Perlukah Diversifikasi Investasi?


Jakarta – Jika Anda seorang investor, Anda pasti sering kan mendengar istilah di atas? Diversifikasi investasi, itu bahasa formalnya. Definisi bebasnya sih, kurang lebih penyebaran, atau penganekaragaman jenis investasi. Jadi Anda tidak berinvestasi pada satu jenis instrumen investasi saja. Prinsip ‘don’t put your eggs in one basket’ atau ‘jangan meletakkan telur-telur Anda dalam satu keranjang’ berlaku di sini.

Artinya salah satu kegunaan diversifikasi investasi ini adalah untuk mengurangi risiko investasi Anda. Jangan menempatkan seluruh dana investasi (eggs) Anda dalam satu jenis instrumen investasi (basket), karena jika instrumen investasi Anda (basket) jatuh, maka seluruh dana (eggs) Anda akan turun nilainya (pecah).

Jadi, tempatkanlah dana Anda dalam beberapa jenis instrumen investasi. Lakukanlah diversifikasi. Tempatkanlah telur Anda dalam beberapa keranjang. Karena jika salah satu kerjanjang investasi Anda jatuh, maka Anda masih memiliki cadangan keranjang investasi di tempat lain, yang harapannya dapat menopang keseluruhan jenis investasi Anda agar tidak jatuh nilainya secara keseluruhan.

Contoh sederhana diversifikasi adalah, Anda saat ini berinvestasi di reksa dana saham. Ada kalanya reksa dana saham Anda memberikan return 25% dalam setahun dan terkadang minus. Nah, untuk mengantisipasi apabila reksa dana saham Anda nilainya jeblok dan minus, Anda dapat melakukan diversifikasi dengan juga melakukan investasi di reksa dana pasar uang.

Apabila kita lihat, maka kemungkinan reksa dana pasar uang untuk minus lebih rendah dibandingkan reksa dana saham, karena dana di reksa dana pasar uang mayoritas dimasukkan ke dalam instrumen pasar uang seperti deposito dan sebagian lain di instrumen obligasi yang ‘secure’, seperti obligasi pemerintah.

Sehingga apabila Anda memiliki kedua instrumen ini maka dana investasi Anda dapat lebih ‘terjaga’. Jika reksa dana saham jatuh, diharapkan ada penyeimbangnya di reksa dana pasar uang.

Diversifikasi dalam sebuah reksa dana pun bisa dilakukan. Misalnya sang manajer investasi menanamkan dananya tidak hanya pada satu saham saja, melainkan pada beberapa saham. Beberapa saham tersebut pun terbagi ke dalam beberapa sektor industri. Jadi dalam satu industri ada beberapa saham yang dibeli oleh manajer investasi. Selain di saham, sang manajer investasi juga membeli obligasi, yang tingkat pengembaliannya lebih dapat diprediksi.

Secara pribadi pun kita dapat melakukan diversifikasi. Misalnya saat ini kita berinvestasi di saham secara langsung. Kemudian kita juga memiliki reksa dana pendapatan tetap. Untuk lebih mengamankan nilai kekayaan kita, maka kita juga dapat melakukan investasi di emas batangan atau di sektor properti.

Banyak cara dalam melakukan diversifikasi, namun pada prinsipnya diversifikasi adalah untuk minimalisasi risiko. Namun Anda juga tidak boleh sembarangan melakukan diversifikasi. Dalam melakukan diversifikasi tetap harus melihat tujuan keuangan, profil risiko, serta pengetahuan Anda atas instrumen investasi tersebut.

Warren Buffett berkata, diversifikasi bertindak sebagai proteksi dari kebodohan. Jika kita ingin memastikan tidak ada hal yang buruk terjadi pada kita relatif terhadap pasar, maka seharusnya kita memiliki semuanya. Itu adalah pendekatan yang sempurna bagi orang yang tidak tahu bagaimana caranya menganalisa bisnis.

Dalam melakukan diversifikasi, kita tidak boleh hanya karena ikut-ikutan saja. Hanya karena nilai emas sedang naik, maka kita pun memborong emas. Lalu begitu harga emas stagnan, kita pun kebingungan karena uang pembelian emas berasal dari utang. Belum lagi investasi abal-abal yang sat ini begitu marak di Indonesia.

Dalam melakukan diversifikasi kita dituntut untuk tetap cerdas dalam mengambil keputusan investasi. If it is too good to be true, then it is too good to be true. Jangan tergiur dengan tawaran keuntungan yang bombastis. Apalagi keuntungan tersebut diberikan dalam tingkat yang pasti, dan dalam waktu yang singkat.

Jadi apakah diversifikasi itu perlu? Menurut saya perlu! Lakukan dengan cerdas! Bahkan Warren Buffett pun melakukan investasi pada beberapa perusahaan, tidak hanya satu. Namun ia melakukannya dengan analisa bisnis yang sangat mendalam.

Belajar investasi sebelum melakukan diversifikasi itu sama pentingnya dengan diversifikasi itu sendiri.

Jika Anda tidak memiliki waktu untuk melakukan analisa atas investasi Anda, serahkan kepada manajer investasi yang memang bertugas untuk itu. Sembari itu Anda dapat belajar sendiri melalui buku, seminar, atau mengambil kelas investasi yang banyak ditawarkan. Siapa tahu Anda bisa menjadi Warren Buffett-nya Indonesia.

Selamat berinvestasi! (ang/ang)

https://sgimage.detik.net.id/community/media/visual/2016/12/22/34880e82-50da-411c-90fe-ee7662aabfcd_169.jpg?w=650



Sumber Artikel

Komentar

comments