Meski Hidup Tanpa Tangan, Firman Sukses Bisnis Edit Fotografi


WONOSOBO, KOMPAS.com – Hidup Stefanus Firman Santoso (24) sempat terpuruk ketika sebuah kecelakaan kerja menimpa dirinya sembilan tahun lalu.

Pemuda asal Dusun Gondang, Desa Jogoyitnan, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu tersengat listrik tegangan tinggi hingga menyebabkan kedua tangannya terluka parah dan harus diamputasi.

Firman yang kala itu masih remaja merasa hidupnya tidak lagi berguna. Ia berubah menjadi sosok pemurung, pemalu, bahkan selama hampir setahun ia mengurung diri tidak mau bertemu dengan siapa pun.

Padahal anak keempat dari 6 bersaudara itu dikenal sebagai anak yang riang dan rajin bekerja meski hanya lulusan SMP.

“Hidup saya sempat meredup pasca-amputasi tangan. Saya merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini,” ujar Firman, Kamis (13/4/2017).

Kisah Firman mengetuk hati seorang pemuda yang juga difabel, Aceng Dani Setiawan. Aceng berhasil memotivasi Firman agar tetap hidup bersemangat meski hidup tanpa tangan. Aceng sendiri kini sudah meninggal dunia.

“Saya dimotivasi oleh almarhum (Aceng Dani Setiawan). Dia menyemangati saya untuk melanjutkan hidup dengan tetap bekerja meski dengan keterbatasan,” ujarnya.

Firman mulai membuka diri. Ia bergabung dengan orang-orang sesama penyandang difabel Kabupaten Wonosobo. Dia juga bersemangat saat dikirim Dinas Sosial setempat untuk menjalani rehabilitasi di Rehab Center (RC) di Surakarta, Jawa Tengah.

Pemuda yang gemar bernyanyi dan bermain musik itu ikut berbagai pelatihan. Tak sebatas menjahit atau teknik perbengkelan, Firman pun melatih kedua kakinya agar mampu memetik gitar kegemarannya.

“Seperti alhamarhum mas Aceng yang juga sangat mahir bernyanyi sambil memetik gitar dengan kaki,” tuturnya.

Putra Bapak Kasmadi itu pernah mendapat bantuan tangan palsu dari United Cerebral Palsy (UCP). Namun akhirnya dilepas karena Firman mengaku lebih nyaman dengan kedua lengan tanpa tangan. Tangan palsu itu justru membuatnya kesulitan beraktivitas.

Pertengahan tahun 2015, Firman mulai membuka bisnis sendiri. Keahlianya mengolah foto dan gambar melalui aplikasi di komputer menjadi modal Firman untuk berbisnis.

Pemuda ini lalu memberanikan diri menyewa kios tidak jauh dari rumahnya untuk melayani permintaan cetak foto dan foto kopi.

Kedua tangannya memang tidak utuh lagi, tapi Firman sangat cekatan mengerjakan beberapa edit foto melalui aplikasi Photoshop yang dia kuasai sejak pelatihan di Surakarta.

Ia juga tidak malu untuk tetap belajar agar kualitas editing-nya semakin bagus.

Keuletannya dan kemandiriannya membuahkan hasil menggembirakan. Bisnisnya perlahan mulai tumbuh. Ia kini memiliki banyak pelanggan berkat kualitas produk serta pelayanan yang memuaskan.

“Saya memang tidak ingin bergantung dengan orang lain, walaupun saya tidak punya tangan. Saya rintis bisnis ini dengan usaha saya sendiri dan tentu saya ingin mengembangkannya,” ujar Firman optimistis.

Firman sangat bersyukur ada beberapa pihak yang memberikan bantuan untuk pengembangan bisnisnya. Salah satunya dari Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNIPolri (FKPPI) yang memberikan seperangkat komputer.

“Senang sekali bisa menerima bantuan berupa komputer ini, karena selama ini memang membutuhkan untuk meningkatkan kecepatan olah foto,” tutur Firman.

Pembina FKPPI Wonosobo, Agus Purnomo, mengungkapkan bahwa semangat yang dimiliki Firman telah menginspirasi dan perlu mendapat dukungan banyak pihak.

Ia berharap bantuan komputer yang diberikan menjadi stimulan agar Firman terus bekerja meraih masa depannya yang cerah.

“Semoga ini menjadi penyemangat bagi Firman agar masa depannya lebih cerah, serta mampu menjadi teladan bagi kita semua,” ucap Agus.

http://assets.kompas.com/crop/0x49:1000×715/780×390/filters:watermark(data/photo/2017/02/01/11002224751.png,0,-0,1)/data/photo/2017/04/14/3006004655.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments