Saat Bisnis Umrah Lebih Gemerlap dari Dunia Artis


Jakarta, CNN Indonesia
Gemerlapnya dunia akting dan selebritas ternyata tidak lagi menjadi ladang utama mencari sesuap nasi bagi sebagian pesohor. Para artis mulai mencari ladang uang lain untuk menghidupi kehidupan mereka, salah satunya jasa umrah.

Kantor jasa umrah yang terletak di bilangan Jalan Fatmawati misalnya, tak dinyana milik pesinetron terkenal, Sahrul Gunawan. Pesinetron yang terkenal berkat serial Jin dan Jun di era ’90-an itu jadi satu dari sedikit pesohor yang serius menjalani pelayanan umroh dan haji.

Secara terbuka, Sahrul mengungkapkan alasan memilih mendirikan jasa pelayanan umroh dibandingkan pesohor lain yang berbisnis sejalan dengan status keartisannya. Semua ternyata berawal dari rasa kekecewaan.

“Saya dikecewakan oleh travel yang memberangkatkan saya ke Tanah Suci pada 2001 lalu,” kata Sahrul saat disambangi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Saat itu, Sahrul kerap pergi ke Tanah Suci karena keinginan sendiri dan diberangkatkan oleh perusahaan jasa umrah dan haji. Namun, tiap kali berangkat, tiap kali pula Sahrul merasa yang didapat tak sesuai dengan yang dijanjikan.

“Kami sebagai konsumen selalu diberikan arahan dari ustad dan pembimbing untuk refleksi dan harus sabar. Benar memang, tapi saya juga pikir ada yang salah. Tidak seharusnya pelayanan bisnis di pariwisata religi ini seperti itu,” lanjutnya.


Bisnis menjalankan umroh dan haji dianggap menguntungkan oleh Sahrul Gunawan. Ilustrasi: Bisnis menjalankan umroh dan haji dianggap menguntungkan oleh Sahrul Gunawan. (REUTERS/Muhammad Hamed)

Berawal dari kekecewaan, Sahrul memilh mendirikan jasa umroh yang ia beri nama AFI Tour pada 2005. Ia pun mengeluarkan modal Rp2,5 miliar untuk memulai usaha tersebut. Setahun kemudian, ia berani memberangkatkan 100 peserta umrah.

Kala itu, ia membuka bisnis perjalanan secara umum, mulai dari tiket, akomodasi perhotelan, dan umroh serta haji. Selang setahun, pemain Pernikahan Dini itu memutuskan fokus pada umrah dan haji karena lebih menguntungkan.

Bagi Sahrul, Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas Muslim jadi peluang besar. Ia pun mengaku pengelolaan uang umrah dan haji lebih mudah lantaran calon jamaah baru dapat berangkat bila sudah lunas.

Rugi Rp10 Miliar

Terkenal hingga ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia diakui Sahrul jadi keuntungannya dalam menjalani bisnis umrah dan haji. Ia jadi lebih mudah promosi.

“Ya semuanya dimanfaatkan, figur iya, saya juga disini sebagai ikon juga. Pada saat sosialisasi saya ikut memperkenalkan,” tutur Sahrul.

Namun popularitas tak menjamin Sahrul selalu untung. Pada 2013, ia pernah mengalami kerugian besar hingga Rp10 miliar. Sebagai akibatnya, Sahrul sampai harus menjual mobil, rumah, dan apartemen yang ia miliki.

Kerugian itu sebabnya karena kealpaan dia soal kuota haji yang telah ditetapkan pemerintah saat itu. Karena kepalang menyanggupi memberangkatkan 104 jamaah dan tak bisa mengakali peraturan pemerintah, maka ia pun harus ganti rugi.

Uang jemaah sebesar US$9.500 per kepala beserta tiket pesawat, hotel, katering, tenda, dan semua keperluan di Mekkah juga Madinah harus ditalangi Sahrul.

“Bayangkan saja totalnya, dan saya harus mengembalikan dalam waktu satu bulan. Untung saya enggak bunuh diri ya, alhamdulillah saya masih punya iman,” tutur Sahrul.


Sahrul Gunawan mengaku bersyukur mampu bangkit dari kerugian Rp10 miliar.Sahrul Gunawan mengaku bersyukur mampu bangkit dari kerugian Rp10 miliar. (CNN Indonesia/Artho Viando)

Perlahan tapi pasti ia bangkit dan kembali menata bisnisnya dengan penuh kehati-hatian. Kini, bisnisnya pun sudah terkenal hingga ke pelosok daerah.

Dua tahun terakhir, Sahrul sudah tak lagi promosi menggunakan media massa. Ia lebih banyak merekrut agen di daerah-daerah guna menjaring jamaah. Kini, ia sudah memiliki 35 kantor mitra di berbagai daerah.

“Kalau ada judul sinetron Para Pencari Tuhan, kalau saya PPJ, para pencari jemaah,” ucap Sahrul.

Meninggalkan Keartisan

Bukan hanya agama, masyarakat Indonesia yang beragam ternyata jadi peluang pula bagi Sahrul. Ia menyebut, mayoritas jamaahnya datang dari pelosok daerah. Bahkan, beberapa tahun lalu, Sahrul mengaku 60 persen jamaah yang ia berangkatkan berasal dari Sulawesi.

Sahrul tak sungkan mengakui ia kini mengincar Indonesia Timur seperti Papua. Menurut dia, banyak Muslim di Papua yang memiliki kemampuan finansial cukup besar dan menaruh minat besar pada umroh.

“Ada suatu daerah yang ternyata mengandalkan dari hasil bumi. Pada saat mereka panen, ada yang bawa duit segepok-gepok sampai dimasukkan ke dalam karung. Pokoknya, mereka itu begitu datang, ditawarin apa aja nih pasti dibeli, termasuk umrah,” kata Sahrul.

[Gambas:Instagram]

Market saya sebetulnya luas sih, saya lebih senang mengurusi orang-orang daerah dibanding kota. Ya mungkin juga karena masih tertarik dengan keartisan saya. Dan saya juga merasa lebih berkah,” lanjutnya.

Bisnis Sahrul yang awalnya hanya memberangkatkan sekitar 100 jamaah satu dekade lalu, kini melonjak tajam dengan memberangkatkan 4.500 jamaah umrah tahun ini. Sahrul meningkatkan target itu agar tahun depan mampu mencapai lima ribu jamaah.

Dengan jumlah jemaah tahun ini, setidaknya Sahrul dapat mengantongi pendapatan kotor Rp103,5 miliar bila pelanggannya hanya memilih paket paling rendah yaitu Rp23 juta per orang.

Faktanya, Sahrul menyediakan sejumlah paket mulai dari Rp23 juta per orang hingga Rp47,9 juta.

Atas pendapatan itu, Sahrul pun mengaku menjadi pebisnis umroh lebih ‘gemerlap’ dan menguntungkan ketimbang menjadi selebriti.

“Kalau di umrah saya melihat jangka panjangnya, kalau artis ya sudah harus menyadari lah bahwa memang saya udah enggak di situ lagi,” kata Sahrul. (end)

https://images.cnnindonesia.com/visual/2014/10/02/f74e71a8-98bc-43ae-a54d-fe5767204fdb.jpg?w=650



Sumber Artikel

Komentar

comments