Kota di AS Berlomba Rayu Perusahaan Lewat Insentif US$ 45 Miliar


Liputan6.com, New York – Ketika perusahaan ternama AS Riddell Inc meninggalkan kota kecil di timur laut Ohio, Walikota Elyria, Holly Brinda datang dan menawarkan paket insentif pajak US$ 14 juta serta menyewakan tanah kepada perusahaan tersebut sebesar US$ 1 per tahunnya.

Ternyata tawaran itu belum cukup. Riddell, perusahaan produsen helm sepakbola yang digunakan oleh banyak perguruan tinggi dan pemain National Football League (NFL) ini memutuskan untuk memindahkan sekitar 320 lebih karyawannya ke kota tetangga yang jaraknya sejauh 2 mil.

Kota itu ternyata menawarkan insentif serta tarif pajak penghasilan perusahaan dan individu dengan nilai yang lebih menarik ketimbang tawaran yang diajukan Brinda.

Riddell merupakan satu dari banyak bisnis lokal di kota yang sudah Brinda pimpin selama 6 tahun terakhir. Akhir-akhir ini, persaingan ternyata tidak hanya muncul dari Meksiko, China atau beberapa negara lain yang kebanyakan menjanjikan upah murah dan pajak rendah.

Dalam banyak kasus, Elyria, yang merayakan ulang tahun kota ke-200 bulan ini, bersaing dengan kota-kota yang letaknya tak terlalu jauh.

Perlombaan untuk merayu perusahaan tidak hanya dilakukan pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah agar bisa bertahan di tengah perlambatan ekonomi, minimnya investasi dan banyaknya orang yang kehilangan kerja sebagai imbas dari otomatisasi.

Banyak kota-kota industri tua melihat insentif pajak sebagai salah satu pemanis yang bisa ditawarkan. Alhasil. insentif pajak untuk pembangunan ekonomi Amerika tercatat meningkat tiga kali lipat dalam 25 tahun terakhir, offsetting sekitar 30 persen dari pajak perusahaan yang menerima insentif dinyatakan akan dibayar di tahun 2015, dibandingkan tahun 1990 sekitar 9 persen.

Pada 2015, total insentif yang dikucurkan mencapai US$ 45 miliar dalam setahun. Hal ini mengacu analisis dari Timothy Bartik, seorang ekonom senior dari Institut W.E. Upjohn, Lembaga Penelitian Ketenagakerjaan di Kalamazoo, Michigan.

Penelitian tersebut mengamati 47 kota di 32 negara bagian ditambah District of Columbia. Jumlah insentif sebenarnya cenderung lebih tinggi karena analisis tidak menyertakan beberapa kota, termasuk Elyria.

Namun, Presiden terpilih Donald Trump tampaknya mendukung upaya produsen dan perusahaan besar lainnya untuk mengadu negara atau beberapa kota lainnya. Bahkan ia memberi peringatan kepada para pekerja Amerika yang berada di seberang perbatasan.  

“Anda dapat berpindah dari Michigan ke Tennessee, North Carolina ke South Carolina, Anda punya banyak tempat untuk berpindah dan saya tidak peduli selama itu berada di wilayah AS,” demikian disampaikan Trump seperti dilansir Fox Business, Minggu (19/3/2017).

Insentif naik setelah krisis keuangan, namun pertumbuhannya melambat pada 2016 karena beberapa negara dan pemerintah daerah mulai kembali memeriksa efektivitas dari program tersebut.

Tidak efektif

Pengamat dari University of Texas Nathan Jensen mengatakan, insentif pajak yang kecil untuk memacu penciptaan lapangan kerja atau pertumbuhan ekonomi.

 “Kebanyakan insentif “berlebihan,” dibandingkan angka penciptaan lapangan kerja yang dicetak perusahaan-perusahaan di empat negara yang menerima insentif pajak tersebut dengan perusahaan yang tidak menerima manfaat, maka berarti tidak berdampak pada perilaku,” kata Nathan.

Sementara itu, lembaga legislatif di Florida pada bulan ini menyetujui undang-undang untuk menghapus anggaran insentif pajak negara dan bantuan pembangunan lainnya. Florida memiliki iklim investasi yang baik dan tidak menarik pajak penghasilan.

“Kami akan lebih baik berfokus pada bentuk-bentuk lain dari pembangunan ekonomi seperti pendidikan dan infrastruktur,” ujar anggota DPR dari Partai Republik, Paul Renner.

Di Columbus, Ohio, tahun lalu bahkan telah membayar sebuah perusahaan konsultan sebesar US$ 150 ribu untuk melakukan analisis pertama kali tentang bagaimana hasil dari menumpuknya program insentif pajak kota terhadap program-program kota menengah lainnya di seluruh AS dan reaksi masyarakat sekitarnya.

Namun beberapa walikota merasa bahwa mereka tidak memiliki pilihan. Virg Bernero, Walikota Lansing, Michigan menyatakan ekonomi kota yang dipimpinnya bisa lesu jika tidak insentif ekonomi.

“Jika bangunan lama kosong dan industri terkontaminasi, maka memungkinkan untuk mengembangkan kembali tanpa insentif akan sulit. Tanpa insentif, kami tidak bisa berkompetisi karena daerah pinggiran kota saat ini secara rutin juga menawarkan insentif pajak,” papar dia.

 

 

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1415466/big/085590000_1479961917-liberty.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments