Perjalanan Bisnis Fyesta Afrilian, Owner Djoeragan Kaos (1); Mundur dari PNS demi Fokus Bisnis Sablon Digital

Bisnis

[ad_1]

PROKAL.CO, Fyesta Afrilian tak pernah menyangka, keinginan menambah penghasilan delapan tahun lalu bakal mengubah hidupnya drastis. Lewat jasa sablon digital, Fyesta bukan hanya mampu meraup omzet ratusan juta, namun juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak warga lokal.

LUKMAN MAULANA, Samarinda

Posisi Fyesta sebenarnya sudah nyaman. Sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda, pendapatannya dalam sebulan sudah terjamin. Namun keinginan untuk mendapat penghasilan tambahan membuatnya melirik peluang-peluang usaha lain. Karena di luar kebutuhan sehari-hari, Fyesta punya keinginan untuk bisa membahagiakan keluarga dan orang tuanya.

“Dari situ saya coba mencari bisnis sampingan. Saya browsing di internet dan menemukan peluang usaha sablon digital untuk produk garmen yang sedang naik daun kala itu,” kisah Fyesta saat ditemui Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Selain lagi naik daun, kala itu Fyesta melihat di Samarinda belum ada usaha sablon digital. Kalaupun ada, kurang begitu dikenal dan berskala kecil. Makanya dia semakin mantap melirik peluang ini. Dengan modal awal Rp 25 juta, Fyesta mulai merintis usaha sablon digital secara sampingan di rumahnya, April 2009.

“Saya gadaikan SK pegawai saya ke bank dan pinjam uang dari istri untuk modal usaha. Uang sejumlah itu saya gunakan untuk membeli alat produksi berupa printer, mesin cutting, dan mesin pres,” ungkapnya.

Meski pengetahuan yang dimiliki tentang sablon digital waktu itu masih terbatas, tidak membuat Fyesta mundur dari keinginannya. Menurutnya bila menunggu banyak ilmu, usaha tidak akan berjalan. Dia beranggapan, pengetahuan tentang berbisnis bisa dipelajari sembari menjalankan bisnis tersebut. Sehingga ada proses trial and error saat pertama kali menjalankan usahanya.

“Belajarnya secara autodidak. Kebetulan posisi saya sebagai tenaga promosi kesehatan di dinas. Jadi sering bersentuhan dengan hal-hal yang berhubungan dengan desain,” sebut Fyesta.

Maka mulailah Fyesta menawarkan jasanya membuat sablon digital di produk-produk garmen seperti baju dan kaus. Bukan hanya produk pakaian, Fyesta juga melayani sablon digital pada media lain seperti mug dan jam dinding. Pada mulanya dia menawarkan jasanya secara online melalui jejaring sosial facebook. Perlahan berlanjut menawarkan secara langsung kepada rekan-rekan kerjanya di kantor.

“Saya juga mulai menyebarkan brosur dan menawarkan usaha saya ke toko-toko. Saya melakukannya sepulang kerja, bahkan saya masih mengenakan seragam PNS. Misalnya saya tawarkan apakah ada yang mau memesan kaus sablon secara satuan,” tutur Fyesta.

Ayah Axelle Shaquile Abdurrazak ini mengatakan, saat-saat awal merintis usahanya merupakan saat-saat terberat. Karena dia mesti menyisihkan waktu di luar jam kerjanya untuk mengerjakan pesanan pelanggannya. Bukan pekerjaan yang mudah, apalagi dengan pengetahuan sablon Fyesta yang terbatas kala itu. Dia pun banyak wira-wiri mengantarkan pesanan para pelanggannya.

“Saya mulai mengerjakan pesanan setelah pukul 21.00 Wita, saat istri dan anak saya sudah tidur. Saya sampai lembur mengerjakannya, sampai subuh. Waktu tidur saya bisa satu sampai dua jam saja dalam sehari. Bahkan saya sempat ketiduran di masjid saat salat jemaah,” kenangnya.

Namun jam kerja yang penuh dari pagi hingga malam tersebut tak menggentarkan Fyesta dalam berbisnis. Waktu itu dia beranggapan, biarlah menderita saat awal-awal merintis usaha. Sehingga nantinya setelah dua sampai tiga tahun berjalan, dia tidak perlu lagi lembur dan memiliki waktu yang berkualitas untuk keluarganya.

“Memang istri dan anak yang menjadi pemacu semangat saya saat merintis usaha ini. Jadi saya putuskan harus fight gila-gilaan di tahun-tahun pertama,” kata alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro Semarang ini.

Perlahan tapi pasti usaha sablon yang awalnya diberi nama “Oughhh” tersebut mulai dikenal orang. Walaupun pendapatannya tidak menentu bahkan sampai pernah tidak ada sama sekali, Fyesta tetap bersemangat. Setahun menjalankan usaha ini, Fyesta melebarkan usahanya.

Dari yang awalnya mengerjakan sendiri di rumah, dia berani membuka outlet di tahun 2010 yang kala itu bertempat di Gang Masjid. Dia pun mulai merekrut tenaga sebagai empat orang untuk membantunya dalam proses produksi.

“Awalnya yang kami jual produk satuan. Misalnya kaus lengan panjang, pengan pendek, mug, intinya produk sablon secara umum. Namun seiring berjalannya waktu banyak yang mengekor dan meniru usaha saya,” terangnya.

Karena itu, Fyesta lantas merancang konsep baru yang menurutnya belum pernah digunakan sebelumnya di Indonesia. Konsep yang diambilnya yaitu perpaduan antara distribution outlet (distro) dan sablon digital. Disebut distro, karena para pengunjung bisa memilih pakaian yang dipajang di outletnya. Namun tidak seperti distro pada umumnya, pembeli bisa meminta kustomisasi dengan sablon sesuai keinginan.

“Usaha saya memang sablon digital, tapi tidak mesti memesan dalam jumlah banyak. Kalau hanya memesan satuan atau sejumlah tertentu juga bisa,” beber Fyesta.

Konsep inilah yang menurut Fyesta membedakan usahanya dengan usaha-usaha sablon atau distro yang ada di Kota Tepian. Pun begitu, dia menerapkan konsep sebagaimana toko roti. Yaitu produk-produk pakaiannya dipajang dengan tampilan seperti di toko roti. Sehingga pengunjung yang datang seperti masuk ke dalam toko roti.

“Nilai jual lainnya yaitu saya bukan hanya mengikuti tren, tapi juga menghadirkan model-model yang sedang tidak tren. Jadi ketika pelanggan bosan, bisa memilih model yang lain dan juga bisa dikustomisasi sesuai keinginan,” paparnya.

Seakan sudah menjadi prasyarat, semakin besar suatu usaha maka semakin banyak pula permasalahan yang muncul. Ini pula yang dialami Fyesta. Bertubi-tubi masalah menghantamnya di saat usahanya mulai stabil. Di antaranya pengkhianatan karyawan yang meninggalkannya begitu saja, serta penggelapan uang oleh rekan kerja yang sudah dianggapnya saudara sendiri.

“Dari masalah-masalah itu saya jadi belajar tentang bagaimana menghadapinya. Buat saya itu ilmu, karena menjadi wiraswasta merupakan proses belajar seumur hidup,” ujar suami dari Roosmiyati Dewi ini.

Fyesta menerangkan, permasalahan yang menumpuk kala itu sempat membuatnya berputus asa dan hendak menyerah. Berhenti menjalankan bisnisnya. Bahkan saking frustrasinya waktu itu, pernah suatu ketika Fyesta menyetir sepeda motor dengan melamun. Akibatnya dia ditabrak mobil yang melintas. Beruntung waktu itu kondisinya baik-baik saja tidak kurang satu apapun.

“Saya tiba di titik di mana saya ingin menutup outlet. Saya menemui istri saya dan bersandar padanya untuk menangis. Saat melihat istri dan anak itulah saya tersadar bahwa saya tidak boleh menyerah untuk mereka berdua,” tegasnya.

Pada akhirnya, Fyesta dihadapkan pada pilihan bertahan sebagai PNS atau mundur dari PNS untuk fokus membesarkan usahanya. Bukan pilihan yang mudah, apalagi saat itu usahanya tengah berada dalam keterpurukan. Namun di satu sisi, dia melihat potensi besar yang dimiliki usahanya tersebut. Syaratnya dia mesti fokus mengerjakannya secara penuh, tidak bisa setengah-setengah.

“Saya putuskan berhenti jadi PNS dan menggeluti bisnis secara penuh. Saya ajak istri saya terlibat dalam bisnis saya setelah saya ditinggal pergi karyawan-karyawan saya,” urai Fyesta.

Meski memutuskan mundur dari PNS di tahun 2012, Fyesta rupanya merahasiakan hal tersebut dari kedua orang tuanya di Jawa. Karena dia yakin, orang tuanya tidak setuju dan bakal marah bila mengetahuinya. Yang ada pada benaknya waktu itu menyembunyikan hal tersebut sampai dia bisa menunjukkan hasil dari usaha yang dibangunnya.

“Karena pemikiran orang tua saya waktu itu, menjadi PNS merupakan pekerjaan yang terbaikuntuk saya. Pikir saya tentu mereka akan kecewa bila saya mundur dari PNS,” sebutnya.

Namun sebaik apapun Fyesta menyembunyikannya, pada akhirnya diketahui kedua orang tuanya. Melihat Fyesta yang banyak bepergian ke Jawa kala itu, mengundang kecurigaan sang bunda. Memang setelah mundur dari PNS, Fyesta beberapa kali ke Jawa dalam rangka mengembangkan bisnisnya.

“Ibu saya bisa menerima keputusan saya, asal saya bertanggung jawab dengan itu. Tapi ayah saya tidak. Saya sempat didiamkan selama beberapa waktu setelah beliau tahu saya mundur dari PNS demi berbisnis,” tandas pria kelahiran Semarang, 37 tahun lalu ini. (bersambung)

http://images1.prokal.co/prokalco/files/berita/2017/06/16/perjalanan-bisnis-fyesta-afrilian-owner-djoeragan-kaos-1-mundur-dari-pns-demi-fokus-bisnis-sablon-digital.jpg

[ad_2]

Sumber Artikel

Bisnis
Pelayanan Jasa Fumigasi Murah Terpercaya 2017

pelayanan jasa fumigasi murah. lagi pula bila pada malam hari dapat didengar suara kretek-kretek” kala di dalam keadaan diam, serta pula kita semua mencium terdapat jejak ataupun kolom tanah di gedung/rumah kamu. memakai teknik yang efektif buat membasmi persoalan anai-anai pada rumah/bangunan kamu. jadi penyedia pelayanan Ꭻasa kontra rayap-jasa pest …

wallpaper custom 3d
Bisnis
Jual Wallpaper Custom 3d Murah

Untuk pengalaman yang jauh lebih baik di Facebook, tingkatkan browser web Anda. Dalam pelebaran sayap perusahaan  wallpaper custom 3d, mereka selalu menawarkan promosi yang menarik dengan memanfaatkan media promosi yang sangat mudah dilihat dan dilihat oleh calon konsumen, dengan berbagai pepatah, desain logo serta gaya menarik untuk dikenal serta selalu …

Bisnis
Daftar Harga Jasa Cleaning Service Termurah di Jakarta

daftar harga jasa cleaning service ekonomis bermutu di jakarta. selaku fasilitator pelayanan, kita senantiasa berkomitmen buat memberi jasa yang melegakan dengan harga yang bersaing. info lengkap sepenuhnya hubungi pelanggan layanan serta marketing kita buat pengajuan serta survei langsung saja di lokasi kamu. dengan kawasan yang bersih, ruangan-ruangan yang bersih serta …