Jangan Cemas, Dikepung Pasar Online, Bisnis Ritel Tetap Menjanjikan


WARTA KOTA, GAMBIR — Pesatnya bisnis secara daring (online), termasuk pembayaran elektronik memudahkan siapa saja untuk berbelanja tanpa harus bertatap muka. Pesatnya persaingan pun kian kentara ketika para pelaku UKM (Usaha Kecil dan Menengah) sudah mulai mengelola jaringannya secara daring.

Sebut saja Fasolia Fujiandini, pemilik jaringan laundry kiloan bernama Ummy Klin. Pelaku UKM yang kini bergabung dalam program pembinaan UKM bernama OK OCE itu berhasil mengembangkan usaha yang dirintisnya dari garasi hingga mencapai omset puluhan juta rupiah hanya lewat pemasaran online.

Tercatat, lebih dari 80 mitra telah tergabung sejak dirinya bergabung dengan program ini sejak awal 2017 lalu. Bisnisnya juga menggeliat. Jika semula hanya melayani jasa laundry kini menjadi produsen sabun kebutuhan laundry para mitra usahanya.

“Pemasaran yang paling berpengaruh itu sekarang ini ya lewat media sosial, dari sana bisa gabung grup-jaringan, interaksi lebih gampang, mulai dari tanya jawab sampai jualan,” ungkap perempuan yang akrab disana Mama Winda itu ketika dihubungi pada Senin (17/7).

Ilustrasi 2 bisnis ritel
Ilustrasi 2 bisnis ritel (Warta Kota)

Perkembangan bisnis online diakui Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita meningkat sejak lima tahun terakhir. Perkembangan tersebut pun disampaikannya membawa berkah positif bagi para pelaku UKM di Nusantara.

Namun dia menkankan bahwa industri ritel masih menjadi prioritas dan berpengaruh dalam peningkatan perekonomian nasional. Pasalnya, pasar yang dituju kedua moda bisnis ini sangat berbeda.

“Masyarakat kita termasuk konsumen yang setia, mereka meluangkan waktu untuk berbelanja ke toko dengan melihat barang yang akan dibelinya. Saat ini, industri e-commerce memang tumbuh, tetapi pertumbuhannya belum setinggi industri ritel,” ungkapnya saat di Kantor Kementerian Perdagangan RI, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (17/7).

Peningkatan industri ritel tersebut dia perkirakan akan tetap tumbuh sebanyak dua kali lipat hingga akhir tahun 2017 mendatang dan berkontribusi sebanyak 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) secara keseluruhan.

Karena itu, dirinya berharap perkembangan kedua bisnis tersebut dapat saling melengkapi, mengingat kebiasaan berbelanja masyarakat, khususnya kelas menengah masih bersifat konvensional.

“Industri ritel masih belum tergantikan, kalau mau jujur, saya juga termasuk orang yang kalau belanja itu harus datang ke toko dan melihat barang langsung,” tutupnya tertawa.

http://cdn2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/bisnis-ritel_20170717_210519.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments