Soliditas Lahir dari Hati


Kemeja putih lengan panjang pria itu masih digulung di bagian ujungnya. Wajahnya yang segar tampak semringah.

“Saya baru selesai salat. Sudah lama menunggu?” tanyanya dengan ramah.

Pria itu adalah Nariman Prasetyo, direktur utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (Wika Gedung). Dibalut celana panjang katun gelap yang dipadu sepatu kulit warna senada, eksekutif tersebut bersedia diwawancarai di sudut sebuah kedai makan di Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini.

Wika Gedung merupakan anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk yang bergerak di bidang properti, konstruksi gedung, dan investasi. Wika Gedung sedang menggarap sejumlah proyek properti di berbagai kota di Tanah Air, seperti Jakarta, Semarang, Solo, dan Surabaya.

Yang ditangani Wika Gedung termasuk proyek yang mengusung konsep transit oriented development (TOD) di Bekasi, Jawa Barat. Perseroan fokus pada pengembangan usaha melalui transformasi bisnis properti ke arah investasi dan konsesi.

Pada 2015, Wika Gedung mengantongi pendapatan Rp 1,92 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 143 miliar. Tahun ini, Wika Gedung berniat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan itu menargetkan dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham berkisar Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun.

Setidaknya ada 53 proyek yang sedang digarap Wika Gedung, mulai dari konstruksi bandara, rumah sakit, properti terpadu (termasuk apartemen), perkantoran, hotel, hingga konstruksi fasilitas olahraga.

Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya Nariman Prasetyo yang menakhodai Wika Gedung sejak 13 April 2017. Meski demikian, Nariman berupaya menjaga kehidupannya tetap seimbang. Untuk urusan ibadah, misalnya, ia selalu berusaha menunaikan kewajibannya sebagai Muslim. Eksekutif yang hampir tiga dekade berkarier di Wijaya Karya itu juga menyediakan waktu untuk umrah bersama keluarga.

Yang jelas, tidak ringan mengembangkan anak usaha BUMN di tengah ketatnya persaingan bisnis properti. Apalagi sejalan dengan perlambatan ekonomi belakangan ini, sektor properti juga melambat. Butuh inovasi, kreativitas, dan strategi jitu untuk membawa Wika Gedung menjadi perusahaan terdepan di sektornya. Semua itu hanya bisa terwujud jika Wika Gedung punya tim yang kuat dan solid. Bagaimana cara membangunnya?

“Soliditas tim bisa dibangun, kuat, dan sinergis jika tim memiliki keterikatan batin atau hati, selain terikat secara organisasi. Maka pendekatan kemanusiaan menjadi penting dalam membina kerja sama tim. Soliditas akan kuat jika lahir dari hati,” tutur pria kelahiran Bandung, 19 Oktober 1963 itu. Berikut wawancara dengannya:

Apa kunci Anda memajukan Wika Gedung?
Kuncinya adalah membangun kebersamaan tim. Soliditas tim dibangun lewat keterikatan secara hati, atau keterikatan batin, selain terikat secara organisasi perusahaan. Pendekatan kemanusiaan menjadi penting dalam membina kerja sama tim. Jadi, soliditas akan kuat jika lahir dari hati. Melalui pendekatan nilai-nilai seperti ini, saya optimistis Wika Gedung bisa tumbuh dan berkembang.

Implementasinya seperti apa?
Ada tiga kunci. Pertama, kepada bawahan, saya harus mampu menciptakan iklim kerja yang tenang, nyaman, dan benar, serta karyawan merasa dilindungi. Kedua, ke kanan dan kiri, yakni dengan sesama kolega, saya harus membangun solidaritas yang kokoh. Tidak ada celah untuk saling sikut. Ketiga, yakni ke atas, kepada para pemegang saham, saya buktikan bisa memenuhi target yang dicanangkan perusahaan. Kerja saya harus penuh semangat sehingga target tercapai, bahkan bisa lebih.

Tantangan Anda memimpin Wika Gedung?
Tantangan tentu saja selalu ada. Prinsip saya dalam menghadapi tantangan yang ada adalah dijawab dengan kerja keras. Kini, tantangan di depan mata salah satunya adalah membenahi sumber daya manusia (SDM). Saat ini, kami punya 300 karyawan tetap, sedangkan total karyawan, termasuk tenaga kontrak, sekitar 20.000 orang.

Pembenahan SDM yang menantang adalah terkait dengan tenaga kontrak yang tersebar di banyak proyek di sejumlah kota. Menyamakan etos kerja mereka merupakan sebuah tantangan tersendiri. Kami mengacu pada standard operation procedure (SOP) yang sudah diterapkan selama ini. Hal itu untuk membentuk karakter karyawan. SOP ini terutama terkait kualitas kerja yang unggul dan jadwal kerja yang pas sesuai target. Tidak boleh meleset.

Soal kualitas kerja, konkretnya bisa dijelaskan?
SDM kami harus mampu menjaga kualitas kerja yang sudah menjadi tradisi di Wijaya Karya. Kualitas baik, tetapi harga bersaing dibandingkan dengan kompetitor. Lewat itu semua, kami dapat memenuhi ekspektasi konsumen, sehingga mereka senang dan puas.

Selanjutnya, konsumen pun melakukan pemesanan atau pembelian ulang (repeat order). Contohnya seperti yang kami alami di Surabaya, Jawa Timur. Kami mendapat repeat order hingga kali kesembilan sejak 2009 dari Puncak Group. Kami sekarang sedang mengerjakan kontrak pembangunan central business district (CBD) Puncak di Surabaya.

Strategi Anda menyiasati bisnis properti yang sedang melambat?
Saat ini, kalau persaingan bisnis konstruksi relatif standar. Maksudnya, siapa yang bisa memenuhi ekspektasi konsumen maka dia yang menang. Untuk di properti, kini masalahnya bukan semata soal harga lebih murah, tetapi komitmen membangun dan penyelesaian proyek, itu hal yang utama.

Selain itu adalah membangun kemitraan dengan pihak lain, misalnya dengan para pemilik lahan. Juga selalu membuat inovasi dan strategi produk yang efisien. Terkait hal ini, kami menerapkan produk precast untuk fasad apartemen atau rumah susun. Teknologi ini memungkinkan mutu apartemen lebih baik. Lalu, lebih cepat waktu pengerjaannya dan lebih rapi, sehingga kami lebih unggul dari yang lain.

Bagaimana target kinerja tahun ini?
Wika Gedung memiliki sejumlah tonggak penting sejak dilahirkan pada 2008. Tonggak itu di antaranya adalah pada 2012 kami memosisikan diri sebagai perusahaan yang fokus mengejar keuntungan. Lalu pada 2017 kami mencanangkan sebagai perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa saham (listed company) dan pada 2021 kami ingin meraih posisi sebagai perusahaan kelas dunia. Persiapan untuk itu sedang berlangsung saat ini.

Di sisi lain, untuk tantangan tahun 2017, bagi kami adalah bagaimana memenuhi target pendapatan yang sekitar Rp 3,5 triliun. Hal ini juga terkait dengan tanggung jawab saya membawa perusahaan ini untuk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaram umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Apa untungnya menjadi listed company bagi Wika Gedung?
Sesungguhnya dari sisi good corporate governance (GCG), terutama menyangkut transparansi, saat ini pun sudah kami terapkan. Dari sisi ini dampaknya tidak terlalu drastis bagi kami. Nilai penting dari IPO dan menjadi listed company adalah membuat kami lebih terbuka, dikontrol oleh publik, serta sekaligus dinilai dan dilihat oleh publik. Bahkan, dapat dihukum oleh publik jika melakukan kekeliruan.

Di sisi lain, dana dari hasil IPO akan menambah ekspansi usaha kami. Saat ini, kami sedang mengerjakan 50-an proyek yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Tentu saja hal itu membutuhkan tambahan modal kerja. Salah satu sumbernya adalah dana hasil IPO tersebut.

 




Sumber: Investor Daily

http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/725×460-2/1504651946.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments