Pasca Lebaran Bisnis Properti Masih Stagnan – Berita Depok


Ilustrasi perumahan.

DEPOKTIK. Pasca Hari Raya Idul Fitri pengeluaran uang di masyarakat masih tinggi. Terlebih lagi, bertepatan dengan tahun ajaran baru yang mengharuskan anak-anak masuk sekolah. Kondisi tersebut ternyata berpengaruh kepada pasar perumahan.

Direktur PT Rolas Sapta Mandiri, Abdul Khaer mengungkapkan bahwa setelah lebaran pasar perumahan masih stagnan. Menurutnya, ada beberapa faktor penyebabnya, seperti mudik, pembelian pakaian, liburan, dan tahun ajaran baru.

“Kalau dibilang pasar properti itu lesu sih engga, dan kalau dibilang sedang bergairah dari sisi mananya kita juga belum menemukan. Apalagi, kondisi masyarakat saat ini lebih pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan berbarengan dengan masuknya sekolah atau tahun ajaran baru. Jelas, kondisi ini juga punya pengaruh di pasar perumahan,” ujar pria yang juga Direktur Perumahan Griya Bukit Mas ini kepada depoktik.co.id, kemarin.

Khaer mengungkapkan, memasuki tahun ajaran baru masyarakat akan lebih banyak mengeluarkan uangnya untuk pendidikan anak. Ia mencontohkan, masuk sekolah di luar negeri, biaya peralatan sekolah, daftar ulang dan lainnya. Sehingga, kebutuhan lainnya di kesampingkan dahulu.

“Kalau sebelumnya ada THR, atau yang menerima gaji 13 dan 14 maka yang diutamakan adalah untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan,” paparnya.

Aturan OJK “Ancaman” Pengembang

Ia menambahkan, saat ini untuk pengajuan kredit rumah makin ketat. Terlebih lagi, aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mudah bisa mengetahui kredit para debitur melalui bank atau non bank.

Bila sebelumnya, melalui BI cheking bisa diketahui seseorang melakukan pinjaman di Bank. Namun, dengan adanya aturan dari OJK pinjaman melalui leasing motor atau mobil akan bisa dilacak.

“Saya kira dengan aturan OJK yang baru nantinya menjadi ancaman bagi pengembang perumahan. Sebab, orang akan ketahuan sedang memiliki pinjaman di leasing motor atau mobil. Sehingga, kondisi tersebut akan menjadi pertimbangan bagi developer,” terangnya.

Ia menilai, saat ini di usia produktif antara 28-40 tahun sangat mustahil tidak melakukan pinjaman motor atau mobil melalui leasing. Apalagi, saat melakukan pinjaman di leasing motor atau mobil sangat mudah persyaratannya di bandingkan dengan di bank.

Sehingga bila seseorang diketahui telah memiliki pinjaman pada leasing akan menjadi pertimbangan saat mengajukan KPR. “Jadi, bisnis properti saat ini masih landai. Apalagi, perizinan bagi pengembang juga diperketat. Tapi, kita tetap berharap agar semua berjalan lancar dan optimis,” tandasnya.

http://duitkita.net/wp-content/uploads/2017/07/pasca-lebaran-bisnis-properti-masih-stagnan-berita-depok.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments