Harga Batu Bara Sentuh Level Tertinggi Baru


Pekerja berjalan di atas timbunan batu bara, di Asam-asam, Kalimantan Selatan. – Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara memperpanjang relinya pada akhir perdagangan kemarin, Kamis (14/9/2017), sekaligus level tertinggi baru dalam lebih dari tiga tahun.

Pada perdagangan Kamis, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup menguat 1,08% atau 0,95 poin di US$88,95/metrik ton.

Level tersebut adalah yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun sejak menyentuh level yang sama pada 15 Agustus 2014.

Adapun pada perdagangan Rabu (12/9), harga batu bara kontrak Januari 2018 berakhir melesat 2,15% di level 88.

Harga batu bara menguat di tengah pengawasan keamanan yang diberlakukan pada tambang-tanbang batu bara China sehingga membatasi produksi. Produksi batu bara China pun kian turun menyusul kecelakaan di tambang Provinsi Shanxi semakin mengintensifkan pemeriksaan keselamatan.

Biro Statistik Nasional (NBS) menyebutkan produksi batu bara China pada Agustus 2017 turun 1,2% dari bulan sebelumnya menjadi 9,38 juta ton, level terendah dalam enam bulan.

China Coal News melaporkan ada enam kasus kecelakaan di tambang batu bara Shanxi pada bulan lalu, sehingga menewaskan 20 orang. Kekhawatiran akan adanya insiden lanjutan membuat inspeksi keselamatan digencarkan, sehingga mengurangi volume produksi.

“Kita telah melihat harga batu bara dan karbon menembus levelnya dan terus naik pekan ini, keduanya akan terus naik,” ujar Arne Bergvik, kepala analis Scandem AB in Orebro, Swedia, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (15/9/2017).

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mencapai US$50 per barel untuk pertama kalinya dan ditutup di level tertinggi dalam enam pekan terakhir di tengah meningkatnya optimisme akan peningkatan permintaan.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober ditutup menguat 1,2% atau 0,59 poin di level US$49,89 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sebelumnya menyentuh level US$50,50 selama sesi tersebut.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman November berakhir menguat 0,31 poin di posisi US$55,47 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, dua dari organisasi paling berpengaruh di pasar minyak dunia, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dan OPEC, menaikkan estimasi permintaan minyak dunia, yang menandakan mulai berkurangnya pasokan global yang telah membebani harga.

IEA mengatakan permintaan minyak untuk tahun 2017 akan meningkat paling banyak dalam dua tahun terakhir. Ini mengikuti perkiraan OPEC pada perkiraan berapa banyak pembeli minyak mentah tahun depan, didorong oleh meningkatnya konsumsi di Eropa dan China.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT

14 September

88,95

(+1,08%)

13 September

88,00

(+2,15%)

12 September

86,15

(-0,29%)

11 September

86,40

(+0,93%)

8 September

85,60

(+1,12%)

 

 

  

Sumber: Bloomberg

 

 

 

 

http://img.bisnis.com/thumb/posts////690241/310931956_1-3.jpg?w=600&h=315



Sumber Artikel

Komentar

comments