Kemacetan Lalu Lintas Dukung Perkembangan Bisnis Siaran Radio


KOMPAS.com – Kemacetan lalu-lintas seperti terjadi di Jakarta, di mata Presiden Direktur PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) Adrian Syarkawie justru menjadi pendukung perkembangan bisnis siaran  radio. “Coba aja, orang kan kalau macet dengerin radio. Di mobil atau pakai gadget,” katanya pada Jumat (4/8/2017) di Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Adrian bersama Finance Director & Corporate Secretary MARI Natalina Sindhikara menerangkan perkembangan terkini MARI sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2 Februari setahun silam. (Baca: Mahaka Radio Integra Resmi Melantai di BEI)

Pada awal 2017, MARI membidik perluasan market share hingga 65 persen. Awalnya, ada tiga merek radio yang menjadi lini bisnis utama MARI yakni Jak 101 FM (Jakarta), Gen 98,7 FM (Jakarta), dan Gen 103,1 FM (Surabaya).

Selanjutnya, pada kuartal II 2017, MARI mengakuisisi 99,99 persen saham Radio HOT FM milik PT Radio Merpati Darmawangsa serta penguasaan saham masing-masing 70 persen terhadap Radio KIS FM (PT Radio Kirana Insan Suara), Radio Mustang FM (PT Radio Mustang Utama), dan Radio Lite FM (PT Radio Ramako Djaja Raya). Beberapa radio tersebut, antara lain, HOT FM ditebus dengan dana Rp 34 miliar. Sementara, radio milik Ramako dibayar banderolnya Rp 52,5 miliar. “HOT FM sejak empat bulan beroperasi pada Januari 2017 sudah membukukan profit,” kata Adrian.

MARI, kini, memiliki penyertaan modal 20,8 persen pada PT Radionet Cipta Karya. Perusahaan tersebut mempunyai tiga unit usaha radio yakni  Prambors FM, Delta FM, dan Female Radio.

Sementara itu, hingga 2016 usai, MARI berhasil mengumpulkan pemasukan hingga Rp 40 miliar. “Ini dihitung dari tiga radio yang existing ya, belum termasuk yang akuisisi,”  imbuh Natalina.

Natalina melanjutkan ada kenaikan target lima persen untuk rencana pemasukan hingga 2017 usai. “Sampai dengan Juni 2017 kami punya net profit Rp 22 miliar,” tutur Natalina.

Persaingan

Lebih lanjut, Adrian mengatakan bahwa persaingan di bisnis radio saat ini terbilang berat. “Radio saat ini harus multiplatform,” tuturnya.

Menurut Adrian, saat ini untuk mendengarkan siaran radio, masyarakat bisa memanfaatkan segala macam peralatan. “Ada yang melalui gadget (gawai). Jadi enggak cuma dari radio (piranti),” tutur Adrian.

Maka dari itulah, riset pasar menjadi hal yang penting untuk menjajaki kelas konsumen seperti apakah yang akan dibidik. “Saat ini pendengar radio paling banyak masih di Jakarta sekitar 65 sampai 70 persen,” ujar Adrian sembari menambahkan bahwa pihaknya berhasil mencapai penguasaan pasar hingga 49 persen di Jakarta.

Tak hanya itu, sekarang ini, pesaing bisnis radio datang dari mana saja. “Blogger, Vloger, dan Youtuber bersaing dengan radio,” katanya.

Untuk memenangi persaingan pula, lanjut Adrian, pihaknya terbuka pada reposisi, format ulang, hingga pergantian merek (brand) menyesuaikan dengan pendengar. “Ada yang suka dangdut, lagu-lagu Indonesia, dan Western,” ujarnya.

MARI mengklaim sebagai radio berinovasi yang menjadi radio streaming pertama pada 2012. Sampai saat ini, MARI mempunyai 3,8 juta pengunduh.

 

Presiden Direktur PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) Adrian Syarkawie. Loyalitas pendengar radio terbentuk antara lain melalui brand, musik yang dimainkan, dan konten yang disajikan sehari-hari.Kompas.com/Josephus Primus Presiden Direktur PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) Adrian Syarkawie. Loyalitas pendengar radio terbentuk antara lain melalui brand, musik yang dimainkan, dan konten yang disajikan sehari-hari.

http://assets.kompas.com/crop/0x0:1000×667/780×390/filters:watermark(data/photo/2017/08/01/30988886822.png,0,-0,1)/data/photo/2017/07/25/14447303981.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments