TREN BISNIS: Fakta Kebangkrutan 7-Eleven hingga Janji Manis Ketua OJK Wimboh Santoso : Okezone Ekonomi


JAKARTA – PT Modern International Tbk pernah membawa angin segar di bisnis retail Indonesia. Emiten tersebut menghadirkan Seven Eleven, minimarket dengan konsep convenience store. Namun itu cerita dahulu. Demam Sevel di kalangan kawula muda, sudah tamat karena bisnisnya justru berujung kebangkrutan. Tragedi bisnis itu cukup mengagetkan, mengingat bisnis retail di Indonesia termasuk tercepat di dunia. Bagaimana lika-liku Sevel, yuk ikuti di 6 Fakta Penting Bangkrutnya 7-Eleven

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan terpilih Wimboh Santoso berjanji, pihaknya akan mengupayakan agar anggaran lembaga itu tetap tidak mengandalkan anggaran negara, dengan menerapkan efisiensi besar-besaran di tubuh regulator sektor keuangan tersebut. Mengenai strategi yang akan dilakukan untuk mencegah OJK mengalami defisit anggaran setelah lembaga tersebut hanya mengandalkan pendanaan dari iuran industri jasa keuangan pada 2017 ini. Baca selengkapnya: Janji Manis Wimboh: OJK Tidak Dibiayai APBN 

Pada awal Juni, CEO Apple Tim Cook merilis foto toko yang akan segera dibuka di Taipei dalam akun Twitter.  Ini mungkin merupakan outlet ritel pertamanya, namun telah membuat perubahan signifikan di negara kepulauan tersebut. Berbagai produk dari lensa kamera yang sangat kecil untuk iPhone hingga charger untuk MacBook diproduksi di Taiwan. Para konglomerat yang memiliki perusahaan suplier komponen gadget ini mempertaruhkan keberuntungan mereka pada Apple yang telah menjadi perusahaan publik yang paling berharga di dunia. Baca selengkapnya: Fantastis! 11 Miliarder Taiwan Ini Kaya Raya Berkat Apple

Ketiga berita tersebut, menjadi berita-berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Bisnis Okezone.com. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

6 Fakta Penting Bangkrutnya 7-Eleven

PT Modern International Tbk pernah membawa angin segar di bisnis retail Indonesia. Emiten tersebut menghadirkan Seven Eleven, minimarket dengan konsep convenience store. Konsep yang berbeda dengan minimarket umumnya itu langsung tenar.

Pada awal kehadiran Sevel –demikian nama trennya— yang dilengkapi fasilitas wifi dan keju leleh gratis untuk camilan itu, langsung hits di kalangan anak muda dan juga pekerja kantoran. Sevel menjadi tempat tongkrongan gaul selama 24 jam yang selalu ramai.

Namun itu cerita dahulu. Demam Sevel di kalangan kawula muda, sudah tamat karena bisnisnya justru berujung kebangkrutan. Tragedi bisnis itu cukup mengagetkan, mengingat bisnis retail di Indonesia termasuk tercepat di dunia. Bagaimana lika-liku Sevel? berikut ini faktanya seperti dirangkum Okezone, Kamis (6/7/2017).

1. 7-Eleven Menutup Seluruh Gerainya Pada 30 Juni 2017

Penutupan gerai ini dilakukan setelah 7-Eleven sempat mendapat guncangan karena tingginya beban biaya operasional yang harus ditanggung.

Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, terdapat beberapa hal yang diperkirakan menjadi sebab dari kebangkrutan 7-Eleven. Salah satunya karena rencana bisnis yang dianggap terlalu progresif.

Baca juga: Analisis Menperin soal Kebangkrutan 7-Eleven

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa tumbangnya 7-Eleven disebabkan oleh unsur kesalahan model bisnis. Menurut Darmin, bisnis 7-Eleven terlalu mengandalkan profit perdagangan.

Baca juga : 7-Eleven Bangkrut, Menko Darmin: Ini Kesalahan Model Bisnis

2. Gagalnya Transaksi dengan Charoen Pokpand

Sebelumnya, Direktur MDRN Chandra Wijaya menyatakan, perseroan berencana melakukan transaksi material perseroan atas penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience di Indonesia dengan merek waralaba 7-Eleven beserta aset yang menyertainya kepada PT Charoen Pokpand Restu Indonesia senilai Rp1 triliun. Penjualan ini dilakukan lantaran bisnis retail tersebut menjadi beban bagi keuangan MDRN. Namun, transaksi tersebut batal karena tidak tercapainya kesepakatan atas pihak-pihak yang berkepentingan.

