Memetik Manis Buah Perubahan Model Bisnis Bank Mega Syariah


Jakarta, CNN Indonesia
Catatan Bank Indonesia (BI)terhadap kinerja perbankan syariah pada 2015 lalu kurang menggembirakan. Pada periode itu, industri bank syariah cuma meraup pertumbuhan 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini lebih rendah dibanding bank umum konvensional yang mampu mencetak pertumbuhan 9,2 persen.

Setahun setelahnya, perbankan syariah membalikkan keadaan. Pertumbuhan perbankan syariah mengilap hingga 12 persen pada 2016. Sementara, bank umum cuma melambat di kisaran 7,2 persen.

Hal ini juga dialami PT Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI). Bank yang merupakan hasil akuisisi CT Copora melalui Mega Corpora dan PT Rekan Investama terhadap PT Bank Umum Tugu pada 2001 silam sukses menorehkan kinerja kinclong di sepanjang tahun lalu.

Lantas, seperti apa strategi yang dilakukan oleh Bank Mega Syariah dalam merangsang pertumbuhan bisnisnya? Berikut petikan wawancara wartawan CNNIndonesia.com Yuliyanna Fauzi dengan Direktur Utama Bank Mega Syariah Emmy Haryanti, Minggu (17/7).


Memetik Manis Buah Perubahan Model Bisnis Bank Mega SyariahDirektur Utama Bank Mega Syariah Emmy Haryanti menjelaskan perubahan model bisnis perusahaan. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).

T: Bank Mega Syariah berhasil menorehkan pertumbuhan dua digit pada tahun lalu? Strategi seperti apa yang diterapkan?

J: Tahun lalu, kami tumbuh kurang lebih sekitar 12 persen, dengan pertumbuhan aset 12 persen dan profit dari tahun 2015 ke tahun 2016 tumbuh hampir 800 persen. Secara nilai, profit menjadi sekitar Rp151 miliar dan aset tumbuh dari Rp5,4 triliun menjadi Rp6,1 triliun.

Kalau dari pertumbuhan memang ada, tapi dari segi pangsa pasar sebenarnya penetrasinya belum besar. Bahkan, pangsa pasar bank syariah sendiri hanya lima persen. Pernah lebih dari lima persen, tapi karena bank konvensional juga tumbuh, maka pangsa pasar ikut menyesuaikan.

Kuncinya adalah perubahan model bisnis dan efisiensi. Perubahan model bisnis kami lakukan sekitar dua tahun ini. Kami mengubah bisnis model dari mikro menuju komersial atau joint financing menjadi ritel. Jadi, kami turut mengubah segmentasi. Ritel ini dari segi pembiayaan dan pendanaan.

Yang kedua, efisiensi. Efisiensi dari sisi produktivitas karyawan. Karena kami mengubah model bisnis dari mikro ke komersial. Tentu, ada tahapan yang harus dilakukan. Tahapannya tak begitu populer, namun nyatanya efisiensi ini berhasil memberi dampak kepada perusahaan yang terbilang sangat besar.

Efisiensi tersebut, yaitu menutup kantor cabang yang tidak begitu produktif lagi agar tidak menjadi beban. Beberapa kantor cabang rupanya tidak begitu baik prestasinya, maka perlu sekali efisiensi.

T: Untuk efisiensi kantor cabang, berapa banyak yang ditutup oleh Bank Mega Syariah?

J: Dulu kami punya kantor di atas 300 kantor, sekarang tinggal 58 kantor cabang dan 12 kantor fungsional.

T: Bagaimana dengan karyawan?

J: Tentu kami menyesuaikan. Karena bisnis modelnya berubah, jadi mau tidak mau tentu ada penyesuaian. Kami sebenarnya membuka kesempatan bagi yang mau berubah juga bersama kami, seiring adanya perubahan model bisnis, karena kan beda. Ternyata itu secara alamiah, ada yang mau tidak mau tidak bisa menyesuaikan jadi berbeda jalan.

T: Dengan perubahan model bisnis, bagaimana target-target perusahaan saat ini atau rencana bisnis di tahun ini?

J: Karena dasarnya melakukan penyesuaian model bisnis yang baru dan penyelesaian daripada pembiayaan baru. Maka, kami sekarang lebih berhati-hati dan melihat sektor yang kami tuju atau mau kami masuki. Misalnya, kami coba masuk ke properti, dan infrastruktur, jasa juga kami masuk. Pokoknya yang sesuai dengan perhitungan kami.

T: Bagaimana pemetaan target tahun ini kalau dilihat dari sektor tadi?

J: Saat ini paling banyak masih konsumer, itu sekitar 55 persen. Lalu, sektor produktif itu mungkin hampir 45 persen. Kemudian, properti, masih sedikit tapi sudah mulai.

Tetapi, di tahun ini, kami ingin sektor produktif bisa tembus sampai 50 persen. Di sisi lain, konsumer mungkin turun secara persentase, namun secara volumenya bertambah. Kami harap.

T: Caranya?

J: Tahun ini kami ingin lebih kembangkan sinergi dengan perusahaan CT Corpora lainnya. Jadi, kunci tahun ini maksimalkan sinergi. Selain itu, kami juga sesuaikan target pembiayaan dengan fokus kami saat ini.

Intinya, kami terus mensyiarkan, karena mungkin syariahnya saja banyak yang belum kenal, termasuk Bank Mega Syariah-nya. Jadi, kami masih harus melakukan penetrasi pasar di seluruh Indonesia, yang mana saat ini ada sekitar 58 kantor cabang. Ini kami maksimalkan kepada para front liner di setiap cabang.

T: Lalu, target bisnis?

J: Tahun lalu, kami tumbuh 12 persen, tentu kami harapkan selalu tumbuh dua digit, termasuk di tahun ini. Karena kami juga ingin mengimbangi pertumbuhan industri. Jangan sampai industri naik (pertumbuhannya), tapi kami tidak. Walaupun, mungkin kami masih di batas bawah, tapi kami mau samakan dengan industri.

Tahun ini kami targetkan mendekati Rp7 triliun untuk aset. Untuk profit, ditargetkan Rp150 miliar sampai Rp200 miliar. Karena kan saat ini kami sudah jadi Bank Buku II.

T: Bagaimana dengan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)? Untuk syariah ini masih tinggi ya?

J: Pengendalian BOPO tentu kami punya target, minimal 80 persen. Sampai akhir tahun ini, kami targetkan pada kisaran tersebut. Pada semester I 2017 lalu, sebenarnya kami ingin mendekati 80 persen, tapi ada banyak pertimbangan.

Karena industri syariah itu masalahnya ada di size (ukuran), sehingga economic skill-nya belum cukup masuk. Kalau bank konvensional sudah cukup masuk, sehingga seluruh investasinya sudah masuk.

Kalau kami mau tidak mau yang harus digenjot adalah dari sisi pendapatannya, sehingga dari setiap rupiah yang diinvestasikan, bisa menghasilkan. Kami juga tak bisa menekan terlalu besar, karena harus dilihat. Kalau tidak produktif ya kami cut (potong), misalnya ke efisiensi yang waktu itu kami lakukan.

T: Ada rencana tambahan modal di tahun ini?

J: Sebenarnya, sudah dilakukan tahun lalu, tahun lalu kami dari Buku I menjadi Buku II. Dari modal di bawah Rp1 triliun. Lalu pada awal tahun lalu, pemegang saham menambah modal, sehingga kami menjadi Buku II, dengan modal lebih dari Rp1 triliun. Itu masih cukup.

T: Kalau penerbitan kartu kredit? Perusahaan sempat ingin mencobanya di tahun ini atau tahun depan?

J: Tentu kami melihat hal itu, Bank Mega (konvensional) punya kartu kredit. Ke depan, kami mau juga tapi harus dilihat dulu. Jadi, bukan hanya mengikuti tapi kami lihat potensinya. Ternyata, ada potensinya dan beberapa bank syariah juga sudah punya.

Belum lagi, ini cocok untuk sinergi dengan perusahaan CT Corpora lainnya. Misalnya, saat ini, ada Transmart. Itu bisa kami rangkul konsumennya.

T: Evaluasi sampai semester I 2017?

J: Evaluasi sampai semester I, kami sudah cukup baik tapi kalau dikatakan sudah sesuai dengan target atau tidak, ya tentu belum. Kami evaluasi agar pertanggungjawaban kepada pemegang saham dan pengawas menjadi konsen kami.

Sampai semester I, aset menjadi Rp6,5 triliun tumbuh 6,15 persen dari tahun lalu Rp6,1 triliun. Kemudian, laba sebelum kena pajak mencapai Rp50 miliar. Tahun lalu, mencapai Rp171,5 miliar dan 2015 sebesar Rp151 miliar. Laba bersih belum kami kalkulasikan tapi trennya meningkat dari tahun lalu Rp110,7 miliar.

Lalu, rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) di angka 2,79 persen, membaik dari akhir tahun lalu, 2,81 persen, dan tahun sebelumnya 3,16 persen. Sektor yang mendominasi NPF masih di pembiayaan mikro. (bir)

https://images.cnnindonesia.com/visual/2017/07/17/9ce5da33-52fe-4e07-9b25-422b3ba92fa3.jpg?w=650



Sumber Artikel

Komentar

comments