Percaya pada Orang Lain, Meyakinkan Diri Sendiri

[ad_1]

BUDI YANTO LUSLI, Presiden Direktur Synthesis Development

Percaya pada Orang Lain, Meyakinkan Diri Sendiri
Senin, 17 Juli 2017 | 17:14

Budi Yanto Lusli,, Presiden Direktur Synthesis Development Foto: UTHAN A RACHIMBudi Yanto Lusli,, Presiden Direktur Synthesis Development Foto: UTHAN A RACHIM

Mengawali karier sebagai pekerja di beberapa
perusahaan pengembang, Budi Yanto Lusli kemudian tertarik untuk
menyelami bisnis properti. Tanpa modal lahan, Budi memulai bisnis
properti dengan menjadi konsultan dan melakukan jual beli properti
yang sudah jadi.

Pria kelahiran 29 Desember 1965 ini akhirnya
jatuh cinta kepada sektor properti. Salah satu alasannya, bisnis
properti merupakan dunia yang menantang sekaligus menyenangkan.

“Bisnis ini mengandalkan kepercayaan dan
keyakinan. Kita harus bisa percaya kepada orang lain, sekaligus harus
mampu meyakinkan diri sendiri,” kata Budi kepada wartawati
Investor Daily Laila Ramdhini di Jakarta, belum lama ini.

Soal kepercayaan dan keyakinan, Budi Yanto
Lusli merasakan dan mengalaminya secara langsung. Bahkan,
nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi pegangannya.
“Saya memulai pembangunan properti tanpa
memiliki lahan. Namun, saya meyakinkan diri sendiri untuk bisa
menggarap proyek di manapun,” tegas orang nomor satu di perusahaan
pengembang properti PT Synthesis Karya
Pratama (Synthesis Development), ini.

Budi ternyata tidak pernah bermimpi
muluk-muluk tentang menjadi orang hebat. Baginya, apa yang sudah
dicapai di Synthesis saat ini telah melampaui cita-citanya dulu.
Berikut petikan lengkapnya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Mulanya saya bekerja di perusahaan-perusahaan
properti, dari menjadi orang lapangan sampai harus di kantor saja.
Saya mengambil master di IPPM (Wijawiyata Manajemen) saat masih
bekerja, sehingga biaya kuliah pun harus meminjam. Dengan bekerja di
beberapa perusahan properti yang cukup besar dan stabil, saya
berhasil menyelesaikan kuliah dan melunasi seluruh biayanya.

Pada awal 1993, saya lepas dari perusahaan,
kemudian saya mendirikan perusahaan konsultan properti sendiri di
Jakarta, yaitu Prolease. Kami fokus di pemasaran dan pengembangan
shopping center. Beberapa proyek mal sudah kami tangani.

Secara total, kami menangani ruang shopping
center hampir seluas 800 ribu m2. Ini merupakan proyek studi, rancang
bangunan, pemasaran, dan sebagainya. Saat itu, total shopping center
yang ada di Indonesia saja hanya 500 ribu m2. Artinya, kami menangani
proyek-proyek yang baru akan digarap.

Tiba-tiba krisis moneter pecah pada 1998. Kami
memiliki karyawan sekitar 500 orang. Dalam kondisi sulit tersebut,
banyak developer yang menghilang dan tidak menyelesaikan kewajibannya
untuk membayar kami sesuai kontrak.

Tapi kami tetap optimistis karena karyawan
harus diselamatkan. Akhirnya, kami mengubah bisnis dari yang tadinya
melayani developer, kemudian berubah melayani penyewa atau pemakai
ruang ritel yang besar.

Nah, karena langsung bersentuhan dengan
pasar, kami mendapat banyak peluang. Tapi kami tetap belum punya
uang. Akhirnya kami membeli tanah sedikit demi sedikit atau sewa
jangka panjang. Dari situ, proyek pertama kami dimulai, yaitu
Graha Asia Work, yang berlokasi di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Kemudian kami menginisiasi pembangunan Plaza
Semanggi pada 1999. Kami memanfaatkan skema BOT (build, operating,
transfer) dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) selama 30
tahun. Kami bermitra dengan banyak perusahaan besar, seperti Hari
Darmawan Corporation, Agung Podomoro Group, dan Lippo Group.

Pada era krismon (krisis moneter) itu, nggak
ada pengembang yang berani membangun proyek besar. Tapi kami yakin
dan sepakat untuk mengembangkan Plaza Semanggi.

Alasan Anda memilih industri properti?

Ilmu saya di teknik sipil masih bisa terpakai
di sini (bisnis properti). Bisnis properti tidak terlepas dari
bangunan dan erat kaitannya dengan teknik sipil. Meskipun tidak
konsentrasi lagi ke engineering, saya tetap di management site. Saya
bergelut di bidang properti sejak 1993. Saya memulainya dari bawah,
sebagai profesional, hingga akhirnya menjadi pebisnis. Ini yang
membuat saya menikmati bidang ini.

Apa rencana Anda untuk Synthesis Development?

Synthesis fokus membangun properti di
kawasan central business district (CBD)
dan sekitar Jakarta. Kami mengawali bisnis properti untuk hunian di
kelas menengah ke bawah, seperti Kalibata City dan Bassura City.
Sekarang kami mulai menyasar segmen menengah ke atas dan kelas atas,
salah satu proyeknya yaitu Samara di Synthesis Square.

Synthesis menyiapkan belanja modal
(capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 700 miliar.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun properti berupa
hunian vertikal, kawasan superblok, dan ruang perkantoran yang
terpusat di Jakarta. Tapi di luar itu, kami juga punya rencana
go public dan melengkapi porsi pendapatan berkelanjutan (recurring
income), termasuk di shopping center.

Proyek yang sedang digarap Synthesis saat
ini?

Synthesis Development sedang mempersiapkan
pembangunan Samara Suites. Apartemen ini berada di kawasan terpadu
Synthesis Square dan dibangun untuk kelas atas (high-end). Kami mulai
memasarkan Samara Suites di medio 2016 dan sudah berhasil terjual 70%
dari keseluruhan 350 unit yang ada.

Kenaikan harganya cukup tinggi. Saat pertama
diluncurkan, apartemen ini dijual seharga Rp 31 juta per m2.
Sedangkan saat ini harganya menjadi Rp 37 juta per m2 atau seharga
Rp 1,5 miliar sampai Rp 4 miliar.

Proyek Samara Suites akan kami mulai
pertengahan tahun ini, targetnya selesai pada 2020. Selanjutnya,
pembangunan perkantoran Synthesis Tower I di lokasi yang sama akan
dibangun pada 2019 dan selesai pada 2020.

Proyek selanjutnya?

Kami melihat masih ada kebutuhan dan demand
(permintaan) yang besar di daerah Jakarta, khususnya sekitar CBD area
dan selatan Jakarta. Ini karena aksesibilitas dan potensi kenaikan
harganya sangat tinggi. Seperti di Lebak Bulus yang dilalui mass
rapid transit (MRT) dan di Kemang yang menjadi favorit karena masih
asri.

Kami juga sedang menyiapkan dua proyek baru di
Lebak Bulus dan Ciputat. Ini belum dirilis ke pasar. Saya
memperkirakan gross development value (GDV) untuk proyek Lebak Bulus
dan Ciputat mencapai Rp 3-4 triliun. Proyek ini akan menjadi
terpadu, masing-masing bakal menyediakan hunian sebanyak 1.500 unit
di Lebak Bulus dan 1.000 unit di Ciputat.

Untuk proyek di Lebak Bulus dan Ciputat, kami
sedang mengurus perizinan. Kalau izinnya sudah siap maka kami bisa
mulai akhir tahun ini dan bisa selesai dalam empat tahun pembangunan.

Bagaimana Anda melihat peran pemerintah dalam
mendukung sektor properti?

Dukungan pemerintah sudah luar biasa,
terutama pemerintah pusat. Tapi kami juga berharap pemerintah tegas.
Di Pulau Jawa, misalnya, lahan yang bisa dibangun hunian sangat
terbatas. Kalau berkaca pada Tiongkok, mereka sudah menerapkan
pembangunan hunian vertikal, dari kota sampai pelosok. Mengingat
krisis ketersediaan lahan, kami berharap pemerintah juga bisa
‘memaksa’ pembangunan hunian vertikal di Jawa.

Nah, di sisi lain, pemerintah daerah (pemda)
terkadang belum memiliki regulasi yang mendukung pembangunan
properti, misalnya belum punya rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Kadang sudah punya pun mereka nggak tahu fungsinya untuk apa dan
kalau melanggar apa konsekuensinya. Akibatnya, orang membangun di
tanah persawahan pun diizinkan, sehingga lahan sawah berkurang.

Di DKI Jakarta, saya menilai peraturan
pelaksanaan harus cepat dibereskan. Adapun di daerah, saya melihat
harus ada pusat pelayanan terpadu dengan peraturan yang lebih jelas.
Peraturan yang berlaku di setiap daerah harus sama supaya kami bisa
bersaing di level playing field yang setara.

Pandangan Anda tentang kondisi pasar properti
di Indonesia saat ini?

Sebenarnya secara keseluruhan, untuk housing
(perumahan), terutama landed (rumah tapak), masih oke. Tapi untuk
office (ruang perkantoran), data menunjukkan di Jakarta sudah
kelebihan pasok (over supply), sehingga tingkat hunian atau
okupansi pun menurun. Sedangkan untuk ritel, pengembang memang
harus sangat teliti membaca market. Di Jabodetabek, beberapa area
tertentu masih bagus perkembangannya. Tapi banyak juga area yang
sudah penuh, seperti Thamrin, Senayan, dan Slipi.

Harapan Anda untuk sektor properti ke depan?

Tahun 2017, menurut perkiraan para praktisi dan
pelaku bisnis properti, akan ada perbaikan. Kami yakin 2017 lebih
baik dari 2016 karena faktor makro ekonomi lebih mendukung. Tapi
seberapa membaiknya, kami nggak tahu.

Kami berharap program amnesti pajak (tax
amnesty) yang telah selesai, memberikan dampak positif kepada sektor
properti di dalam negeri, meskipun sampai akhir 2016 dampaknya belum
terasa ke sektor ini.

Yang kami khawatirkan juga setelah program tax
amnesty adalah bagaimana pemerintah mengejar dana-dana repatriasi.
Kami berharap jangan membabi-buta karena hal itu justru akan
membuat orang malah menutup diri. Harapan kami, aliran dana
repatriasi bisa segera menuju sektor properti. Di sisi lain, kalau
pertumbuhan ekonomi naik, kami berharap sektor properti otomatis
naik.

Filosofi hidup Anda?

Do the best and let God do the rest. Kalau
sudah bisa berjalan sejauh ini, saya percaya ada campur tangan Tuhan
di dalamnya. Jadi, lakukan yang terbaik dan biarkan Tuhan melakukan
sisanya.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Bisnis ini mengandalkan kepercayaan dan
keyakinan. Saya harus bisa percaya kepada orang lain, sekaligus
mampu meyakinkan diri sendiri. Saya memulai pembangunan properti
dengan tidak memiliki lahan. Namun, saya meyakinkan diri sendiri
untuk bisa menggarap proyek di mana pun.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Pencapaian ini sudah melebihi obsesi saya yang
paling liar. Rasanya sekarang harus bersyukur saja. Sebab, kalau mau
yang lebih terus-menerus, tentu susah. Tapi kita juga harus open mind
dalam arti menerima segala opportunity yang ada dan mengerjakan semua
secara bertanggung jawab. Namun secara angka, sebelum menjadi
perusahaan terbuka, kami belum punya arahan mau membesarkan
perusahaan ini seperti apa.

Itu sebabnya, saya ingin perusahaan ini
menjadi perusahaan terbuka dan sahamnya tercatat (listed company) di
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018. Kami masih melihat momentum
dan situasi, terutama yang terkait dengan kondisi ekonomi, sosial,
dan politik.

Untuk mewujudkan mimpi ini, kami sedang
berupaya untuk terus meningkatkan recurring income (pendapatan
berkelanjutan) dari proyek-proyek Synthesis. (*)


Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!

[ad_2]

Sumber Artikel

Bisnis
Toko Bunga Jakarta Online Murah Terpercaya

Selamat Datang di Website Kami: toko bunga jakarta online murah Menyediakan Berbagai Macam Bunga, Papan Bunga, Bunga Meja, Bunga Berdiri, Bunga Bouqet Tangan dll. Model papan bunga dengan kombinasi warna biru kuning hijau juga merupakan salah satu dari banyak model favorit di klien kami. pesan untuk dewan berkabung. Bouquet Flower …

kontraktor kaca dan aluminium composite panel
Bisnis
Spesialis Kontraktor Aluminium Composite Panel Gedung

Fasad & Dinding Tirai dari Aluminium Composite Panel Ringan dan kaca stopol. Spesialis kontraktor kaca dan aluminium composite panel dan juga kaca oleh PT Partindo. Akreditasi jaminan tertutup pasti akan diberikan untuk proyek yang membutuhkan berdasarkan panel serta persyaratan naungan yang memanfaatkan ditambah masalah lingkungan. Aplikasi Alcopan tidak terbatas pada …

daftar harga beton cor ready mix
Bisnis
Harga Beton Cor Readymix Per M3 untuk Wilayah Jakarta

Biaya Beton Semua Set Mix – Jayamix Per M3 Cor K225 Oktober 2017. daftar harga beton cor ready mix tidak terdiri dari jaringan uang tunai, jika lebih besar dari 10 pipeline. Dengan menyewakan pompa berdasarkan tuntutan waktu pemakaiannya bisa mencegah bahaya peralatan menganggur namun tetap perlu membayar uang sewa. Biaya …