Masa Suram Bisnis Properti Telah Berakhir


JAKARTA, KompasProperti – Masa-masa perlambatan pasar properti Indonesia, khususnya kawasan Jadebotabek, sebagai pasar acuan dianggap telah berakhir.

Hal ini dibuktikan dengan nilai transaksi di pasar primer, dan sekunder pada kuartal I tahun 2017 yang menunjukkan pertumbuhan signifikan secara tahunan.

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung mengungkapkan nilai transaksi meningkat 42,5 persen menjadi sebesar Rp 224 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

“Sementara dilihat dari jumlah transaksinya naik 38 persen,” ujar Untung kepada KompasProperti, Rabu (3/5/2017).

Baca: Banyak Proyek Baru, Sinyal Kebangkitan Sektor Properti

Kendati nilai transaksi itu diakui Untung hanya berdasarkan value by sampling, namun pertumbuhan di atas 20 persen merupakan indikasi kuat pasar properti telah melewati masa-masa buruk.

Untung melanjutkan, kenaikan transaksi tersebut terjadi pada semua metriks yang disurvei. Untuk sektor apartemen naik 40,2 persen, rumah tapak 37,4 persen, ruko 39,5 persen, ruang komersial 45 persen, dan lahan 48,9 persen.

Properti dengan harga Rp 2,5 miliar ke atas menjadi pendorong kenaikan jumlah transaksi, walaupun tidak bisa menutupi penurunan yang didominasi oleh kelompok harga di bawahnya.

Menariknya harga rata-rata properti yang ditransaksikan pun mengalami pertumbuhan. Untuk apartemen menjadi rata-rata Rp 1,954 miliar, sebelumnya Rp 1,242 miliar.

Sementara rumah tapak menjadi rata-rata Rp 2,866 miliar dari sebelumnya Rp 2,679 miliar.

“Jadi, masa-masa suram telah berakhir sejak akhir 2016 lalu,” cetus Untung. 

Indikasi kuat lainnya adalah optimisme pengembang yang mulai berani mematok pertumbuhan target penjualan lebih tinggi dengan rentang pertumbuhan 15 persen hingga 50 persen.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) contohnya. Pengembang yang dirintis oleh Soetjipto Nagaria ini membidik pertumbuhan penjualan tertinggi di antara emiten besar lainnya yakni 50 persen.

Penjualan diharapkan menjadi Rp 4,5 triliun, dibanding realisasi tahun 2016 yakni senilai Rp 3 triliun.

Di posisi kedua terbesar adalah PT Intiland Development Tbk dengan besaran 41 persen. Tahun lalu, mereka mampu merealisasikan penjualan Rp 1,630 triliun. Tahun ini emiten berkode DILD ini mengincar penjualan Rp 2,3 triliun.

Menempati peringkat ketiga tertinggi adalah Ciputra Group dengan angka incaran 18 persen atau Rp 8,5 triliun. Tahun lalu, raksasa properti ini membukukan pendapatan Rp 7,2 triliun.

Berikutnya PT Pakuwon Jati Tbk dengan Rp 2,7 triliun. Target penjualan ini lebih tinggi 17 persen dibanding realisasi 2016 senilai Rp 2,3 triliun.

Sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membidik pertumbuhan penjualan 15 persen menjadi Rp 7,22 triliun dari sebelumnya Rp 6,3 triliun.

http://assets.kompas.com/crop/0x0:780×390/780×390/filters:watermark(data/photo/2017/02/01/3002105961.png,0,-0,1)/data/photo/2014/12/09/1932350shutterstock-1427701271780×390.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments