Perry Tristianto, Sukses Ramaikan Bisnis Pariwisata Bandung


Salah satu cara untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis adalah harus bisa menciptakan pasar. Prinsip inilah yang dipegang oleh Perry Tristianto dalam menjalani kariernya sebagai wirausaha dan mengantarkannya menikmati kesuksesan sebagai pebisnis.

Mulanya, lelaki kelahiran 57 tahun silam ini tak pernah menyangka bisa menjadi pengusaha sukses. Hal ini dikarenakan ia memulai karier sebagai karyawan di sebuah perusahaan rekaman.

Karier menjadi pengusaha ia pilih saat dirinya memutuskan mundur dari perusahaan rekaman tersebut, pada tahun 1988. Padahal, saat itu Perry menjabat sebagai Presiden Direktur Alpine Record.

Setelah tak memiliki pekerjaan, Perry memilih berbisnis kaos dengan jaringan yang dimilikinya, antara lain C-59. Ia kemudian menjual kaos-kaos tersebut di toko kaset se-Indonesia yang telah mengenal dirinya.

“Dulu belum ada kaos yang dijual di toko kaset. Maka saya jual kaos disana. Hal ini saya lakukan sebagai salah satu cara untuk menciptakan pasar. Karena, kita akan sukses apabila bisa menciptakan pasar, bukan memasuki pasar,” kata dia.

Tak hanya menjual kaos di toko kaset, Perry juga mencoba peruntungannya dengan menjual kaos di parkiran Rindu Alam, Bogor sekitar 1988-1990. Sebelum menjajakan produknya, Perry terlebih dahulu melakukan riset kecil-kecilan, membaca selera pasar agar produknya laris manis di pasaran.

Saat itu, masyarakat Jakarta lebih banyak menggandrungi musik Jazz, Perry pun memilih memproduksi kaos bernuansa Jazz. Tak ayal, kaos produksi Perry pun digemari oleh masyarakat yang datang ke lokasi wisata tersebut.

Meski demikian, rasa malu juga pernah menghinggapi Perry. Untuk menutupi rasa malu dalam berdagang, ia kerap mengajak pembantunya saat berdagang di pinggir jalan.

“Saya dulunya Presiden Direktur pasti ada rasa malu. Namun, saya memiliki banyak strategi untuk mengatasi rasa malu,” ungkapnya.

Tak hanya menjual kaos di pinggir jalan dan toko kaset, ayah dua anak ini juga mengembangkan bisnis pakaian di luar kota, seperti Bekasi, Depok, dan Cimone. Ia memilih menyewa rumah di Perumnas sebagai tempatnya berdagang. Kaos yang dijajakan Perry pun sangat beragam, mulai dari baju kantor, baju tidur, hingga pakaian sehari-hari.

“Saya memiliki 14 tempat dan target pasar saya adalah masyarakat di perumahan. Ini pasar yang menarik waktu itu karena masyarakat sekitar sangat nyaman berbelanja di toko saya. Target pasar saya adalah mereka yang memakai sandal jepit dan berbaju daster. Kalau saya buka di mall, ongkosnya mahal dan kenyamanan mereka dalam berbelanja berkurang,” papar dia.

Hebatnya, dalam menjalankan bisnis tersebut, Perry mengaku tak pernah mengeluarkan modal banyak. Ia mendapatkan kepercayaan dari supplier.

Oleh karena itu, yang paling penting bagi dirinya adalah menjaga kepercayaan supplier. “Modal awal usaha memang ada, sekitar Rp 2 juta. Ibu saya yang pinjam dari BCA,” ungkap dia.

Menyulap kawasan

Dalam meraih kesuksesannya, pria lulusan Stanford College, Singapura ini selalu berupaya membuka dan menciptakan pasar. Ia tak pernah memasuki pasar. Pasalnya, keuntungan yang diperoleh dari menciptakan pasar akan lebih besar ketimbang memasuki pasar.

“Saya lebih senang menciptakan pasar, karena harga sangat tergantung oleh kita sebagai konseptor, sebagai pencipta. Kalau memasuki pasar, maka kita harus mengikuti harga yang berlaku di pasar,” ucap Perry.

Tak hanya itu, ia juga bisa mengubah jalanan yang semula sepi menjadi jalanan ramai. Hal ini dilakukannya demi untuk menciptakan pasar. “Jangan pernah berjualan di tempat yang sama atau sudah ramai,” ucap dia.

Perry berhasil mengubah jalan Sukajadi yang sepi menjadi ramai dengan jualan factory outlet. Setelah jalan Sukajadi ramai, ia pindah ke jalan Dago. Lalu, pindah lagi ke jalan Riau pasca Dago ramai pengunjung.

Ia juga sukses menyulap kawasan Geger Kalong hingga Lembang di Bandung menjadi tempat yang ramai. Ia mampu mendirikan Kampung Bakso, Rumah Sosis, Tahu Susu Lembang, Floating Market, dan Farm House. “Padahal dulunya kalau bersantap kuliner di Bandung hanya ada di daerah Dago ke atas,” kata Perry.

Perry mengungkapkan produksi tahu Susu Lembang buatannya ini sukses digandrungi masyarakat karena produknya terbilang unik. Perry hanya mencampurkan proses pembuatan tahu dengan susu yang dihasilkan di Lembang. Harga jual tahu susu juga lebih tinggi, sebesar Rp 2.500 per buah.

Memerhatikan packaging

Selain Tahu Susu Lembang, Perry juga sukses memperkenalkan Tahu Mentega. Padahal, proses pembuatannya sama dengan yang dilakukan saat membuat tahu sutera. “Saya hanya mengganti nama produknya saja menjadi Tahu Mentega dari Tahu Sutera. Hasilnya, Tahu Mentega laris di pasaran,” cerita Perry.

Bisnis Perry berhasil karena ia lebih banyak menyasar wisatawan yang datang ke Bandung. Hal ini dilakukan karena spending wisatawan jauh lebih besar ketimbang warga lokal.

Packaging dalam berbisnis juga adalah hal yang penting. Seperti Rumah Sosis, misalnya. Packaging-nya adalah rumah. Sedangkan sosis adalah hal yang sudah umum. Jeli dalam hal menciptakan pasar, menciptakan brand dan juga menciptakan packaging yang menarik, ini yang saya lakukan sampai sekarang,” jelas Perrry.

Selain itu, packaging yang sukses dilakukan Perry adalah saat membuat House of Strawberry di Cihanjuang, Bandung. Ia mengusung konsep memetik strawberry sendiri dengan harga Rp 45 ribu per kilogram (kg).

Padahal, strawberry dijual di pasar seharga Rp 15 ribu per kg. Konsep yang diusung Perry ini ternyata laris. Setiap akhir pekan, banyak keluarga yang meluangkan waktu untuk memetik strawberry. (Adv)

Sumber : Website BCA Prioritas/Beritagar

http://assets.kompas.com/crop/0x0:780×390/780×390/data/photo/2017/07/07/1731869528.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments