OJK Paparkan Tren Bisnis Perbankan ke Depan


OJK Paparkan Tren Bisnis Perbankan ke Depan
Kamis, 23 Maret 2017 | 18:42

OJK. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIMOJK. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

JAKARTA– Kepala Departemen
Pengembangan dan Manajemen Krisis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sukarela
Batunanggar, menjelaskan tren bisnis perbankan ke depan akan dipengaruhi oleh
kebutuhan nasabah, perkembangan teknologi, dan pemenuhan standar regulasi.

Dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis, Sukarela menjelaskan salah satu
perubahan yang paling tampak adalah pergeseran layanan perbankan dari kantor
cabang menjadi berbasis elektronik.

“Hal yang mendorongnya yaitu mahalnya biaya investasi membuka kantor
cabang,” kata dia.

Sukarela menjelaskan tren pergeseran tersebut akan menuntut perubahan model
bisnis perbankan.

Kemudian, perkembangan transaksi perbankan internasional lintas batas juga
menjadi tendensi yang perlu diperhitungkan.

Fenomena tersebut, lanjut Sukarela, merupakan tantangan bagi pembuat regulasi
dan pengawas.

Tren berikutnya yaitu menyangkut kebutuhan sistem layanan terpadu (one stop services) melalui bank yang
terintegrasi.

Sukarela mengatakan nasabah menghendaki seluruh kebutuhan jasa keuangan dapat
disediakan oleh perbankan, seperti misalnya tabungan, kredit, investasi,
asuransi, transaksi, dan lain-lain.

Kemudian, tren berikutnya muncul sebagai dampak dari perubahan mekanisme
suntikan dana (bail out) menjadi bail in karena implementasi
Undang-undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis
Sistem Keuangan (PPKSK).

Peraturan tersebut mewajibkan bank sistemik menyampaikan rencana aksi paling
lambat Desember 2017 untuk mengatasi masalah keuangan yang mungkin terjadi.

“Jadi ada indikator yang perlu diwaspadai dan ada rencana aksi yang harus
disiapkan bank sistemik untuk bisa beroperasi secara normal,” kata
Sukarela.

Selain itu, dia juga menyoroti perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi
atau fintech menjadi tantangan
tersendiri bagi perbankan.

Hal tersebut dikarenakan jasa-jasa yang ditawarkan oleh usaha rintisan di
bidang fintech berpotensi menurunkan
pendapatan bunga dan nonbunga.

Sukarela menekankan bahwa berbagai kecenderungan bisnis perbankan tersebut
harus tetap berujung pada penciptaan sektor perbankan yang berkontribusi bagi
kemakmuran.

“Industri perbankan harus juga inklusif, dengan memberi akses luas kepada
masyarakat,” kata dia. (gor/ant)


Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Sumber Artikel

Komentar

comments