Kemarahan dan Air Mata di Bisnis



Bagi yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis pastilah paham sekali suka duka saat menyelami profesinya. Yang pastinya dunia bisnis adalah dunia di mana cara meraup keuntungan dengan mudah. Sehingga pebisnis baru pun bak jamur di musim penghujan belakangan ini. Terlebih lagi jembatan internet membantu mereka dalam aksi bisnisnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah pebisnis baru itu mengurangi jam kerjanya demi fokus membangun istana bisnisnya, meskipun hanya satu demi satu batu bata.

Tipe calon pebisnis hebat tersebut sudah paham bahwa menjadi seorang pebisnis tidak serta merta hanya mengucapkan bim salabim, jadilah kerajaan bisnis. Sebab pebisnis yang baru berkecimpung ini sudah fokus menyusun strategi bisnisnya. Di benaknya sudah muncul, bagaimana lagi cara melejitkan omzet penjualan? Berpikir dan terus berpikir, sampai kata jam pikirannya menggerakkan seluruh anggota badannya untuk action. Ya, bisnis adalah soal action, bukan teori bla… bla… bla….

Nah, jadi ketika seseorang hanya bicara bisnis, tapi tidak mempraktikkannya sama saja bohong. Terlebih lagi seorang yang mengaku pebisnis, menuliskan artikel bisnis, bicara yang hebat-hebat soal bisnis, tapi ketika ditanya bisnis Anda sendiri bagaimana? Jlebbb, pertanyaan yang menusuk ke jantung. Tapi karena dasarnya orang seperti itu punya segudang alasan, tentu adaaaaa saja jawabannya. Yang seperti ini jangan ditiru! Karena banyak bicara, bukan banyak action.

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Sebenarnya saya sejak kecil sudah berada di lingkungan keluarga pebisnis. Hidup di atas dan di bawah sudah saya rasakan, tidak terkejut dengan orang mendadak kaya karena bisnis, tidak terkejut pula pebisnis hebat bisa jatuh melarat. Dalam bisnis itu hal yang biasa dan sering terjadi di tengah masyarakat. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah seorang pemain lama di dunia bisnis, ia tahu bagaimana caranya membangun kembali kerajaan bisnisnya.

Inilah ilmu terbaik dalam bisnis itu sendiri, pengalaman bisnis yang bertahun-tahun dan mempunyai jam terbang tinggi serta relasi yang banyak, masa kritis bisa diatasi dengan cepat. Sepertinya juga pebisnis hebat itu sendiri mustahil tidak pernah mengalami masa kegagalan, sebab dari kegagalan itulah ia bisa berhasil dan jauh lebih berhasil dari yang sebelumnya. Meskipun ia harus memulainya lagi dari modal dengkul alias tak bermodal sama.

Lalu, pertanyaannya adalah dari mana modalnya tersebut?

Modal dalam bisnis itu memang penting, tapi bukan hal yang utama. Dan saya yakin sekali, baik seorang pebisnis yang sudah pernah jatuh bangun, meskipun yang belum berbisnis, punya modal yang paling besar dan mantap, yakni otaknya sendiri. Inilah modal utama seorang pebisnis, dengan otak itu pula ia bisa “menyulap” apa yang ada disekitar menjadi modal untuk bisnisnya. Sekali lagi saya bilang, ini bukan bim salabim, tapi action!

Baik, setiap orang punya cara berpikir yang berbeda-beda, begitu pula dengan seorang pebisnis, namun tetap saja tujuannya sama, yaitu mencari modal yang bukan dari kantongnya sendiri. Ya, modal orang lain, bukan modal sendiri. Berdasarkan dari pengalaman saya sendiri, bagaimana bisa mendapatkan modal? Jawabannya adalah jalin kerja sama, carilah mitra bisnis yang mau bergabung dengan kita.

Sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya hanya punya modal ratusan ribu, tak sampai satu juta, saya bingung dengan modal segitu bisa saya gunakan untuk apa? Maka saya mencoba hubungi teman-teman untuk mendirikan sebuah bisnis, yakni kaos dan website. Teman-teman tidak ada yang serius menanggapinya, bahkan saya mencoba mengajukan kerja sama dengan pihak-pihak tertentu yang berhubungan dengan bisnis saya, hasilnya pun ditolak secara halus.

Tidak masalah, namun saya terus berjalan meskipun sepertinya tidak ada seorang pun yang menyakini bisnis saya. Waktu terus berjalan, bisnis kaos saya macet, tapi untuk websitenya sampai detik ini tetap berjalan, hanya saja hasilnya tidak sesuai harapan. Bisa dibilang modal saya sudah nyaris tidak ada lagi, input dan ouput tidak sesuai. Mau bagaimana lagi? Semua itu harus saya telan dengan kekecewaan. Sedih sekali rasanya, terkadang air mata menetes tanpa disadari.

Karena saya memang orangnya bandel, keras kepala, keras hati, dan tidak bisa diatur, Rizka Wahyuni, sosok perempuan yang selalu mendukung saya pun akhirnya action. Padahal bisa dibilang dia tidak mempercayai saya sepenuhnya dalam hal bisnis. Tapi apa mau dikata, sudah tidak ada cara lain bagaimana mendukung saya selain bisnis?

Sebelumnya dia juga bilang ke saya, “Carilah kerja! Kan bisa kerja apa saja di Jogja.” Saya marah, marah sekali ketika itu, kalau hanya kerja di Yogyakarta, mengapa pula saya jauh-jauh dari Medan hanya untuk kerja, yang gajinya mencapai 1 juta pun tidak dapat. Karena hal itu pula, saya malas berbicara lagi dengannya, kesal sekali, saya sempat berpikir ternyata tidak ada seorang pun yang percaya dengan saya. Baiklah, saya akan membuktikannya suatu hari nanti.

Selain itu saya juga bilang ke dia, “Ayo bisnis… Bisnis! Jangan seperti ini terus!” Dan di akhir 2016, entah ada angin apa dia ingin berbisnis jilbab, maka pada waktu itu juga kami buat konsep bisnisnya, mulai dari brand Padusi Hijab, pemilihan bahan, mitra bisnis, harga, dan yang lainnya menyusul belakangan. Tiga pokok itulah yang kami lakukan untuk mengawali bisnis.

Kalau soal strategi penjualan, ini, sih, tidak masalah, bisa dibilang gampanglah. Terlebih lagi pengalaman penjualan saya cukup lama dan kedua juga sudah punya website. Jadi, untuk memperkenalkan produk tentu lebih cepat dan efektif dari website. Sedangkan untuk modal jilbab itu, saya sendiri hanya membantu beberapa ratus ribu, dan itu hasil menang lomba blogger favorit di VivaLog. Nyaris… bisa dibilang modal untuk bisnis jilbab itu kalau dari saya sendiri, ya, nol.

Kabar gembiranya, meskipun saya hanya bermodal beberapa ratus saja, saya sekarang punya bisnis sendiri. Karena Rizka, sang pemodal, maka dialah owner Padusi Hijab, saya sendiri orang kedua di bisnis kami. Tapi, setidaknya keuntungan bisnis setiap harinya bisa saya nikmati dan harapan besar tentunya dengan keuntungan-keuntungan tersebut bisa menjadi penopang dana untuk melanjutkan kuliah saya.

Bagi saya sendiri bisnis itu sangat penting, seperti urat nadi kehidupan. Nah, yang tak kalah pentingnya lagi adalah pendidikan, oleh sebab itu pula pendidikan harus tetap lanjut setinggi-tingginya. Rizka yang berlatar belakang dari keluarga guru pastilah tak ingin gagal di pendidikan akademik juga. Jadi kami sepakat, bisnis dan pendidikan harus seiring sejalan, jangan abaikan salah satunya.

Rizka yang mulai geliat berbisnis jilbab juga mulai didukung orang tuanya. Padahal orangtua Rizka keduanya guru, mungkin juga khawatir jika pendidikan putrinya terganggu karena bisnis. Sebenarnya soal bisnis bukan hal baru di keluarga mereka, abangnya juga punya usaha warnet di Padang. Mungkin sebab itu pula keluarganya semakin mantap mendukung anakanya berbisnis di Yogyakarta. Saya juga bilang ke Rizka, “Leluhurmu adalah seorang saudagar yang hebat, orang Minangkabau terkenal pandai berdagang. Kalau Rizka tak pandai berdagang sungguh malu jadi gadis Padang.”

Entah ditanggapi atau tidak apa yang selama ini saya bilang ke Rizka, tapi yang pastinya sekarang Rizka sudah pandai berbisnis. Kemajuan yang signifikan, mulai dari pikiran, tindakan, dan perencanaan selanjutnya. Karena sudah tahu enaknya bisnis, ia juga mengurangi hari kerjanya sebagai perawat gigi. Mungkin dia juga membandingkan gajinya sehari Rp 45.000 mulai dari pukul 15.00, sampai pukul 21.00. Sedangkan bisnis jilbabnya kalau dapat orderan banyak, keuntungan bisa sampai Rp 400.000. Sedangkan kalau normal-normal saja sehari dapat Rp 100.000.

Jauh sekali, ya, gaji dengan keuntungan bisnis jilbabnya? Hahaha, kalau saya, sih, tertawa saja kalau dia bicara soal ini. Terus saya juga bilang ke dia, “Jadi selanjutnya mau jadi apa? Mau jadi perawat gigi yang makan gaji segitu?” Terus dia jawab, “Ah, nggak lah, Rizka mau jadi dosen dan pebisnis.”

Profesi perawat gigi itu bagus, itu juga cita-cita Rizka sejak lama, hanya saja harus logika kalau tamat S1 Perawat Gigi gajinya Rp 45.000 per hari, ya, kecil sekali, toh.

Ya, sudah dia mantap dalam seminggu hanya dua hari menjadi perawat gigi, sisa harinya untuk les Bahasa Inggris biar bisa masuk S2 Universitas Gajah Mada dan bisnis jilbab. Ini semua langkah yang seimbang. Profesi perawat gigi dapat, pendidikan untuk adademik dapat, dan bisnis juga lancar. Nah, saya sendiri fokus mengembangkan bisnis jilbab kami dan kemajuan website, serta persiapan lanjutan pendidikan.

Foto Ilustrasi: Shutterstock

https://res.cloudinary.com/kumpar/image/upload/w_1200,c_fill,ar_40:21,g_auto,f_auto/sad-businessman_upumrm.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments