Menjadikan Bisnis sebagai Budaya | Investor Daily


Menjadikan Bisnis sebagai Budaya
Oleh Mardiana Makmun | Kamis, 2 Maret 2017 | 23:55

Sharmila, Ketua Induk Koperasi Wanita Indonesia (Inkowapi)Sharmila, Ketua Induk Koperasi Wanita Indonesia (Inkowapi)

Tak kenal lelah, lewat Inkowapi
dan Komunitas Sahara, Sharmila menularkan ilmu berbisnis kepada masyarakat
Indonesia, terutama perempuan. Tekadnya satu, menjadikan bisnis sebagai budaya
di Indonesia.

 

“Bisnis itu tidak diajarkan
di masyarakat. Bisnis
itu tidak jadi budaya di Indonesia.
Karena itu lihat saja, tidak banyak anak-anak Indonesia yang sejak kecilnya
bercita-cita menjadi pebisnis. Sebagian besar ingin menjadi pegawai negeri,
pegawai bank, bukan pebisnis,” kata Sharmila miris kepada Investor
Daily
di
Jakarta, baru-baru ini.

 

Keprihatinan Sharmila
timbul melihat banyaknya perempuan-perempuan yang terpaksa berbisnis
(berdagang) demi membantu keuangan keluarga. “Perempuan Indonesia itu
sebenarnya berbakat bisnis, apalagi ketika terpaksa demi membantu keuangan
keluarga, tetapi karena bisnis bukan budaya yang dibangun di masyarakat,
hasilnya tidak maksimal. Ini yang menjadi perhatian saya,” kata Sharmila yang
juga pendiri Komunitas Sahara (Sahabat Usaha Rakyat).

 

Dalam catatannya, ada lima
permasalahan yang dialami perempuan pebisnis di Indonesia. “Legalitas,
permodalan, pendidikan, jaringan dan pemasaran, serta tak melek teknologi
informasi,” papar Sharmila.

 

Soal legalitas, kata
Sharmila, menjadi yang paling membingungkan. “Pengurusan legalitas dengan
sistem online itu
sangat membingungkan ibu-ibu, saya berharap sistem ini lebih dulu disosialisasikan
sehingga lebih mudah dimengerti,” kata Sharmila.

 

Selain tidak memiliki akses
pada sumber permodalan, sebagian perempuan juga tidak memiliki kemampuan
mengelola keuangan. “Uang usaha bercampur dengan uang pribadi. Padahal,
suksesnya pengusaha bukan karena banyak duit, tapi bagaimana dia terampil
mengelola uang,” tegas Sharmila.

 

Perempuan, kata Sharmila,
juga banyak yang cepat berpuas diri. “Kalau sudah bisnis, tidak mau belajar
lagi. Minimal ya dia harus belajar hal yang terkait dengan bisnisnya. Apalagi
dunia bisnis juga selalu mengalami perubahan,” ungkap dia. Yang lucu, semua
perempuan Indonesia sepertinya punya bakat berbisnis, tetapi mengapa jaringan
pemasarannya hanya terbatas di komunitasnya saja.

 

“Ini juga terkait dengan
banyak perempuan yang gaptek (gagap teknologi), tidak bisa memakai komputer
atau smartphone,
tidak mengerti internet, sehingga menghambat perkembangan bisnisnya,” papar Sharmila.

 

Tak heran, lanjut Sharmila,
karena faktor gaptek inilah, saat ini perempuan secara umum berada di urutan
belakang di kategori pelaku bisnis yang sukses. “Sekarang ini nomor satu
pebisnis yang sukses berasal dari kalangan netizen, lalu youth, dan
terakhir women,”
papar dia.

 

Pelatihan

Melihat fakta itu, melalui
Inkowapi, Sharmila gencar menggelar pelatihan untuk para perempuan. “Salah
satunya pelatihan bagaimana membuat proposal untuk pengajuan pinjaman ke bank, pelatihan
pengelolaan keuangan, dan lain-lain,” jelas dia.

 

Selain lewat Inkowapi, saat
ini budaya berbisnis juga ia tularkan lewat Komunitas Sahara yang tak hanya
menyasar perempuan tetapi juga pria. “Ada banyak masyarakat, baik wanita dan
pria, dewasa dan anak muda, yang ingin berbisnis tetapi tidak mengerti caranya.
Nah bergabung di Sahara akan mendapat pelatihan dan pilihan berbisnis sesuai program
yang sudah diluncurkan,” jelas Sharmila.

 

Sebelumnya, pada 2016
Sahara meluncurkan bisnis travel mengingat tingginya pegerakan wisatawan
domestik ke destinasi wisata di Indonesia. “Tahun 2017, Sahara meluncurkan
program bisnis sembako. Cukup membayar Rp 35 juta, Sahara akan membuatkan toko
sembako dan memasok sembako dengan harga murah sehingga bisa bersaing dengan toko
lainnya,” kata Sharmila yang saat ini sudah membangunkan toko sembako untuk
wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

 

Soal modal, kata Sharmila,
ada banyak jalan untuk mendapatkannya. Dia menceritakan pengalaman salah satu anggota
Sahara yang membuatnya terharu dan bangga. “Ada ibu-ibu yang berhasil
mendapatkan dana hibah setelah mampu membuat proposal pengajuan dana dari
pelatihan yang kami berikan. Sekarang, ibu itu bisa membantu keuangan keluarga
dari toko sembakonya,” cerita Sharmila bangga.

 

Kebanggaan dari
keberhasilan para pengusaha yang dibimbingnya itu menjadi penyemangat hidup
Sharmila. “Ini bagian dari ibadah saya. Saya gak pernah merasa lelah
melakukannya, memberikan pelatihan dan edukasi kepada pengusaha pemula,
terutama ibu-ibu, mungkin karena ini adalah passion saya ya,”
ungkap dia.

 

Menilik ke masa kecilnya,
ternyata Sharmila kecil sudah dididik menjadi pengusaha oleh ayahnya. “Ayah
saya pengusaha. Beliau mengekspor rempah-rempah, mulai kayu manis, kapulaga,
merica, bahkan juga mengekspor sapu lidi dan sandal jepit. Sejak kecil saya
sudah diajari bagaimana berdagang, bahkan mengisi lembaran LC (letter of
credit
).
Jadi sejak kecil, tak terpikir di kepala saya untuk menjadi pegawai negeri,
saya cuma ingin jadi pengusaha,” tandas Sharmila. (*)


Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Sumber Artikel

Komentar

comments