PT Timah Siap Menuai Panen Bisnis Properti



Rabu, 29/03/2017

NERACA

Jakarta – Diversifikasi usaha dalam menjalankan bisnis menjadi hal yang penting dalam membawa keberlanjutan suatu usaha dan meraup pundi pundi keuntungan. Namun tentu saja, diversifikasi usaha sendiri harus melewati kajian yang matang dan bukan semata-mata latah meniru kompetitor lainnya. Langkah inilah yang dilakukan PT Timah Tbk (TINS) dengan diversifikasi bisnis di sektor properti.

Melalui PT Timah Karya Persada Properti. Tahun lalu, anak usaha yang sepenuhnya dimiliki TINS ini belum memberi kontribusi pendapatan ke induk usaha. Sekretaris Perusahaan TINS Sutrisno Tatet Dagat mengatakan, pihaknya berharap anak usaha ini dapat berkontribusi 11% pada pendapatan tahun ini. “Sumbangan Timah Properti tahun ini diproyeksikan dari sektorlanded development,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain proyek Bekasi Timur yang sudah dikembangkan di lahan seluas 15 hektare (ha) dari total lahan 176 ha, ada dua proyek lagi, yaitu Payon Kaladia di Depok dan Payon Ponca, Cirendeu. Selain itu. TINS akan memulai proyekrecurring incomepada tahun 2018 untuk mengembangkan hotel di Jakarta, Belitung, Bangka dan Tanjung Balai Karimun. Jumlah aset Timah Karya Persada Properti per akhir tahun lalu sebesar Rp 45,54 miliar.

TINS pun serius menggarap bisnis rumahsakit melalui PT Rumah Sakit Bakti Timah. TINS memiliki empat rumahsakit dan empat klinik utama yang tersebar di Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Menurut Sutrisno, empat rumahsakit tersebut akan ditingkatkan menjadi rumahsakit dengan standar internasional dan empat klinik akan dijadikan rumahsakit tipe D.

Total aset Rumah Sakit Bakti Timah ini mencapai Rp 96,07 miliar. Pada tahun 2016 lalu, pendapatan dari rumahsakit mencapai Rp 154,12 miliar. Tahun sebelumnya, bisnis ini masih belum memberikan kontribusi. Tidak hanya bisnis properti, TINS juga akan masuk pada bisnis agro, yaitu penggemukan sapi potong dan perkebunan lada. Proyek ini merupakan upaya untuk mengoptimalisasi lahan bekas tambang. TINS bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk menggarap segmen ini.

TINS mengelola bisnis ini lewat anak usahanya, PT Timah Agro Manunggal. Anak usaha yang sepenuhnya dimiliki TINS ini belum beroperasi secara komersial pada akhir 2016. Alhasil, bisnis ini masih belum memberi kontribusi pada keuangan TINS. Sebagai informasi, pendapatan TINS pada 2016 naik tipis 1,44% menjadi Rp 6,97 triliun dari Rp 6,87 triliun di tahun sebelumnya. Laba bersih TINS melonjak 51% menjadi Rp 251,96 miliar dari sebelumnya Rp 101,56 miliar. Laba per saham atauearning per share(EPS) TINS naik menjadi Rp 34 dari Rp 14.

Penjualan timah masih menjadi pendorong bisnis utama. Segmen bisnis ini berkontribusi 95% terhadap total pendapatan. Penjualantin chemicaldan rumahsakit berkontribusi 2,1% dan 2,2%. Untuk bisnis timah, TINS menargetkan pertumbuhan sekitar 10% dengan harapan harga timah stabil di US$ 20.000US$ 21.000 per metrik ton. Untuk volume produksi dan penjualan diharapkan bisa mencapai 30.000 ton.

Makanya sebagian besar anggaran belanja TINS dialokasikan untuk untuk pembesaran kapasitas, penggantian alat dan sarana pendukung sebesar Rp 2,3 triliun. Sisanya digunakan untuk pengembangan anak perusahaan sebesar Rp 353 miliar, termasuk di bisnis properti, rumahsakit dan galangan kapal. (bani)



Sumber Artikel

Komentar

comments