Baca Juga: Waduh! Charoen Pokphand Batal Ambil Alih 7-Eleven

3. Kans Ada tapi Salah Model Bisnis

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani menilai surutnya bisnis ritel 7-Eleven (7-Eleven), yang membuat semua tokonya ditutup, lantaran bisnis model seperti 7-Eleven tidak terlalu cocok berkembang di Indonesia.

Dia pun mencontohkan, rata-rata orang yang berbelanja ke 7-Eleven hanya membeli satu produk, kemudian menghabiskan waktu di 7-Eleven hingga berjam-jam. Akibatnya, permasukkan 7-Eleven tidak besar, namun mereka harus menanggung beban yang tidak sedikit.

“Orang beli satu coca-cola nongkrong dua-tiga jam, enggak sesuai bisnis modelnya. Kalau Indomaret, Alfamart tempat kecil, masuk, beli, masuk, beli, volumenya banyak,” jelas Rosan. Meski 7-Eleven gugur, namun dia melihat secara umum prospek industri ritel masih terbilang prospektif. “Masih baik, tapi memang bisnis modelnya saja kurang pas (kalau 7-Eleven),” ungkapnya.

Baca Juga: 7-Eleven Bangkrut, Kadin: Beli Minum 1, Nongkrongnya 2-3 Jam  

4. Penutupan Sevel Membuat Karyawan Terkejut

Tumbangnya bisnis waralaba Sevel cukup mengagetkan para karyawan. Salah seorang kasir gerai 7-Eleven yang enggan disebutkan namanya itu mengungkapkan, pemberitahuan dari manajemen pun terkesan mendadak.

“Dadakan sih (pemberitahuan soal penutupan gerai Sevel). Pada kaget juga kalau pada tutup semua. Pada enggak nyangka,” katanya di Jakarta, Jumat 23 Juni 2016.

5. Kurang Dukungan Pemerintah

Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Mande mengatakan, bangkrutnya 7-Eleven ini tak terlepas dari minimnya dukungan pemerintah. Akibatnya, 7-Eleven sulit melakukan ekspansi usaha hingga ke berbagai daerah.

“Ada aturan bahwa (minimarket) di bawah 400 meter persegi harus dimiliki lokal. Aturan ini perlu direvisi karena retail sulit ekspansi,” kata Roy kepada Okezone.

Menurutnya, pemerintah perlu mengeluarkan aturan yang lebih konkret dan mendukung perkembangan gerai retail modern di Indonesia. Jika tidak, kemungkinan gerai retail modern lainnya bernasib sama seperti 7-Eleven.

Baca Juga : Aturan Pemerintah Punya Andil Besar dalam Bangkrutnya 7-Eleven

“Tidak menutup kemungkinan jika pemerintah tidak antisipatif. Regulator perlu antisipatif terutama karena retail ini sedang ‘sakit’,” ujarnya.

6. Sektor Retail Tetap Berjaya

Tutupnya waralaba 7-Eleven tidak membawa dampak negatif bagi sektor ritel sejenis. Bahkan, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebagai pemilik gerai Alfamart tampak melaju positif. Analis Bahana Securities Muhammad Wafi mengatakan model bisnis yang dijalankan oleh Alfamart lebih sesuai dengan kondisi pasar Indonesia. Hal ini lantas mendorong kinerja fundamental perusahaan yang menunjukkan performa cukup baik. “Secara fundamental sendiri kami dari Bahana Securities masih tetap optimis dengan performa fundamental AMRT,” ujarnya kepada Okezone.

Baca Juga: Usai Tutupnya 7-Eleven, Saham Induk Alfamart Diprediksi Melaju Positif

https://img.okezone.com//content/2017/07/06/320/1730531/tren-bisnis-fakta-kebangkrutan-7-eleven-hingga-janji-manis-ketua-ojk-wimboh-santoso-RRLkqSDuda.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments