Penjualan Rumah Soloraya Naik setelah Lebaran -News » Harian Jogja


Ilustrasi pembangunan perumahan (JIBI/Dok)Ilustrasi pembangunan perumahan (JIBI/Dok)

Bisnis properti di Soloraya mulai menggeliat setelah Lebaran.

Harianjogja.com, SOLO — Penjualan rumah setelah Lebaran ini meningkat jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu. Pembelian properti tersebut ada yang untuk tempat tinggal maupun investasi.

Marketing Manager Juti Real Estate, Elza Ingga, mengatakan setelah Lebaran ada peningkatan penjualan rumah sekitar 20% jika dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini karena banyak pemudik yang membeli unit rumah untuk investasi maupun tempat tinggal.

Rumah yang terjual ada empat unit dan tiga unit masih pesan. Capaian tersebut dinilai cukup baik mengingat rumah yang ditawarkan seharga Rp1 miliar-Rp1,3 miliar per unit. Menurut dia, paling banyak rumah yang dibeli adalah cluster di Karanganyar.

“Secara umum, rumah yang paling banyak dibeli adalah rumah dengan harga Rp500 juta-Rp600 juta. Selain itu, setelah lebaran juga banyak yang membeli ruko untuk tempat usaha baru. Kemungkinan setelah mendapat THR [tunjangan hari raya] kemudian membuka usaha atau ekspansi usaha dari sebelumnya,” kata Elza, Rabu (5/7/2017).

Dia menyampaikan kebanyakan pembeli rumah tersebut adalah orang asli Solo yang bekerja di luar kota maupun yang lokasi kerjanya berada di sekitar lokasi rumah yang dibeli. Elza menilai daya beli masyarakat saat ini sudah lebih baik jika dibandingkan tahun lalu sehingga pergerakan bisnis properti naik tahun ini.

Lebih lanjut, dia mengatakan kebanyakan masyarakat masih memilih konsep perumahan dibandingkan cluster yang besar apalagi smart house karena masih banyak masyarakat yang tidak memahami konsep rumah pintar tersebut.

Principal Ray White Soloraya, Setya Budi Tamtomo, mengatakan setelah Lebaran lebih fokus menyelesaikan pembayaran yang tertunda karena libur panjang. Meski begitu, permintaan masyarakat untuk investasi properti mulai kelihatan cukup tinggi jika dibandingkan bulan lalu tapi bukan hunian melainkan tempat usaha, yakni ruko dan gudang.

Dia mengatakan permintaan ruko dan gudang naik 30%-40% dengan harga Rp1 miliar-Rp2 miliar untuk ruko sedangkan gudang Rp6 miliar-Rp7 miliar, tergantung ukuran dan jenis usaha. Daerah yang diminati adalah Boyolali, Sukoharjo, dan Solo yang dekat dengan perbatasan kabupaten.

Pembeli biasanya berasal dari Jakarta, Jatim, dan Jabar. Menurut dia, permintaan properti ini tinggi hingga September.

Sementara itu, Pemimpin Cabang Utama BNI Solo, Agus Triyono, menyampaikan penyaluran kredit BNI Griya cukup bagus di tahun ini. Hal ini karena banyak pasangan muda yang membutuhkan rumah dan adanya peningkatan ekonomi masyarakat.

Seluruh jenis rumah mengalami kenaikan pembiayaan tapi kebanyakan pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) di BNI adalah untuk rumah nonsubsidi. “Secara umum, kredit konsumen telah tumbuh 18% dengan dukungan utama dari BNI Griya dan BNI Fleksi, yakni kredit untuk karyawan tanpa agunan yang payroll [slip gaji] melalui BNI,” ujarnya.

 

http://images.harianjogja.com/2013/04/Ilustrasi-perumahan1.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments