Menengok Trans Papua, Jalan yang Membelah Hutan dan Bukit


Liputan6.com, Papua Barat – Pemerintah terus membangun infrastruktur. Tidak hanya di wilayah barat, namun sampai wilayah Indonesia timur. Tujuannya, untuk menghilangkan ketimpangan antar wilayah.

Salah satu pembangunan yang dicanangkan pemerintah untuk wilayah timur Indonesia ialah Trans Papua yang terdiri dari Papua dan Papua Barat.

Liputan6.com mendapat kesempatan meninjau langsung jalan Trans Papua bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) di akhir pekan ini. Rombongan meninjau langsung Trans Papua, khususnya untuk Papua Barat.

Trans Papua untuk Papua Barat terdiri dari dua segmen. Segmen I yakni menghubungkan Sorong-Kambuaya-Manowari dengan total panjang 594,91 km. Sementara segmen II melintas Manokwari-Wasior-Batas Provinsi Papua dengan panjang 475,81 km. Total panjang untuk Trans Papua Barat mencapai 1.070,62 km.

Rombongan memulai perjalan di titik kilometer (km) 0 Sorong yakni Gereja Imanuel dengan tujuan Manokwari. Perjalanan menggunakan mobil besar 4WD yang handal melewati jalan terjal. Perjalanan dimulai pada Jumat 17 Februari 2017 sekitar pukul 12.30 WIT.

Jalan di Papua

Meninggalkan Sorong, rombongan terus melewati jalanan aspal yang cukup baik. Rombongan melintas jalan selebar kurang lebih 6 meter yang berliku dan menembus hutan. Tak jarang pula melintas jalan berbukit.

Pada tahap awal ini, terlihat pula pipa minyak terlihat di samping jalan. Sesekali, juga nampak perkebunan sawit.

Perhatian tersita saat memasuki km 60 dan beberapa km selanjutnya. Selama perjalanan, ada perubahan lapisan jalan dari aspal menjadi beton. Bukan tanpa alasan, jalan tersebut dibeton. Lantaran, jalan ini dibangun di tanah lunak sehingga perlu penanganan khusus.

“Jadi kalau Sorong sampai km 60-an memang kondisi tanah dasar tanah lembek, lunak, ekspan,” kata Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional 17 Papua Barat, Direktorat Jenderal Bina Marga, Yohanis Tulak, seperti ditulis Minggu (19/2/2017).

Jalan di Papua

Sepanjang perjalanan, rombongan juga dihadapkan pada pemandangan yang menarik seperti bukit kapur yang terbelah untuk jalan. Di hari pertama, rombongan memutuskan untuk rehat di Ayawasi di mana waktu menunjukan pukul 20.30 WIT.

Di hari kedua, Sabtu 18 Februari 2017, perjalanan dimulai pukul 8.30 WIT. Sebagai awalan, rombongan menyempatkan diri untuk menengok basecamp di Ayawasi. Di sini terdapat produksi pemecahan batu, pencampuran aspal, dan tempat menyimpan alat berat.

Perjalanan berlanjut dan lebih menantang saat berada di titik km 252. Ini adalah titik terakhir aspal dari titik 0 Sorong. Setelah melewati sebuah jembatan, mobil rombongan mesti menanjak ke bukit yang tinggi. Terlihat jelas bukit yang benar-benar di belah. Di sisi kanan dan kiri terlihat tembok batu dan ada pula tebing jurang. Tak lama berselang, rombongan sampai pada puncak.

“Ini adalah Petik Bintang di km 259,” ujar Tulak.

Sampai di ujung, rombongan melewati turunan yang terjal yang disebut Turunan S. Turunan S merupakan jalan dengan belokan yang sangat menukik. Jalan ini masih berupa tanah dengan butiran batu.

Berlanjut, medan semakin berat karena jalan berupa tanah batu dan lumpur. Ini membuat tim lebih berhati saat menempuh rute. Hingga akhirnya sampai pada Jembatan Sisu terletak di km 290. Usai melewati Jembatan Sisu jalan masih berupa tanah dan kerikil batu.Setelah itu, jalanan pun membaik saat mencapai Meah. Jalanan aspal dan mulus dilewati oleh rombongan.

Jalan di Papua

Mata seolah dimanjakan sejenak saat melintas di Kebar. Di Kebar tim bisa melihat padang rumput hijau yang luas. Padang rumput dihiasi oleh latar belakang perbukitan. Udaranya pun sejuk. Alhasil, rombongan pun menyempatkan diri untuk turun dari mobil.

Terus berjalan, rombongan kembali mendapati medan yang cukup berat lantaran mesti melewati sungai dan puncaknya saat melewati ‘gunung pasir’ jelang memasuki Arfu. Jalanan di gunung pasir sulit dilewati karena medannya berupa pasir dan batu. Jalannya pun tidak rata.

Melewati gunung pasir, hari memasuki malam. Rombongan pun terus melanjutkan perjalanan dan tanpa kendala berarti. Waktu menunjukan pukul 22.15 WIT saat sampai Manokwari atau menyelesaikan segmen I Trans Papua Barat.

Tulak mengatakan, Trans Papua sejatinya melanjutkan pembangunan jalan yang sudah ada. Jadi memudahkan masyarakat mendapatkan kemudahan akses.

“Kalau saya melanjutkan baik membangun baru, maupun meningkatkan, membangun hutan, jembatan, peningkatan aspal memperbaiki geometrik tanjakan berat, tikungan terlalu tajam,” kata dia. Kondisi terkini, untuk segmen I semua jalan sudah terhubung. Namun, masih ada sekitar 134,88 km yang belum teraspal.

Jalan di Papua

Sementara, untuk segmen II jalan yang sudah terbuka sepanjang 463.96 km dari 475,81 km. Jalan yang sudah teraspal sekitar 147,99 km dan sisanya 315,96 km berupa jalan tanah. Masih ada sekitar 11,86 km belum terhubung atau masih dalam bentuk hutan.

Sebagai tambahan, jalan Trans Papua Barat akan terhubung dengan Trans Papua. Trans Papua saja memiliki 10 segmen dengan total panjang 3.259,45 km.

Adapun Trans Papua terdiri dari segmen Kwatisore-Nabire, Nabire-Wagete-Enarotali, Enarotali-Ilaga-Wamena. Kemudian, Wamena-Elelim-Jayapura, Wamena-Habema-Kenyam-Mumugu. Berlanjut, Kenyam-Dekai, Dekai-Oksibil, Oksibil-Waropko, Waropko-Tanah Merah-Merauke, dan Wagete-Timika.

 

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1511810/big/015488200_1487468620-Jalan_di_Papua_5-ok.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments