Investasi Emas Melalui Komunitas, Bonus Silaturahmi

 

TEMPO.CO, Bandung – Dua tahun lalu, Dewi Intan, 43 tahun, menerima ajakan sahabatnya, Santy Sriharyati, untuk mengikuti arisan emas. Niatnya sederhana: membayar uang masuk sekolah anak-anaknya. “Saya sudah ikut arisan emas yang kesembilan. Sekarang saya lebih ke menyimpan dana,” kata Intan ketika ditemui di Restoran Centropunto, Bandung.

Intan menuturkan pernah menjual logam mulia hasil arisan tersebut senilai Rp 14 juta untuk menutupi kekurangan pembayaran uang masuk sekolah anaknya senilai Rp 20 juta. “Waktu itu saya hanya butuh Rp 13 juta lagi. Jadi, masih ada selisih,” kata mantan pegawai bank di Jakarta tersebut.

Dalam arisan ini, setiap bulan dia mencicil sebesar Rp 4,8 juta untuk membeli 7 keping emas seberat 5 hingga 25 gram. Bahkan ketiga anaknya pun dimotivasi untuk menabung emas. “Punya anak-anak, emas yang 5 gram,” kata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Menurut dia, selain dapat mencicil pembelian emas, keuntungan lain dari mengikuti arisan ini adalah mempererat silaturahmi antar-anggota. “Kami bisa saling bertukar jualan, ada yang kolak campur dan sebagainya,” kata dia. Seperti yang dilakukan Wina Setiawati, 30 tahun, yang membawa enam bungkus kolak campur pesanan teman-teman arisannya.

Saat arisan berlangsung, panitia memberi kesempatan kepada anggota yang ingin mempromosikan usaha mereka. Salah satu anggota memanfaatkan kesempatan itu untuk mempromosikan paket umrah. “Ada juga yang membawa empek-empek untuk dicoba saat makan siang,” kata Lilis Karnita Soleha, salah seorang pelopor komunitas arisan emas.

Lilis menuturkan, komunitas ini terbentuk pada 2013. Penggagasnya adalah Lilis dan beberapa orang temannya sesama penabung emas di PT Golden Mandiri Investama. “Sambil makan-makan di Puncrut, kami mengajak orang pemasaran Golden Mandiri untuk membawa emasnya dan menyerahkan kepada pemenang arisan,” dia mengisahkan.

Semakin lama jumlah anggota arisan semakin banyak, sehingga manajemen Golden Mandiri terpikir untuk mengambil alih pengelolaan arisan tersebut. Kini tercatat ada 461 kelompok arisan di seantero Bandung yang dikocok setiap bulan untuk mendapatkan emas. Setiap arisan berlangsung selama 10 bulan.

Kepala Operasional Golden Mandiri Bandung, Hamdan Mutaqin, mengatakan saban bulan anggota arisan emas berkumpul untuk pengocokan arisan. Mulai dari yang terendah 5 gram hingga yang tertinggi 25 gram. “Tiap orang bisa ikut beberapa keping emas sekaligus,” dia menuturkan. Menurut Hamdan, hampir semua anggota arisan adalah perempuan.

Pada awal keanggotaan, peserta harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp 500 ribu yang berlaku seumur hidup. Selanjutnya, peserta dapat datang setiap bulan ke lokasi pertemuan yang ditentukan tanpa perlu membayar uang makan. “Tiap awal bulan mereka membayar cicilan arisan dan pada pekan kedua diundi,” kata dia.

Bagi ketua kelompok arisan yang berhasil membawa anggota baru, diberikan ganjaran bonus Rp 150 ribu per orang oleh Golden Mandiri dan mendapatkan tambahan Rp 1.000 per gram emas yang dimenangi oleh anggota kelompoknya.

Namun ketua kelompok arisan juga punya tanggung jawab berat. Karena tidak selalu anggota datang saat pengocokan arisan, Santy, yang menjabat ketua kelompok, tak jarang harus membawa emas titipan anggotanya ke Jakarta.

Begitu pula dengan Lilis, yang punya seorang anggota arisan yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Hong Kong. Emas yang dimenangi oleh anggotanya itu harus dikirim melalui paket ke kampung halamannya di Jawa Tengah. “Di komunitas ini kami menambah saudara. Kalau kita berhasil, sahabat, saudara juga harus sukses,” kata dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan ini.

Adapun anggota arisan yang terlambat membayar cicilan dikenai denda yang besarnya bervariasi dari Rp 7.500 hingga Rp 30 ribu per pekan. Uang denda kemudian dikumpulkan untuk disumbangkan ke panti jompo atau komunitas sosial. Biasanya, tiap bulan terkumpul uang denda Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

MARTHA WARTA

Source link

Komentar

comments