn2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/agnes-iftitah-permata_20170709_214822.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments