Memoles Literasi demi Bisnis Mumpuni



Metrotvnews.com, Jakarta: Jakarta seolah tidak pernah bebas dari kemacetan. Media Indonesia bahkan sempat terjebak oleh kusutnya lalu lintas Ibu Kota sebelum bertemu CEO of Shopee Chris Feng.

Untunglah, meski dalam keterbatasan waktu, pria yang sukses mendirikan marketplace asal ‘Negeri Singa’ itu tetap antusias dalam menjalankan sesi wawancara di Wisma 77, Jakarta Barat, Selasa 14 Februari. Bermarkas di Singapura, memaksa Feng mondar-mandir ke sejumlah kantor cabang yang tersebar di penjuru kawasan Asia Tenggara.

Maklum saja, sejak diluncurkan pertengahan 2015 lalu, Shopee berhasil menerabas sejumlah pasar perdagangan elektronik (e-commerce) di ASEAN, mulai Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Indonesia. Bahkan, Shopee digadang mulai menggeliat menjadi penguasa pasar mobile marketplace di ASEAN.

“Kami melihat ada perubahan dari tren penggunaan internet, yang semula diakses lewat komputer (PC) kini beralih ke telepon seluler (mobile phone). Di situ kami memandang ada potensi besar untuk mengembangkan marketplace berbasis mobile,” tutur Feng dengan ramah.

Berbeda dengan pelaku e-commerce yang pada umumnya memulai pengembangan aplikasi berbasis desktop, Shopee langsung menyasar platform berbasis mobile. Wajar bila mengingat rasio penggunaan telepon pintar (smartphone) kian melesat tajam.

Rerata rasio penggunaan smartphone di dunia melampaui level 50 persen dan diproyeksikan meningkat hingga 75 persen pada 2020. Kondisi tersebut ditengarai juga tecermin di Indonesia. Berdasarkan penelusuran internal Shopee per Desember 2016, 70 persen pengguna terpantau melakukan transaksi melalui aplikasi yang terpasang di ponsel.

Kendati demikian, Shopee tetap mengakomodasi kebutuhan pengguna desktop. Pasalnya, sambung dia, masih ada pengguna yang lebih nyaman memakai komputer untuk mencari informasi mengenai produk atau sekadar membandingkan harga.

Feng optimistis tren pengembangan bisnis e-commerce ke depan condong ke platform mobile ketimbang situs versi desktop. “Saat ini orang lebih suka berlama-lama mengakses segala kebutuhan lewat telepon genggam,” tukasnya.

Sebagai negara berkembang yang kerap dijuluki pasar potensial dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia dikatakan Feng berkontribusi sebesar 40 persen pada capaian bisnis perusahaan. Riuhnya pemain e-commerce mulai skala lokal hingga multinasiomal nyatanya tak menyurutkan minat Shopee menjajal pasar Indonesia.

“Memang kami masih pemain baru di market Indonesia, tapi kami sudah happy dengan capaian sampai saat ini. Jumlah pengunduh aplikasi Shopee tercatat 8 juta kali dengan 150 ribu transaksi per hari dengan listing produk lebih dari 30 juta,” imbuhnya.

Dengan berapi-api, Feng mengungkapkan jumlah unduhan aplikasi Shopee di Indonesia paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di region ASEAN dan Taiwan. Meski tergolong anyar, Shopee perlahan mulai memahami karakteristik pasar di Indonesia.

Penjual dan pembeli dikatakannya cenderung melakukan interaksi atau diskusi sebelum berakhir pada transaksi. Kondisi itu terlihat dari 75 persen pengguna yang mengakses fitur in-app chat di aplikasi Shopee.


CEO Shopee Chris Feng (kanan) mengunjungi sejumlah stan dalam Shopee Celebration Bazaar di Balairung Universitas Indonesia, Depok (FOTO: ANTARA)

“Fitur in-app chat kami sediakan agar penjual dan pembeli dapat berkomunikasi lebih detail soal informasi produk maupun kredibilitas penjual. Layaknya Instagram, pengguna Shopee juga bisa mengikuti akun penjual yang tertera di aplikasi,” urainya yang menekankan fitur tersebut diklaim memudahkan proses pra- hingga pascatransaksi.

Dia mengamini penduduk Indonesia tak asing lagi dengan industri e-commerce yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pihaknya mengaku beruntung tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengenalkan fitur Shopee kala menginjakkan kaki di Indonesia.

Namun, yang menjadi fokus utama bagi Shopee saat ini ialah upaya penetrasi terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). Feng mengungkapkan mayoritas pelaku usaha yang tergabung di Shopee berasal dari sektor UKM, tidak banyak berskala besar. Pihaknya pun lantas membentuk wadah edukasi bagi pelapak daring, terkhusus UKM.

Melalui Kampus Shopee yang laiknya kelas kecil, kebingungan pelaku usaha dalam menjalankan bisnis daring diusahakan diurai dengan kiat-kiat khusus. Shopee tidak hanya memastikan kelancaran bisnis para pelaku yang bernaung di bawah payung marketplace tersebut, tetapi juga ingin meningkatkan literasi.

Terutama bagi pemain baru yang masih awam dengan bisnis daring. Tahun ini road show Kampus Shopee terus bergerak ke penjuru wilayah di Tanah Air.

“Bagaimanapun edukasi itu penting. Kami jalankan Kampus Shopee untuk membantu penjual, apalagi pemula, agar dapat memahami bisnis online. Kami berharap semakin banyak SMEs (small and medium-sized enterprises/UKM) yang berpartisipasi. Sejauh ini Kampus Shopee direspons positif,” ungkap Feng.

Ia menambahkan, banyak pemain baru di bisnis daring yang membanjiri lapak Shopee.

Dukungan pemerintah

Hingga kini, Shopee disebutnya telah berhasil menjangkau lebih dari 515 kota dan kabupaten di Indonesia. Memang, lanjut dia, wilayah Jawa masih menguasai lalu lintas bisnis Shopee. Namun, Feng berpendapat wilayah di luar Jawa, termasuk Indonesia Timur, memiliki potensi besar.

Dia pun berharap pemerintah mendukung keberlangsungan industri e-commerce dari ketersediaan akses infrastruktur untuk menyokong jasa logistik, hingga kemudahan sistem transaksi pembayaran (payment). Pemerintah diketahui telah mengeluarkan peta jalan (road map) industri e-commerce yang tertuang dalam paket kebijakan ekonomi jilid 14.

Tujuan membangun ekosistem perdagangan elektronik diiringi harapan agar sektor tersebut turut menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Feng mengapresiasi itikad pemerintah Indonesia yang memberikan ruang terhadap perkembangan industri e-commerce.

“Bisa dibilang kami happy melihat tingginya dukungan pemerintah terhadap sektor ini. Cuman, lagi-lagi kami berharap dukungan itu direalisasikan dalam penyediaan akses infrastruktur yang memadai. Bagaimanapun kelancaran arus barang memegang peranan penting. Begitu pula terhadap kemudahan transaksi pembayaran,” jelas dia.

Secara global, Shopee mencatatkan pertumbuhan signifikan di kawasan ASEAN dan Taiwan dengan total nilai transaksi lebih dari USD2,5 miliar per Januari 2017. Aplikasi Shopee telah diunduh lebih dari 29 juta kali dengan total listing mencapai lebih dari 98 juta.

Dalam kesempatan ini, Feng enggan blak-blakan mengemukakan target perusahaan ke depan, utamanya dari transaksi. Hanya saja dia menekankan perusahaan sudah menancapkan tujuan utama untuk menjadi marketplace terbesar di ranah global. Dengan masifnya pertumbuhan industri e-commerce dan geliat kecerdasan masyarakat, pun inovasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Pihaknya berkomitmen melakukan eksplorasi untuk menciptakan platform yang membawa perubahan. “Selain ingin menjadi yang terbesar, penting juga untuk menumbuhkan ekosistem bisnis e-commerce yang mumpuni. Kami ingin semakin banyak entrepreneur yang terlibat dan paham dengan platform ini,” ucap Feng yang pernah menjadi Regional Managing Director of Zalora Southeast Asia.

Menjadi bermakna

Pria lulusan National University of Singapore (School of Computing) ini enggan berkisah lebih detail mengenai kehidupan pribadinya. Tatkala disinggung siapa sosok yang menjadi panutan, Feng dengan nada bercanda mengaku belum menemukan sosok inspiratif, termasuk saat ditanyai mengenai peranan kedua orangtua.

Begitu pertanyaan bergulir ihwal kunci kesuksesan dalam memimpin perusahaan multinasional di usia yang relatif muda, seraya merendah dia berdalih usianya terbilang tak lagi muda. Apalagi, kata dia, bila dibandingkan dengan para karyawan yang bekerja di Shopee.

“Saya kira tidak lagi muda, ya, karena banyak orang yang lebih muda bekerja dengan saya. Apalagi industri e-commerce ini dipenuhi orang-orang muda,” selorohnya.

Namun, Feng mengisyaratkan untuk menggapai impian Shopee sebagai perusahaan e-commerce raksasa, dia harus memastikan bahwa karyawan yang menjadi timnya berada pada kapal yang sama.

Dalam artian memiliki tujuan dan passion serupa. Itu dikatakannya penting agar segala visi dan misi berjalan seirama. (Media Indonesia)

(AHL)

http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/content/2017/02/20/660777/zhiqHetv1R.jpg?w=650



Sumber Artikel

Komentar

comments