Program “Malaysia My Second Home” Ancam Bisnis Properti Indonesia?


KUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Joanne Kua Ying Fei, Chief Executive Officer KSK Group, dan juga Managing Director KSK Land optimistis proyek branded residential yang dipasarkannya bersama dengan Kempinski dan Yoo akan laris manis.

Menurut dia, saat ini nilai branded residential atau hunian mewah di Kuala Lumpur merupakan yang terendah di dunia, sehingga masih memiliki potensi untuk bertumbuh di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, proyek ini juga menawarkan sebuah konsep gaya hidup yang unik, tidak sekadar menjual properti mewah di lokasi strategis semata.

Ke depan, Kuala Lumpur juga akan kedatangan investasi dari Alibaba, perusahaan e-commerce raksasa dari China, yang akan membangun pusat logistik di Malaysia.

Selain itu, di Kuala Lumpur segera dibangun kereta cepat yang menghubungkan Singapura dan Kuala Lumpur. Tentunya ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Kuala Lumpur.

“Alasan lain kenapa properti di Kuala Lumpur layak diminati, yakni adanya program ‘Malaysia My Second Home’ dari pemerintah,” ujar Joanne Kua, saat berbincang dengan awak media di galeri 8 Conlay di Kuala Lumpur, Rabu (23/5/2017).

(Baca: Mengapa Orang Indonesia Suka Beli Properti di Luar Negeri?)

Menurut dia, dalam program tersebut pemerintah Malaysia memberikan fasilitas pembiayaan properti kepada pihak asing dengan bunga 4,5 persen melalui bank lokal. Pemilik properti akan mendapatkan fasilitas bebas visa selama 10 tahun, serta hak milik properti hingga seumur hidup.

Di Malaysia, lanjut Joanne Kua, ada aturan di mana pemilik dan pengembang properti harus menanamkan uangnya terlebih dahulu ke pemerintah Malaysia, sesuai dengan progres perkembangan pembangunan propertinya. Selain itu, dana penjualan dari konsumen ditampung di rekening yang diawasi pemerintah.

Dengan demikian, Malaysia sangat aman dari kasus pengembang yang membawa lari uang konsumennya. Artinya, konsumen properti di Malaysia dijamin aman.

Dia menambahkan, bahwa saat ini merupakan saat tepat bagi investor untuk mengkoleksi residential branded di 8 Conlay, sebab saat ini nilai tukar ringgit Malaysia sedang tertekan. Sementara itu, rerata kenaikan harga properti di Kuala Lumpur mencapai 7 persen-10 persen per tahun.

(Baca: Menkeu: Warga Asing Hanya Boleh Miliki Apartemen Mewah…)

Jika dibandingkan dengan Indonesia, saat ini bunga bank untuk kredit kepemilikan properti di Indonesia berkisar sekira 10-11 persen, jauh di atas bunga bank Malaysia.

Sementara itu, tidak seperti di Malaysia, Indonesia tidak memberlakukan kepemilikan seumur hidup bagi warga negara asing yang membeli properti di Indonesia.

Berdasarkan PP No. 103 tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, secara total jenderal izin penggunaan properti oleh orang asing mencapai 80 tahun. Lama waktu tersebut sudah mencapai hak pakai, hak perpanjangan hingga pembaharuan hak pakai.

(Baca: Pajak Rumah Mewah Akan Dinaikkan)

Dari sejumlah hal di atas, menurut hitungan kasar Kompas.com, sekilas properti di Malaysia lebih menjanjikan return yang lebih baik, bukan?

Seperti diketahui, Proyek 8 Conlay merupakan proyek pembangunan dua tower apartemen mewah, pusat perbelanjaan serta hotel bintang lima di jantung kota Kuala Lumpur di Jalan Conlay.

Proyek ini bekerja sama dengan Kempinski Hoteliers yang menjadi mitra untuk layanan di semua area apartemen mewah dan hotel. Sementara desain interior dipercayakan kepada Steve Leung dan Yoo.

Apartemen ini dipasarkan dengan tiga tipe, yakni 1 kamar utama, 2 kamar utama dan 3 kamar utama mulai harga sekira Rp 6,5 miliar hingga yang paling mahal Rp 15 miliar. Semuanya fully furnished.

Saat ini proyek 8 Conlay yang berdiri di lahan 1,6 hektar itu telah mencapai 25 persen.

Kompas TV Wow, Ini Dia Hunian Mewah Ala “Star Wars”

http://assets.kompas.com/crop/26×0:926×600/780×390/filters:watermark(data/photo/2017/02/01/42081130591.png,0,-0,1)/data/photo/2017/05/26/3415132369.jpeg



Sumber Artikel

Komentar

comments