Kuartal I 2017, Bisnis Perhotelan di Yogyakarta MelesuSINDOnews


YOGYAKARTA – Libur panjang selalu diwarnai peningkatan jumlah tamu yang menginap di hotel. Sejumlah pengunjung mengaku kesulitan mendapatkan kamar hotel di libur panjang pada liburan Isra’ Mi’raj. Kalangan perhotelan terutama di kawasan ring I mengaku tingkat hunian mereka mencapai 100%.

Meski jumlah libur panjang bulan ini cukup banyak, namun tak begitu menolong bisnis perhotelan di wilayah ini. Tingkat hunian perhotelan tahun ini tak sebanyak tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang lalu, ternyata iklim perhotelan saat ini lebih lesu.

Ketua IHGMA Chapter Yogyakarta, Herryadi Baiin mengakui hal tersebut. Bisnis perhotelan saat ini agak berat karena banyak bermunculan pemain-pemain baru.

Hotel-hotel baru banyak bermunculan di wilayah ini seolah tidak terbendung. Di satu sisi kue wisatawan yang datang ke Yogyakarta tak bisa didongkrak lagi. “Banyaknya hotel baru memang masih menjadi permasalahan kami,” tuturnya, Senin (24/4/2017).

Dari tahun ke tahun, tingkat hunian hotel mengalami penurunan. Jualan kamar hotel pun saat ini terasa lebih sulit ketimbang beberapa tahun lalu. Mereka harus banyak-banyak melakukan jemput bola. Padahal beberapa tahun silam, mereka tidak perlu aktif bergerak untuk mendapatkan klien. Tamu sudah datang dengan sendirinya ke hotel untuk menginap.

Kini hotel-hotel baru banyak bermunculan dengan menawarkan sesuatu yang baru, mulai bangunan hingga layanan. Strategi promosi dengan konsep yang baru selalu menjadi terobosan mendapatkan tamu lebih banyak lagi. Kendati sebenarnya ada batas atas dan batas bawah dalam penentuan harga, namun terkadang diabaikan.

Oleh karena itu, mereka meminta perhatian pemerintah setempat untuk memperhatikan iklim persaingan bisnis perhotelan. Mereka berharap pemerintah dan insan paariwisata lainnya membuat terobosan-terobosan baru sehingga tamu yang hadir akan semakin banyak lagi.

Di samping itu, sebuah pekerjaan besar untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta. “Saat ini lama tinggal wisatawan masih singkat,” tuturnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, Istijab Danunagoro mengakui, tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel bintang di Yogyakarta tahun ini memang cukup sulit. Terlebih di semester pertama, terus mengalami penurunan di masa low season ini. Minimnya kunjungan wisatawan serta berkurangnya kegiatan MICE dari pemerintah selama awal tahun ini, berpengaruh terhadap tingkat hunian kamar hotel berbintang.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat secara rata-rata pada bulan FebruariĀ  2017 sebesar 57%. Angka ini mengalami penurunan 0,61 poin dibandingkan bulan sebelumnya, 57,61%. Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi hingga Idul Fitri nanti.

Kondisi lebih parah terjadi pada tingkat hunian kamar non bintang. TPK hotel non bintang/akomodasi lain rata-rata sebesar 26,70%. Angka tersebut mengalami penurunan 2,68 poin dibandingkan TPK bulan Januari yang mencapai 29,38%. “Low season memang terjadi setiap awal tahun,” tuturnya.

Rendahnya tingkat hunian hotel juga dipengaruhi oleh lama menginap wisatawan di Yogyakarta. Rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang di Yogyakarta bulan Februari 2017 mencapai 1,73 malam. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 0,48 malam bila dibandingkan dengan rata-rata lama menginap bulan sebelumnya.

Rata-rata tamu menginap terlama 2,04 malam terjadi pada hotel bintang lima, sedangkan tersingkat 1,52 malam pada hotel bintang dua. Pada hotel non bintang/akomodasi lain rata-rata lama menginap mencapai 1,29 malam, mengalami kenaikan sebesar 0,01 malam jika dibandingkan bulan sebelumnya.

https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2017/04/24/179/1199814/kuartal-i-2017-bisnis-perhotelan-di-yogyakarta-melesu-eCW.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments