Geser Jepang, India Jadi Pengimpor Terbesar dari RI


Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan kinerja ekspor signifikan di Januari 2017 mencapai 27,71 persen menjadi US$ 13,38 miliar dari realisasi periode yang sama tahun lalu senilai US$ 10,48 miliar. Pada awal tahun ini, terjadi pergeseran pangsa ekspor non migas Indonesia di peringkat ketiga dari Jepang menjadi India.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, dari total nilai ekspor Indonesia pada periode Januari 2017 sebesar US$ 13,38 miliar, ekspor non migas tercatat US$ 12,22 miliar dan migas US$ 1,27 miliar.

“Ekspor non migas yang paling besar mengalami kenaikan di awal tahun ini, lemak dan minyak hewan nabati US$ 2,91 miliar serta bahan bakar mineral US$ 1,68 miliar,” kata dia saat Pengumuman Neraca Perdagangan, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Barang non migas lainnya yang mencetak peningkatan nilai ekspor pada Januari 2016 dibanding Januari 2016, karet dan barang dari karet senilai US$ 235 juta, ekspor kendaraan dan bagian-bagiannya US$ 163 juta, serta berbagai produk kimia senilai US$ 140 juta.

Pangsa ekspor non migas terbesar Indonesia ke tiga negara. Pertama, ekspor Indonesia ke China senilai US$ 1,55 miliar atau pangsa pasar 12,80 persen. Peringkat kedua ditempati Amerika Serikat (AS) senilai US$ 1,43 miliar dengan pangsa 11,77 persen, dan urutan ketiga ke India senilai US$ 1,32 miliar atau 10,89 persen.

“India menggeser Jepang sebagai negara tujuan utama ekspor non migas Indonesia di Januari. Ekspor paling besar ke India adalah minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang naik 187 persen, batubara, bijih kerak dan abu logam,” terang dia.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, posisi India menggeser Jepang masuk sebagai negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia di Januari ini bukan yang pertama kalinya. India mengimpor CPO dari Indonesia dalam nilai yang besar.

“India impor CPO dari kita kencang, kalau dibanding 2016, impornya US$ 100 juta, ini tambahannya US$ 360 juta. Kencang sekali, jadinya mendorong India masuk menggantikan Jepang,” jelasnya.

Akan tetapi, Sasmito menerangkan, bukan berarti ada penurunan permintaan dari Jepang terhadap barang non migas Indonesia. Dia menilai, permintaan barang non migas Jepang ke Indonesia stabil.

“Permintaan Jepang stabil, cuma permintaan impor India ke kita melonjak. Tapi ini situasinya sementara atau temporary kok, bisa saja bulan depan balik lagi Jepang di peringkat ketiga,” kata Sasmito.

Dirinya mewanti-wanti pemerintah untuk mewaspadai perlambatan perdagangan internasional di tengah ketidakpastian global, seperti di AS, Eropa dengan Brexit-nya, dan negara lain.

“Ketidakpastian makin banyak, jadi harus diwaspadai setiap negara. Tapi melihat perdagangan kita kalau bagus, dijaga terutama ke negara tujuan utama. Eksportir dibantu,” cetus dia.

Peningkatan impor barang non migas India ke Indonesia pada Januari 2017 dibanding periode sama tahun lalu, antara lain:

1. CPO naik 187 persen
2. Bahan bakar mineral naik 42,83 persen
3. Bijih kerak dan abu logam naik 128.166,21 persen
4. Karet naik 67,12 persen
5. Aneka produk kimia naik 33,33 persen
6. Kertas dan barang dari kertas naik 121,33 persen
7. Kimia organik naik 84,58 persen
8. Besi dan baja naik 50,20 persen
9. Tembaga naik 204,85 persen
10. Reaktor nuklir naik 88,04 persen
11. Mesin listrik dan bagiannya 12,28 persen
12. Lainnya.

(Fik/Gdn)

http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/1384858/big/008348100_1477396887-20161025-Bea-Cukai-Kembangkan-ISRM-untuk-Pangkas-Dwelling-Time-Jakarta-IA2.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments