Integrasi Jagung-Sapi Harus Berorientasi Bisnis dan Industri | SUARANTB.com


Mataram (Suara NTB) – Kabupaten Sumbawa memiliki potensi yang cukup besar, khususnya dalam bidang peternakan dan pertanian. Di NTB, daerah yang terkenal dengan produksi jagungnya tidak hanya Dompu, tapi juga Kabupaten Sumbawa. Selain jagung, komoditas yang juga potensi besar daerah ini ialah sapi. Bahkan Sumbawa menjadi daerah penyuplai sapi terbesar untuk konsumsi masyarakat Lombok.

Tak heran jika Pemkab Sumbawa ingin mengembangkan dua potensi besar ini menjadi sebuah program yang terintegrasi. Berbagai masukan diutarakan akademisi maupun praktisi yang terlibat dalam diskusi itu. Salah satunya ialah akademisi sekaligus praktisi bidang pertanian, Dr. Mashur.

Dalam pengembangan dua komoditas itu, Mashur mengatakan Pemkab Sumbawa harus berorientasi pada bisnis dan industri. Dengan demikian, maka harapan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui dua komoditas ini dapat tercapai.

Ia pun menyambut baik program integrasi dua komoditas ini, karena selama ini pengembangannya masih dilakukan parsial. ‘’Apa yang akan kita bangun dalam integrasi sistem ini orientasinya harus bisnis. Kalau tidak berorientasi bisnis maka upaya di dalam rangka peningkatan pendapatan atau kesejahteraan akan lebih lama kita capai,’’ paparnya seraya menambahkan harus ada skala pemeliharaan sapi bagi masyarakat Sumbawa.

Ia mengingatkan, skala pemeliharaan sapi harus jadi orientasi. Masyarakat atau peternak juga sudah harus berpikir ke arah bisnis sehingga tidak cukup dengan memelihara hanya dua atau tiga ekor sapi.

Terkait dengan produksi jagung, mantan Sekretaris Bakorluh NTB ini memaparkan potensi limbah jagung di Sumbawa cukup besar namun selama ini hanya dibakar. Padahal jika berorientasi pada industri, maka limbah tersebut bisa diolah menjadi pakan sapi. Sehingga pada masa tertentu, peternak tidak kesulitan mendapatkan pakan.

‘’Ternak ini kan arahnya penyediaan pakan. Kita sebetulnya tidak kekurangan pakan pada saat panen tapi saat kemarau atau musim paceklik di sanalah kekurangan. Maka yang harus kita lakukan adalah konservasi terhadap pakan, pengolahan dan penyimpanan,” jelasnya. Harus ada inovasi dalam mengolah limbah jagung ini sehingga sejalan dengan orientasi bisnis terhadap usaha ternak sapi.

Limbah jagung kering sebagaimana telah ia lakukan disebutkan Mashur dapat diproduksi menjadi pelet yang dapat disimpan dalam kurun satu tahun. Industri pakan ini juga bisa dilakukan oleh BUMDes. Dengan tersedianya pakan ini, maka waktu para peternak menjadi lebih produktif.

‘’Jadi nanti dia beli pakan. Jadi bukan lagi harus habis waktu untuk ngawis (menyabit rumput),” ujarnya. Selain limbah jagung dapat dimanfaatkan, pakan juga akan tersedia terus menerus sehingga peternak tidak kesulitan memberi makan sapi-sapinya. Dalam hal ini, masyarakat juga harus dilibatkan. Ia pun mengingatkan jangan sampai orientasi petani maupun peternak hanya bantuan, karena itulah harus diajarkan bagaimana supaya mereka memiliki orientasi bisnis.

Menurutnya Pemkab Sumbawa harus mencontoh program Gora (Gogo Rancah) yang dikembangkan Pemprov NTB beberapa tahun silam. Hal paling esensial kenapa program Gora berhasil karena terintegrasi dengan semua pihak baik dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kecamatan, hingga ke desa-desa. Semua pihak harus berada di satu garis yang sama (in line).

“Ketika itu bingkainya gerakan masyarakat, pimpinan daerah harus berada di depan. Gora itu berhasil karena bupati itu sebagai koordinator untuk bongkar tanah, bukan Kepala Dinas Pertanian sebagai koordinatornya. Pimpinan daerah, pak camat harus berada di depan, kepala desa harus berada di depan. Banyak kepala desa tak tahu semua program yang masuk ke desanya. Kalau bisa ini nanti kepala desa, kepala dusun, camat berada di depan kemudian dikawal teman-teman penyuluh dan petugas lain di lapangan Insya Allah berhasil,’’ sarannya.

Program Penanaman Lamtoro
Dalam rangka mendukung program integrasi jagung-sapi, akademisi dari Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Prof. Yusuf A. Sutaryono menyarankan kepada Pemkab Sumbawa agar memprogramkan penanaman lamtoro. Pohon lamtoro dapat menjadi sumber protein bagi sapi. Karena jika pakan sapi hanya limbah jagung, itu tidak akan cukup.

‘’Kami menganjurkan program penanaman lamtoro sebagai sumber protein. Itu tanaman murah. Lahan di Sumbawa luas. kalau sebagian ditanami lamtoro akan memfasilitasi limbah pertanian, limbah jagung yang banyak itu,’’ jelasnya. Untuk penanaman lamtoro ini, Pemkab Sumbawa bisa memanfaatkan 20-30 persen lahan kering.

Ia mengatakan, sapi dengan bobot 300 Kg asupan makanannya 7 Kg per hari. Jika 7 Kg itu hanya dari batang jagung kering, maka semua tidak bisa dimakan sehingga harus ada jenis makanan lain untuk asupan proteinnya salah satunya dari tanaman leguminosae, seperti lamtoro.

“Dari 7 Kg mestinya 3 Kg berasal dari leguminosae pohon. Itu konsepnya. Kalau enggak ya tadi pakai pelet karena kandungan proteinnya bagus tidak perlu makan sampai 3 Kg. Ini yang harus dilakukan apabila konsep integrasi jagung sapi terlaksana dengan bagus. Itu secara teknis peternakan,’’ jelasnya.

Yusuf berhitung dengan memanfaatkan 10 persen limbah pertanian yang dihasilkan di Kabupaten Sumbawa, maka jumlah sapi yang bisa dipelihara mencapai 600 ribu ekor. Namun ia juga mempertanyakan ke mana dan di mana limbah pertanian yang disebut jumlahnya cukup banyak itu.

Terkait keinginan Pemkab Sumbawa mengandangkan sapi, dengan tidak lagi melepasnya di lahan-lahan terbuka, menurut Yusuf mewujudkan itu harus melalui jalan yang cukup panjang. Karena telah menjadi kebiasaan atau budaya yang melekat di tengah masyarakat. Menurutnya pemerintah tak perlu memaksakan warganya yang menjadi peternak untuk mengandangkan sapinya karena lahan yang tersedia masih cukup luas.

“Barangkali kita melakukan intervensi melakukan konsep perbaikan manajemen dalam sistem yang mereka lakukan sekarang. Jadi biar mereka melakukan ekstensif tapi intervensi dalam sistem itu. Itu saja yang masih mungkin. Kalau kita pakai kandang, pilot project boleh, kalau sapi di Sumbawa dikandangkan semua butuh jalan panjang,” tandasnya. (ynt)

BACA BERITA LAINNYA :

http://www.suarantb.com/media/2017/08/doc4.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments