Komoditas Forex: Di Antara Perang Bank Sentral yang Tak Lazim


Petugas menghitung pecahan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta. – JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam peperangan, umumnya setiap pihak berusaha mengeluarkan upaya terbaik untuk menjatuhkan lawan. Masing-masing pihak pun mempersiapkan peralatan tercanggih agar dapat bertahan dari gempuran musuh.

Namun, bagi ketiga bank sentral utama dunia, yaitu Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), strategi perang dalam konteks mata uang yang terbaik ialah mengalah. Ketiganya seolah meyakini prinsip mengalah untuk menang.

Asia Trade Point Futures (ATPF) dalam laporannya, Jumat (1/8), menyatakan The Fed, ECB, dan BoJ dinilai sudah cukup gerah dengan penguatan mata uangnya masing-masing, yakni dolar AS, euro (EUR), dan yen (JPY). Sikap tersebut agaknya tercermin dari pertemuan Jackson Hole pada akhir pekan lalu, tanggal 24-26 Agustus 2017.

Pada perdagangan Jumat (1/9) pukul 18.05 WIB, mata uang EUR naik 0,03% menuju 1,1925 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan harga naik 13,28%.

Dalam waktu yang sama, JPY turun 0,15% menjadi 110,14 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan harga terkoreksi 5,83%.

Adapun indeks dolar AS (DXY) tergelincir 0,05% menuju 92,621. Sepanjang 2017 harga merosot 9,38%.

Satu hal yang ditunggu oleh pelaku pasar dalam agenda Jackson Hole ialah bocoran tentang kebijakan moneter lanjutan dari ketiga bank sentral utama tersebut. Apa saja kebijakan moneter yang sudah mereka rencanakan dan ditunggu-tunggu pasar?

Pertama, di tengah mulai pulihnya ekonomi kawasan Benua Biru, ECB berencana untuk melakukan tapering terhadap program Quantitative Easing (QE). Artinya, Mario Draghi dan timnya tidak akan melanjutkan penyaluran stimulus sebesar 60 juta euro per bulan.

Kedua, The Fed sejak awal tahun 2017 telah mencanangkan akan melakukan kebijakan suku bunga yang agresif dengan melakukan kenaikan sebanyak tiga kali. Fed juga berencana melakukan pemangkasan aset senilai US$4,5 triliun.

Ketiga, BoJ berencana untuk melakukan pengurangan nilai pembelian aset keuangan. Di sisi lain, bank sentral juga ingin mempertahankan suku bunga negatif -0,1%.

Namun, belum rampung pembahasan isu kebijakan moneter dari ketiganya, sambung ATPF, pelaku pasar disuguhkan oleh kondisi penguatan signifikan yang terjadi pada euro. Sentimen ini direspons oleh Mario Draghi yang menyatakan ECB akan terus memperhatikan kenaikan EUR karena dianggap over shoot atau terlalu cepat.

Penguatan cukup tajam juga dialami oleh mata uang Yen. Pertumbuhan kedua mata uang, yakni EUR dan JPY, sebenarnya tidak lepas dari sifat kedua mata uang tersebut yang bersifat safe haven.

“Penguatan kedua mata uang itu terjadi karena kondisi ekonomi domestik yang mulai tampak membaik, dan berguncangnya kondisi geopolitik global. Faktor tersebut menyebabkan euro dan yen dengan sifat safe haven menjadi bergerak menguat dengan laju cukup cepat terhadap dolar AS,” papar ATPF.

Pelan tapi pasti, di tengah laju penguatan EUR dan JPY, DXY juga menanjak setelah mencapai level terendah dalam 2,5 tahun pada Senin (28/8) di posisi 92,207. Namun, ketiga EUR, JPY, dan DXY kembali mengalami fluktuasi, sehingga mengindikasikan adanya potensi perang mata uang.

Ingatan pelaku pasar pun kembali pada pertemuan Jackson Hole. Pada pertemuan pekan lalu, pernyataan masing-masing pejabat bank sentral memang tampak biasa-biasa saja.

Apalagi dalam sesi pidato The Fed, ECB, dan BoJ, tidak ada hal istimewa disampaikan seperti yang diharapkan pasar, sehingga cenderung bersifat normatif. Namun, melihat kondisi yang terjadi belakangan ini, pidato yang terkesan biasa biasa tersebut mengandung arti lain.

“Ketiga gubernur bank sentral tampak sedang menahan diri untuk tidak menyampaikan rencana kebijakan moneter ke depannya. Ada kesan mereka saling menunggu tentang kebijakan apa yang akan diambil,” ujar tim analis ATPF.

Menurut ATPF, pelaku pasar dilanda pertanyaan apakah peristiwa Jackson Hole kemarin merupakan strategi dari perang mata uang antara The Fed, ECB, dan BoJ. Kalaupun benar terjadi, ini menunjukkan sebuah perang mata uang yang tidak lazim karena justru ketiga gubernur bank sentral tidak ingin nilai mata uangnya lebih kuat dibanding yang lainnya.

Ketidaklaziman sikap mengalah untuk menang ini kemudian menyisakan sejumlah ketidakpastian. Di antaranya ialah, apakah ECB akan tetap melakukan tapering? Apakah BoJ akan tetap melakukan program pembelian aset untuk menjaga kurva yield-nya berada di angka 0%? Dan apakah The Fed akan konsisten dengan rencana 3x kenaikan suku bunga besera pengurangan aset keuangan The Fed?

Seperti diketahui, penguatan nilai mata uang yang terlalu tajam di dalam kondisi negara yang tengah dalam proses perbaikan ekonomi akan menjadi faktor yang kontraproduktif. Apalagi bagi negara yang mengandalkan ekspor dari sektor industri manufaktur dan teknologi seperti di Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

Yang pasti, dalam waktu dekat pasar akan memperhatikan data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat (1/9) waktu setempat. Pertumbuhan pekerja Non Farm Payroll (NPF) diperkirakan turun menjadi 180.000 dari sebelumnya 209.000. Bila terealisasi, dolar akan tertekan dan mengatrol EUR serta JPY.



Sumber Artikel

Komentar

comments