Serius Bisnis di Indonesia, Meizu Pilih Kedepankan Kualitas


Jakarta, CNN Indonesia
Untuk memulai bisnis di Indonesia, produsen ponsel pintar Meizu, memasang strategi bisnis yang berbeda dengan kompetitor. Brand Director Meizu Indonesia, Chen Shin mengaku pihaknya memiliki strategi dan target pasar yang berbeda dengan pembesut ponsel pintar lainnya.

Sebagai pendatang baru, Chen mengaku Meizu memilih untuk menyiapkan produk dengan spesifikasi yang menargetkan generasi milenial.

Untuk itu, Meizu akan menyiapkan ponsel yang memiliki spesifikasi mumpuni dan desain yang berbeda dengan ponsel pintar yang ada saat ini.

“Meizu memang baru berbisnis secara serius di Indonesia dan kami tidak akan menempuh strategi seperti kompetitor yang aktif melakukan kampanye offline. Kami akan fokus menawarkan produk terbaik untuk pengguna,” ungkap Chen usai peluncuran Meizu S7 Pro dan S7 Pro Plus di Zhuhai Opera House, China pada Rabu (26/7).

Selain menghadirkan ponsel yang sesuai dengan pengguna, Chen menyebut keseriusan Meizu yakni dengan mematuhi peraturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). Chen menyebut pihaknya sudah bekerja sama dengan pabrik asal Surabaya untuk perakitan ponsel Meizu.

“Saat ini ponsel Meizu yang dipasarkan di Indonesia juga sudah dirakit di Surabaya, sesuai dengan peraturan pemerintah. Kami memang lebih menitikberatkan pada aspek peranti keras untuk proses perakitan di Surabaya,” imbuh Chen.

Chen mengaku pihaknya berharap pasar Indonesia bisa memperkuat bisnis Meizu secara global. Sebab, saat ini tiga besar pasar utama bisnis Meizu ada di China, Rusia, dan Ukraina.

Pengembangan peranti lunak dan IoT

Selain mengembangkan peranti keras, Chen menegaskan strategi bisnis Meizu secara global kedepannya juga mengarah ke ranah peranti lunak. Hal itu menurutnya sudah dimulai dengan kemunculan peranti lunak untuk ponsel dan mobil pintar.

“Selain ponsel kami memang memproduksi aksesoris seperti earphone, bluetooth speaker, ransel, hingga perabotan rumah tangga pintar. Tapi fokus kami kedepannya juga mengarah ke pengembangan peranti lunak,” ucapnya.

Tren Internet of Things (IoT) menurutnya mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan menyematkan teknologi terbaru ke beragam perangkat.

Hanya saja, ia mengaku untuk ke arah adopsi IoT yang kian massif masih belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Teknologi yang menurutnya belum matang serta masyarakat yang belum bisa sepenuhnya mengadopsi IoT menjadi alasan utamanya. (evn)

https://images.cnnindonesia.com/visual/2017/07/27/da41fa5d-5dfd-46c3-9d99-168a418905a0.jpg?w=650



Sumber Artikel

Komentar

comments