ITDC ? Agung Panorama Kembangkan Kawasan Nusa Dua | Properti


Jakarta – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), menjalin kemitraan strategis dengan developer PT Agung Panorama Propertindo. Kedua perusahaan berencana mengembangkan proyek properti berupa pembangunan gedung perkantoran di kawasan paling prestisius Pulau Dewata, yakni Nusa Dua. Proyek bernilai sekitar Rp 500 miliar itu menggabungkan creativity industry dan resort office pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Nusa Dua merupakan kawasan prestisius di Bali yang menjadi tujuan utama pariwisata serta berbagai event nasional dan internasional. Sebagai pusat konferensi kelas dunia, Nusa Dua telah dilengkapi dengan sarana, prasarana dan akomodasi yang memadai. Akan tetapi belum ada gedung perkantoran di sana, dan kehadiran CREA merupakan pelengkap dari 7 pilar yang menjadi kekuatan dari kawasan The Nusa Dua yang dulunya terkenal dengan kawasan BTDC,” kata Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer di Jakarta, Kamis (18/5).

ITDC merupakan perusahaan yang mengelola kawasan wisata Bali dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusata Tenggara Barat. ITDC dikembangkan menjadi holding pengembangan kawasan wisata di berbagai daerah.

Rencana kerjasama dengan Agung Panorama Propertindo telah berlangsung sejak lama, bahkan ketika ITDC masih berstatus Bali Tourism Development Corporation atau BTDC. Dipilihnya Agung Panorama dalam kerjasama ini tak lain karena memiliki pengalaman dan track record sebagai developer yang selalu menampilkan produk ikonik dan Inovatif. “Sebagai kawasan yang menjadi pusat perhatian internasional, kami tentu ingin menyajikan produk yang terbaik, dengan harapan semakin banyak event berskala dunia digelar di Nusa Dua. Dampak positifnya tentu akan kita rasakan bersama,” ungkap Abdulbar.

Ia meyakini keberadaan perkantoran yang representatif, inovatif dan mencerminkan budaya lokal, akan mampu menarik minat masyarakat internasional bukan hanya untuk menggelar event di Nusa Dua bahkan ikut berinvestasi dalam menciptakan bisnis-bisnis baru di masa mendatang. “Saya pribadi berharap gedung ini sudah siap sebelum pelaksanaan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang akan dihadiri para pemimpin dunia tahun depan,” harap Abdulbar.

Sementara itu CEO Agung Panorama Propertindo, Usman Effendy menjelaskan, perusahaannya merupakan salah satu pionir dalam mengembangkan berbagai kawasan di Jakarta. Sejumlah proyek prestisius telah dibangun, seperti Spring Hill Golf Residences, Springhill Golf Mansion, Springhill Golf Terrace, Royale Springhill Apartment, The Boutique Apartment and Office Park, kawasan perumahan mewah Kedoya Garden Jakarta Barat, Wesling Condominium, dan berbagai proyek lainnya. Dengan konsep yang iconic pada setiap proyek yang dibangun, ia optimis produknya terserap pasar.

“Di Indonesia, berbagai start-ups tumbuh pesat seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan industri kreatif. Sementara fasilitas perkantoran yang menunjang aktivitas mereka jumlahnya sangat sedikit,” kata dia. Bali dipilih sebagai tempat pengembangan dikarenakan industri kreatif di daerah ini tumbuh pesat dan interaksi dengan dunia internasional sangat mudah dan cepat. Dengan demikian potensi industri kreatif dari Bali dapat dengan segera menjadi perhatian negara lain.

Gedung perkantoran yang akan dibangun adalah CREA The Nusa Dua Resort Office. Perkantoran revolusioner ini menyuguhkan fasilitas layaknya resor yang beroperasi selama 24 jam, sehingga menjadi solusi dalam menghadapi perbedaan zona area dan waktu. Ini sangat berarti bagi para bisnis kreatif yang bekerjasama dengan market internasional. “Keberadaan CREA The Nusa Dua Resort Office untuk melengkapi fasilitas di Nusa Dua Bali, sehingga akan dapat meningkatkan perekonomian kawasan,” kata Usman.

Terkait dengan potensi bisnis properti di Bali, konsultan property dari Keller Williams Casablanca, Ir. Tony Eddy, MBA, MSC, CIPS menjelaskan, Pulau Dewata mengalami pertumbuhan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut ditandai dengan Tren bisnis properti yang cenderung meningkat selama satu dasawarsa terakhir. “Tahun ini bisnis properti akan kembali meningkat sebagai dampak dari berbagai faktor, seperti kebijakan pemerintah, tax amnesty, kenaikan daya beli masyarakat, sektor pariwisata yang menggeliat dan juga faktor keamanan,” katanya.

Beberapa gejala meningkatnya bisnis properti di Bali ditandai dengan maraknya pembangunan hunian, baik untuk Perumahan maupun hunian untuk investasi (villa, hotel) di Nusa Dua. “Dari sekian proyek properti yang ada di Bali, masih sedikit pengembang yang membidik perkantoran. Saya kira ini strategi yang tepat bagi perusahaan properti untuk membidik pasar yang masih baru,” jelas Tony Eddy.

Euis Rita Hartati/ERH

PR

http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/725×460-2/1495118456.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments