Logam Mulia Diprediksi Masih Kinclong


Harga emas – Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas berpotensi semakin mengilap pada pekan ini seiring dengan kusamnya data ekonomi Amerika Serikat serta memanasnya politik Inggris jelang pemilihan umum.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/6), harga emas gold spot naik 13,21 poin atau 1,04% menjadi US$1.279,17 per troy ounce (Rp547.431,38 per gram). Ini merupakan level tertinggi sejak Jumat 21 April 2017 pada posisi US$1.284,44 per troy ounce.

Harga emas cenderung menguat setelah mencapai level US$1.219,10 pada 10 Mei 2017. Sepanjang tahun berjalan harga sudah meningkat 11,47%.

Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS turun 0,483 poin atau 0,50% menuju 96,715. Ini merupakan level terendah sejak Jumat 7 Oktober 2016 pada posisi 96,632.

Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menyampaikan, harga emas pada penutupan akhir pekan kemarin melonjak setelah dolar mengalami pemerosotan akibat melemahnya data tenaga kerja AS periode Mei 2017. Data tersebut mencakup tiga aspek yakni Non Farm Payroll (NFP), peningkatan upah per jam atau average hourly earnings, dan tingkat pengangguran.

“Data tenaga kerja menjadi salah satu sentimen yang ditunggu pasar karena menjadi acuan Federal Reserve dalam meningkatkan suku bunga,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (4/6).

Harga emas belum akan mengilap pesat karena pasar masih mengantisipasi kenaikan suku bunga AS dalam Federal Open Market Committee (FOMC) 14 Juni 2017. Probabilitas peningkatan Fed Fund Rate (FFR) sampai pekan lalu masih cukup besar pada kisaran 70%-80%.

Sementara itu, analis Natixis Bernard Dahdah dan Alomgir Miah dalam risetnya menyampaikan, kendati sedang mengalami tren meningkat harga emas masih dibayangi tekanan The Fed dalam mengerek suku bunga. Ada kemungkinan peningkatan FFR selanjutnya akan dilakukan pada Juni dan September 2017. “Pandangan kami terhadap harga emas ke depan masih bearish,” tulis keduanya.

Peningkatan suku bunga membuat investor tidak lagi menganggap emas sebagai aset lindung nilai. Bahkan ada kemungkinan sejumlah bank sentral seperti di Inggris dan Swiss semakin mengurangi cadangan batu kuning mereka.

Satu-satunya logam mulia yang masih bisa bersinar di bawah bayang-bayang The Fed ialah paladium. Pasalnya, 70% permintaan logam ini ditopang oleh industri otomotif. Namun, sebagai sarana investasi emas masih menjadi aset paling likuid di antara logam mulia lainnya.

Simak pergerakan emas secara live hari ini

 



Sumber Artikel

Komentar

comments