TV Berbayar terantuk bisnis video on demand


JAKARTA. Persaingan di bisnis TV berbayar agaknya semakin memanas. Selain harus banyaknya kompetitor, kini bisnis siaran TV tersebut berhadapan dengan fasilitas internet yang menawarkan varian menikmati konten.

Misalnya saja, variasi siaran lewat video on demand (VOD) yang disajikan lewat ponsel, komputer, atau personal computer atau disebut VOD berbasis OTT. Kini, banyak perusahaan telekomunikasi telah bekerja sama untuk menyediakan konten VOD ini.

Seperti PT Indosat Tbk (ISAT) yang telah menggandeng Iflix, kemudian Telkomsel menggandeng VideoMax, serta PT XL Axiata Tbk (EXCL) dengan Mox. Secara langsung, bisnis VOD tersebut berdampak kepada bisnis TV berbayar.

Brando Tengdom, Direktur Pemasaran dan Penjualan Transvision bilang, hadirnya VOD berbasis OTT merupakan tantangan yang tak bisa dihindari. Namun, Brando menilai, pangsa pasar TV berbayar dengan VOD berbeda.

“Ini kompetisi, tetapi masing-masing punya segmen yang,” jelas Brando kepada KONTAN, Kamis (16/2). Untuk itu, Brando bilang, penyedia TV berbayar mesti kreatif menjalankan bisnis, salah satunya caranya dengan menambah kanal siaran.

Saat ini, Transvision telah memiliki 111 kanal , dan kanal inilah yang menjadi kelebihan Transvision maupun TV berbayar. “Soal adanya gesekan, itu pasti ada. Tapi bisnis TV berbayar tetap hidup karena konsumen sukai multichannel,” imbuhnya.

Tak berhenti dengan 111 channel saja, tahun ini Transvision akan menambah konten baru seperti kanal Golf dan CNN Indonesia. Selain tambah konten, Transvision juga akan menerapkan strategi bundling.

Tahun lalu, Transvision menjual paket bundling dengan televisi. Tahun ini, ada rencana menjual paket bundling dengan AC dan kulkas. Nantinya, alat elektronik akan diperoleh dengan cara bersinergi dengan Transmart. Pihaknya juga bekerja sama dengan perusahaan afiliasinya seperti Bank Mega untuk pembayaran.

Dengan ragam promosi tersebut, Transvision berharap bisa mencatat jumlah pelanggan. “Sampai Desember 2016 ada 700.000 pelanggan, kami target akhir tahun ini naik jadi 1 juta pelanggan,” katanya

Optimisme bisnis TV berbayar juga disampaikan manajemen First Media. Liryawati, Direktur Hubungan Investor First Media bilang, saat ini pengguna TV berbayar Indonesia di bawah negara tetangga. Maka itu, bisnis TV berbayar masih terbuka lebar.

Agar bisa tambah pelanggan, First Media yang ada di bawah naungan Link Net ingin bikin paket bundling. “Seiring ekspansi network, penawaran TV berbayar bertambah,” kata Liryawati kepada KONTAN.

 

Tidak saling kanibal

Senada dengan Brando, bagi Liryawati, persaingan dengan VOD berbasis OTT tidaklah mengancam bisnis TV berbayar. Alasannya, segmen pasarnya berbeda sehingga tidak saling kanibal. “Fakta lain, memang ada banyak orang menggunakan VOD, tetapi ini bagus buat bisnis internet kami,” katanya.

Menurutnya, VOD kini banyak digunakan generasi milenia. Sementara TV berbayar masih banyak digunakan di generasi sebelumnya. Adapun Greeny Dewayanti, Direktur Komersial Orange TV menilai, VOD bisa mengganggu bisnis TV berbayar yang tahun ini diproyeksikan stagnan. Selain harus bersaing dengan VOD, bisnis TV berbayar juga bersaing dengan kompetitor yang kini semakin banyak.

 

http://photo.kontan.co.id/photo/2016/04/18/1238510313p.jpg



Sumber Artikel

Komentar

comments