Ibukota Pindah, Prospek Bisnis Properti Jakarta Tak Akan Goyah


WARTA KOTA, PALMERAH —¬†Sejumlah pengembang menilai, wacana pemindahan ibukota pemerintahan dari DKI Jakarta ke wilayah lain tidak akan memberi pengaruh negatif terhadap prospek bisnis properti di DKI Jakarta dalam jangka panjang.

Sebab, bisnis properti sangat tergantung dari permintaan pasar. Selama DKI Jakarta masih menjadi pusat bisnis dan pusat perdagangan, maka bisnis properti baik hunian vertikal, rumah tapak, maupun perkantoran dinilai tidak banyak terpengaruh.

Imron Rosyidi, General Manager Sales & Marketing, Synthesis Residence Kemang mengatakan bahwa selama DKI Jakarta menjadi pusat bisnisnya Indonesia maka kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya memiliki peluang harga properti yang tetap tinggi.

“Permintaan terbesar properti sebenarnya dari pusat bisnis, pusat pemerintahan itu bagian kedua setelah pusat bisnis. Kalau pun jadi pindah, butuh waktu 5-10 tahun. Selama masa itu, properti di DKI Jakarta tetap tidak akan terpengaruh dari sisi harga karena bagaimana pun Jakarta tetap menjadi pusat bisnis,” tuturnya menjawab Warta Kota, Selasa (11/7)

Meski ibukota pemerintahan kelak akan pindah dan para pegawai negerinya juga pindah, namun masih tetap banyak pegawai swasta yang masih bekerja di pusat bisnis. Properti di kota penyangga DKI Jakarta juga tetap dibutuhkan.

“Kalau soal harga yang terkoreksi, tanpa adanya perpindahan ibukota juga dari 2015 awal harga properti sudah agak sedikit terkoreksi. Tapi kebutuhan tempat tinggal kecenderungannya stagnan, tidak terkoreksi jauh sekali, kecuali ada yang butuh dana sehingga jual murah,” imbuh Imron.

Terpisah, Direktur Gamaland, Dicky Iksan Soetikno mengatakan bahwa kebutuhan properti di Jakarta masih akan tetap tinggi karena tidak mungkin semua perusahaan swasta mengikuti jejak pindahnya ibukota pemerintahan.

Menurut Dicky, dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan, bisnis properti di DKI Jakarta masih prospektif karena di DKI Jakarta tempat tinggal itu adalah kebutuhan utama penghuninya.

“Pindahnya ibukota pemerintahan itu memang akan ada efeknya, tapi nggak berat. Tidak sertamerta komersialnya ikut pindah. Bagi swasta, nggak mungkin ikut pindah semua, keluar pulau itu high cost,” kata Dicky.

Hal senada diungkapkan Pamela Hannie, Managing Director PT Agung Panorama. Pamela yang pernah bergabung dengan Springhill Group Property Development mengembangkan proyek Springhill Kemayoran itu menyatakan dampak perpindahan ibukota pemerintahan akan ada, tapi tidak lama.

“Pengurangan permintaan pasti ada, karena bisnis properti sangat dipengaruhi stabilitas politik. Begitu pemindahan ini terjadi, tentu akan ada goncangan, serapi mungkin dipersiapkan pasti ada dampaknya, tapi tidak akan lama,” ujarnya.

http://cdn2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/20170705yuk-longok-palangkaraya-yang-jadi-calon-ibukota-negara_20170705_150657.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments