KAEF ekspansi bisnis alat tes kesehatan


JAKARTA. Kalau tak ada onak dan duri, mulai akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018 nanti, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menambah lini bisnis baru. Perusahaan ini menjadwalkan operasi komersial pabrik alat tes kesehatan atau rapid test rampung tahun ini.

Proses pembangunan pabrik alat tes kesehatan Kimia Farma masih berlangsung hingga kini. Lokasi pabrik berada di Denpasar, Bali dengan luas 375 meter persegi (m). Proses pembangunan pabrik ini berlangsung sejak tahun 2016. Sementara target penyelesaian pembangunan pada Agustus 2017.

Sebelum menjalankan pabrik dan memproduksi alat kesehatan, Kimia Farma harus menunggu lampu hijau dari regulator. Maklum, produksi alat kesehatan terikat dengan aturan khusus dari Kementerian Kesehatan (Kemkes).

Pabrik Denpasar memproduksi alat tes kesehatan untuk mendeteksi sejumlah penyakit. Beberapa di antaranya adalah human immunodeficiency virus (HIV), pendeteksi sifilis, malaria, hepatitis dan demam berdarah dengue (DBD). Termasuk, tes kandungan narkotika dan obat atau bahan berbahaya (narkoba) serta tes kehamilan.

Kimia Farma berencana memasarkan alat kesehatan di dalam negeri. “Baik itu rumah sakit negeri maupun swasta,” terang Eddy Murianto, Sekretaris Perusahaan PT Kimia Farma Tbk saat dihubungi KONTAN, Rabu (5/7).

Karena proyeksi tercepat operasi komersial pada akhir tahun, Kimia Farma belum memasukkan target kontribusi pendapatan dari bisnis alat tes kesehatan itu pada tahun ini. Perusahaan pelat merah tersebut memperkirakan, sumbangan pendapatan bisnis alat kesehatan baru akan terasa mulai tahun 2018.

Sebagai catatan, pabrik di Denpasar bakal menjadi fasilitas produksi alat kesehatan perdana milik Kimia Farma. Sejauh ini, perusahaan farmasi ini menjual alat tes kesehatan dengan melibatkan jasa perusahaan manufaktur lain.

Dalam laporan keuangan yang berakhir 31 Maret 2017 misalnya, Kimia Farma mencatatkan penjualan alat tes kesehatan dan lain-lain sebesar Rp 30,92 miliar. Nilai penjualan tersebut relatif masih kecil karena setara dengan 2,58% terhadap total pendapatan perusahaan tersebut yang sebesar Rp 1,19 triliun.

Nilai penjualan alat kesehatan dan lain-lain pada kuartal I 2017 tadi lebih tinggi ketimbang kuartal I-2016. Pada periode tahun lalu, nilai penjualannya Rp 23,06 miliar.

Target tumbuh dobel

Selain pabrik alat kesehatan, Kimia Farma juga sedang menuntaskan proyek pembangunan pabrik obat di Banjaran, Jawa Barat. Pabrik baru di Banjaran ini direncanakan sebagai lokasi produksi obat generik, ethical maupun produk herbal.

Perusahaan ini menganggarkan investasi Rp 1,3 triliun untuk membangun pabrik ini. Kimia Farma menargetkan pabrik tersebut selesai dibangun tahun 2018.

Sumber dana investasi pembangunan pabrik Banjaran, Jawa Barat berasal dari dana belanja modal atau capital expenditure (capex) 2017. Alokasi capex tahun ini sebesar Rp 2 triliun yang dipenuhi dari kas internal dan pinjaman perbankan.

Sampai dengan akhir tahun 2017, Kimia Farma membidik pertumbuhan pendapatan di level dobel digit. Sejauh ini, menurut proyeksi manajemen perusahaan ini, pencapaian semester I-2017 sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan penjualan yang sesuai dengan target. Namun, mereka tak mengungkapkan nilai kinerja yang dimaksud.

Kimia Farma yakin, pencapaian semester II-2017 bakal lebih tinggi. “Hasil e-katalog bisa membuat hasil semester II lebih baik dibanding semester pertama,” ujar Eddy.

http://photo.kontan.co.id/photo/2016/11/18/675478854p.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments