Kisah Jatuh Bangun Yus Oktavia, Desainer Asal Solok Sumbar, Rela Tinggalkan Bisnis di Tanah Abang, Demi Independensi


PAREPARE – Nasib manusia memang tiada yang tahu. Kesuksesan seseorang bisa diraih dengan instan atau mudah. Namun sebagian juga meraihnya dengan “jungkir balik” atau kerja keras.
Hal ini juga yang dialami desainer asal Solok, Sumatera Barat, yang memiliki bakat merancang busana sejak kecil. Dari bakat dan kerja keras itulah Yus Oktavia desainer nasional berusia 47 tahun itu, kini bisa sukses.

Sejak dini ia bereksplorasi dengan kain-kain membentuk apapun yang dia inginkan. Jika anak-anak sekolah dasar masih mengolah kertas menjadi baju-baju bonekanya. Yus langsung menggunakan kain menjahit dengan mesin.

loading…

Usia belasan, Yus mulai membuat pakaian-pakaian tari, yang kala itu masanya kelompok-kelompok seni berpertunjukan.

“SMA saya sudah terima jahitan,” papar ibu 4 anak ini dalam perbincangan disela-sela mengikuti kegiatan Lovely Ainun-Habibie di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Hobinya itu digelutinya lebih dalam, dengan menimba ilmu di IKIP Jakarta, jurusan Tata Busana. Seiring  dengan kematangannya menjahit, Yus pun berani terjun ke bisnis dengan membuka konveksi.  

“Ada yang membantu membuka jalan, bisnis tanpa modal. Saya dipercaya membuka kios di Tanah Abang. Tempatnya strategis. Tinggal mencari pemasok barang,” cerita Yus mengenang.

Iapun tak menyangka, kalau kiosnya ramai, ia pun mempertimbangkan untuk menjahit baju sendiri, bukan lagi mencari pemasok barang. “Pengalaman berdagang, bertemu banyak orang, sehingga saya sudah bisa membaca baju apa yang diingini pasar,” katanya.¬†

Dengan hanya melihat baju-baju yang dipakai orang, dan keinginan pelanggan, busana-busana produksinya laris manis. Yus membuka konveksi cukup besar, untuk memenuhi selera pasar.

“Tanah Abang adalah sentra tren busana muslim. Modenya cepat berubah, perputarannya sangat cepat, kita sebagai pengusana harus cepat menangkap apa yang diinginkan pasar,” ungkapnya.

Bagai dua sisi mata uang, persaingan dan pertumbuhan seiring sejalan. Yus harus menelan pil pahit, ketika ia mendapati banyak sekali jiplakan desain. “Yang membuat saya prihatin, ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi untuk membuat desain tidak cepat dan mudah. Sedih, ternyata gambar-gambar pola baju dijual sangat murah di Tanah Abang, hanya Rp1.000 perlembar, masyaallah,” ucapnya kecewa.

Ujian kembali lagi datang ketika tempatnya berdagang di gusur, membuat bisnisnya gulung tikar.

Tak mudah baginya untuk kembali bangkit. Setelah keempat buah hatinya besar, pecinta olah raga ini kembali memulai bisnis dari bawah. Usaha konveksi dan toko telah ia tutup, ia kembali membuka jahitan, dengan menerima orderan baju seragam.

“Ada seragam sekolah, rumah sakit, organisasi. Saya mulai dengan beberapa tukang jahit saja,” paparnya.

Kini, wanita yang aktif di Komunitas Designer Etnik Indonesia ini, memilih jalan yang berbeda, tak lagi fokus memproduksi busana muslim dengan jumlah besar. “Sekarang saya mendesain busana sesuai idealisme. Artinya tidak dikelas konveksi,” tambah Yus yang kini memilih bisnis property untuk bisnis utamanya. ***

https://www.gonews.co/assets/news/11052017/gonewsco_ujvdc_20993.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments